Page 208 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 208

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                                                            Besarnya pengaruh tarekat ini
                                                                            di Indonesia dapat dilihat dari
                                                                            pengakuan      ulama-ulama     sufi
                                                                            terkemuka. Hampir semua mereka
                                                                            mengaku sebagai  pernah  diinisiasi
                                                                            ke dalam tarekat ini, baik di
                                                                            Nusantara maupun di Timur Tengah,
                                                                            ketika mereka menuntut ilmu. Pada
                                                                            masa yang lebih belakangan, tarekat
                                                                            ini berkembang secara lebih pesat,
                                                                            dalam bentuknya yang agak berbeda
                                                                            dari sebelumnya. Pada pertengahan
                                                                            abad ke-19, seorang ulama dari
                                                                            Kalimantan    yang   sudah    lama
                                                                            menetap di Makkah, Syaikh Ahmad
                                                                            Khatib Sambas, mulai mengajarkan
                                                                            tarekat Qadiriyah yang digabungkan
                                                                            dengan tarekat Naqsyabandiyah.
                                                                            Sehingga,     sebagaimana     akan
                                                                            digambarkan secara terpisah di
                                                                            belakang, membentuk semacam
                                                                            satu tarekat tersendiri.

                                                                            Adapun karya-karya yang menjadi
                                                                            rujukan tarekat Qodiriyah antara lain:
                                                                            Tafsir Al Jilani, al Ghunyah Li Thalibi
                                                                            Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Al-Fath
                                                                            ar-Rabbani,  Jala’ al-Khawathir, Sirr
                                                                            al-Asrar, Asror Al Asror, Malfuzhat,
                                                                            Khamsata  ”Asyara  Maktuban, Ar
           KItab Manaqib ‘Abd al-Qadir al-                                  Rasael, Ad Diwaan, Sholawat wal
           Jilani  yang ditulis dalam bahasa   Aurod, Yawaqitul Hikam, Jalaa al khotir, Amrul muhkam, Usul as Sabaa dan
           Sunda oleh Ahmad Sanusi.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.  Mukhtasar ulumuddin.




                                    Tarekat Rifa’iyah


                                    Tarekat Rifa’iyah didirikan Syaikh Ahmad Rifâ’i (1106-1182), ulama Arab dari
                                    Bani Rifa’ah di Irak Selatan, yang hidup semasa dengan ‘Abd al-Qadir al-Jilani.
                                    Ajaran  Rifa’iyah  antara  lain  tentang  asketisisme  (zuhd)  yang  dijadikan  dasar
                                    utama dalam mencapai tingkatan-tingkatan jalan (maqamat) menuju Allah.
                                                                                                             29
                                    Tarekat yang dikenal dengan zikirnya ini sampai sekarang masih berakar kuat
                                    di Mesir, Syria, dan lain-lain. Di Indonesia, tarekat ini dikenal masyarakat berkat
                                    peran dari  Nuruddin  al-Raniri.  Dalam perjalanannya, pengaruh tarekat ini




                    192
   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213