Page 199 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 199
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Makam Kandang XII.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Jenar) yang menganut doktrin realis. Dia kemudian ditentang oleh Nuruddin
ar-Raniri, Abdul Rauf Singkel, dan Sunan Bonang dari Jawa yang mengetahui
4
bahwa doktrin wahdatul wujud merupakan sufisme yang heterodoks.
Sejumlah prasasti yang
Lebih jauh, menarik dicatat bahwa sejumlah prasasti yang ditemukan di Batu ditemukan di Batu
Aceh (batu nisan jenis Aceh) mengandung pesan sufisme. Pesan itu menyangkut Aceh (batu nisan jenis
Aceh) mengandung
pandangan hidup sufi, kematian, dan perjalanan mistis jiwa menuju ”singgasana pesan sufisme. Pesan
Tuhan” untuk berkomunikasi dengan-Nya. Contoh-contoh dari batu nisan itu menyangkut
tersebut antara lain batu nisan Marhum Bardarah Puteh di Pagoh-Muar, batu pandangan hidup
nisan Sultan Alauddin Ri’ayat Shah (meninggal 1488) dari Malaka, batu nisan sufi, kematian, dan
Raja Fatimah dan Raja Jamil, dan Makam Nibong. 5 perjalanan mistis jiwa
menuju ”singgasana
Tuhan” untuk
Dalam perkembangannya, besarnya peranan para Sufi dalam Islamisasi Nusantara berkomunikasi dengan-
juga diakui secara luas oleh masyarakat Muslim Indonesia, misalnya melalui para Nya.
tokoh penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga (Wali
Sembilan). Meskipun, besarnya peranan Sufi tidak berarti bahwa dimensi fikih
diabaikan. Kedua dimensi tersebut merupakan satu kesatuan ajaran yang saling
melengkapi, terutama bagi penganut Islam tradisional. Sebagai bagian dari
ajaran Islam, Sufisme merupakan dimensi batin atau esoteris sementara syariat
adalah dimensi lahir atau eksoterisnya.
Demikianlah, besarnya peranan para Sufi dalam proses Islamisasi dan
perkembangan Islam di Indonesia, sebagaimana sudah dijelaskan, menyebabkan
karakteristik Islam Indonesia yang Sufistik. Karakteristik Sufistik tersebut secara
183

