Page 204 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 204

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Demikian halnya dengan ulama-ulama besar Nusantara pada abad ke-16
               Ulama-ulama Jawi     dan 17, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-
                yang menuntut
               ilmu di Haramayn     Raniri, Abdurrauf Sinkel, dan Yusuf al-Makassari, merupakan tokoh-tokoh
              pada pertengahan      pertama yang yang menyebarkan tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Syattariyah, dan
              abad ke-19 hingga     Khalwatiyah sesuai dengan perkembangan tarekat di Haramayn; ulama-ulama
               awal abad ke-20
             merupakan katalisator   pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, seperti Abdussamad al-Palimbani,
                perkembangan        Muhammad Nafis al-Banjari, dan Abdurrahman al-Batawi adalah tokoh-tokoh
               tarekat Qadiriyah    yang menyebarkan tarekat Sammaniyah, sebuah tarekat yang sedang mekar di
              wa Naqsyabandiyah
                 dan tarekat        Haramayn pada masa itu; sementara ulama-ulama Jawi yang menuntut ilmu di
               Naqsyabandiyah       Haramayn pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan
                 Khalidiyah di      katalisator perkembangan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan  tarekat
                  Nusantara.
                                    Naqsyabandiyah Khalidiyah di Nusantara.

                                    Lebih dari itu penting dicatat bahwa di Nusantara, kerajaan-kerajaan Islam
                                    memang agak berbeda dengan dinasti-dinasti Islam di Timur Tengah, apalagi
                                    pada periode klasik. Di Timur Tengah, tasawuf dan juga tarekat adalah institusi
                                    yang berkembang di luar istana, dan bahkan seringkali menjadi oposan terhadap
                                    penguasa. Sebeliknya di Indonesia, tarekat pada mulanya merupakan bagian
                                    dari istana, dan istana diketahui cukup bertanggung jawab atas tersebarnya
                                    ajaran-ajaran tasawuf dan tarekat tertentu. Kalau para penguasa Islam di Timur
                                    Tengah pada masa klasik mengidentifikasi dirinya dengan aliran teologi dalam
                                    Islam dan mazhab fikih, di Nusantara identifikasi itu juga dilakukan kepada
                                    ajaran tasawuf dan atau kepada tarekat tertentu. 18

                                    Karena itu, di Nusantara tarekat pada mulanya berkembang di lingkungan istana
                                    dan setelah itu merembes ke kalangan awam. Para sufi dan guru tarekat itu
                                    merupakan ulama yang sangat dekat dengan kekuasaan. Beberapa di antaranya
                                    menduduki jabatan-jabatan penting dalam kerajaan Islam, seperti Hamzah al-
                                    Fansuri (w. 1600), Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630), Nuruddin al-Raniri (w.
                                    1668) dan Abdurrauf al-Sinkili (1675), semuanya bekerja di bawah lindungan
                                    pihak kerajaan, memangku jabatan syaikhul Islam dan kadi (qadi) Kerajaan Aceh
                                    Darussalam pada masa yang berbeda.  19

                                    Hamzah al-Fansuri adalah  qadi dan  mufti atau  syaikhul Islam Kerajaan Aceh
                                    Darussalam  pada  masa  pemerintahan  Sultan  Alauddin  Ri’ayat  Syah.  Jabatan
                                    serupa  dipegang  Syamsuddin  al-Sumatrani  pada  masa  pemerintahan  Sultan
                                    Iskandar Muda. Sementara Nuruddin al-Raniri adalah  qadi dan  mufti Aceh
                                    Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani. Abdurrauf Sinkel
                                    adalah  qadi dan pada masa pemerintahan Sultanah Saifatuddin. Para sufi
                                    lainnya, meskipun tidak duduk dalam jabatan keagamaan dalam kerajaan,
                                    dapat dipastikan mendapat respek dan penghormatan yang tinggi dari para
                                    penguasa. Kronika berbahasa Jawa dari Cirebon dan Banten menceritakan
                                    bagaimana pendiri dinasti raja sendiri mengunjungi tanah Arab dan berbaiat
                                                                     20
                                    menjadi pengikut sejumlah tarekat.





                    188
   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209