Page 201 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 201
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
tasawuf jenis ini mulai menemukan momentumnya antara abad ke-3 dan ke-4
dengan munculnya al-Husain ibn Mansur al-Hallaj dengan doktrin hulul-nya
pada tahun 309 H. Atas ajaran yang disampaikannya tersebut, al-Hallaj akhirnya
dihukum mati. Selain al-Halaj, beberapa tokoh lain yang diketahui menganut
tasawuf jenis ini adalah Syuhrawardi, Ibn Arabi, ‘Ayn a-Quddat al-Hamadani,
dan Syaikh Siti Jenar.
9
Menyangakut tarekat, secara harfiah tarekat (Arab, tariqah) berarti ”jalan”.
Dalam literatur sufi, tarekat mempunyai dua pengertian teknis. Dalam
pengertian pertama, tarekat berarti suatu metode keruhanian yang memberikan
bimbingan spiritual dalam mengarahkan kehidupan menuju kedekatan dengan
Tuhan. Tarekat dalam pengertian ini berupa jalan yang harus ditempuh atau
diikuti seorang salik (mistik) di mana sejumlah maqamat dan ‘ahwal harus
dilampaui untuk sampai kepada tujuan akhir, yaitu haqiqah. Pengertian tarekat
ini berkonotasi perseorangan (individual) di mana kehidupan sufistik menjadi ciri
utamanya, dan ini berkembang pada periode klasik Islam, tepatnya pada abad
ke-9 dan ke-19 M.
10
Periode selanjutnya menyaksikan munculnya berbagai macam ritual yang
diamalkan bersama-sama dalam kehidupan sufistik. Tujuan utama diciptakannya
ritual-ritual itu adalah untuk membawa orang kepada kedekatan diri, bahkan
perasaan bersatu (al-‘ittihad) dengan Sang Khalik. Itulah yang menjadi latar
belakang dibangunnya secara rinci etika dan tata-cara tarekat, termasuk di
dalamnya tata tertib dan pola hubungan murid dan syaikh, berkhalwat, tidak
tidur di malam hari untuk beribadah, tafakur, zikir kepada Allah, dan sebagainya.
Dalam konteks ini, tarekat mulai dipahami sebagai perjalanan yang mengikuti
jalur yang ada dan melalui tahap dan seluk-beluknya, menuju suatu tujuan
moral yang mulia.
11
Sejalan dengan makin mapannya berbagai macam teori dan amalan sufistik ini,
secara beruntun terjadi pula beragam perubahan penting dalam konsep kesufian
yang lebih praktis. Berubahnya konsep hubungan antara syaikh dan murid,
mulai abad ke-10, membuka jalan terbentuknya suatu persaudaraan yang lebih
formal dengan zawiyah, ribat, khanaqah atau tekke sebagai pusat kegiatannya.
Setelah konsep ‘ijazah (wewenang mengajar) atau khirqah diperkenalkan,
konsep silsilah dimunculkan guna menopang kokohnya sistem baru itu. Sebagai
unsur penting dari tarekat, silsilah menjadi semacam kartu nama dan legitimasi
sebuah tarekat yang akan menjadi tolak ukur sebuah tarekat itu mu’tabarah
(dianggap sah) atau tidak. Silsilah tarekat adalah ”nisbah”, hubungan guru
terdahulu sambung-menyambung antara satu sama lain sampai kepada Nabi.
12
Keterlibatan seseorang di dalam kehidupan tarekat dimulai dengan pengambilan
sumpah (bay’at) dari murid di hadapan syaikh, setelah sang murid melakukan
tobat dari segala maksiat. Setelah itu sang murid mulai menjalani tarekat,
185

