Page 205 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 205

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Maka, jika di atas disebutkan bahwa sumber-sumber paling awal yang
           menyebut-nyebut bahwa tarekat berasal dari akhir abad ke-16, maka tokoh       Sumber-sumber paling
                                                                                         awal yang menyebut-
           yang paling pertama diketahui dikaitkan dengan tarekat adalah Hamzah al-      nyebut bahwa tarekat
           Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani yang hidup di akhir abad ke-16 dan awal   berasal dari akhir abad
           abad ke-17. Mereka berdua dikenal sebagai dua orang sufi yang mengajarkan       ke-16, maka tokoh
           tarekat Qadiriyah di Kerajaan Aceh. Menyusul setelah itu ulama-ulama Jawi yang   yang paling pertama
                                                                                          diketahui dikaitkan
           semakin ke belakang semakin besar jumlahnya, yang masing-masing membawa       dengan tarekat adalah
           dan mengajarkan tarekat-tarekat lainnya. 21                                     Hamzah al-Fansuri
                                                                                          dan Syamsuddin al-
                                                                                         Sumatrani yang hidup
           Sementara  Nuruddin  al-Raniri  (w.  1658)  adalah pengikut dan sekaligus guru   di akhir abad ke-16
                                                                                         dan awal abad ke-17.
           Tarekat  Rifa‘iyyah  dan  Idrusiyyah.  Adapun  Abdurrauf  Sinkel  (1615-1690),   Mereka berdua dikenal
           yang dikenal sebagai Syah Kuala, juga di Aceh, adalah khalifah utama Tarekat   sebagai dua orang sufi
           Syattariyyah di Nusantara. Dari Aceh tarekat tersebut berkembang ke berbagai    yang mengajarkan
           wilayah di Sumatera dan Jawa. Murid Abdurrauf Sinkel asal Jawa Barat, Abdul     Tarekat Qadiriyah
                                                                                           di Kerajaan Aceh.
           Muhyi, menjadikan tarekat dimaksud berkembang pesat di tanah Sunda.            Menyusul setelah itu
           Selanjutnya tarekat tersebut tersebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Tarekat   ulama-ulama Jawi
                                                                            22
           ini juga berkembang pesat di Sumatera Barat dan mendapat dukungan yang          yang semakin ke
                                                                                23
           kuat dari surau. Tarekat Syattariyyah menjadi sangat populer di Nusantara.      belakang semakin
                                                                                           besar jumlahnya,
                                                                                          yang masing-masing
           Pada akhir abad ke-18, kepopuleran Tarekat Syattariyyah di Asia Tenggara         membawa dan
           dikalahkan oleh Tarekat Sammaniyyah. Tarekat ini dinisbahkan kepada           mengajarkan tarekat-
                                                                                            tarekat lainnya
           seorang tokoh Sufi terkenal yang bernama Syekh Muhammad Samman dan
           sebetulnya merupakan gabungan dari beberapa tarekat seperti Qadiriyyah,
           Naqsyabandiyyah, Khalwatiyyah dan Syaziliyyah sehingga namanya pun
           bervariasi seperti Khalwatiyyah Samman, Tarekat Muhammad Samman, atau
           Sammaniyyah.

                                                                                       Makam Abdul Muhyi, Safarwadi
                                                                                       Pamijahan. Abdul Muhyi
                                                                                       merupakan pembawa Tarekat
                                                                                       Syattariyyah di Tanah Jawa.
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.



























                                                                                                 189
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210