Page 209 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 209
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
masih dapat dilihat di Aceh pada abad ke-19. Selain di Aceh, tarekat ini juga
30
berkembang di Minangkabau, Banten, Cirebon, dan Maluku, yang kepadanya Tarekat Rifa’iyah
didirikan Syaikh
sering dikaitkan dengan kultus kekebalan tubuh yang disebut ’debus’. Ahmad Rifâ’i (1106-
1182), ulama Arab dari
Bani Rifa’ah di Irak
Jejak-jejak tarekat Rifa’iyah lebih jelas terdapat di beberapa wilayah di Banten. Selatan, yang hidup
Tarekat ini diperkirakan pertama kali masuk dan berkembang di Banten pada semasa dengan ‘Abd
masa Sultan Aliyuddin (1777-1802). Pertama-tama ia menyebar di kalangan al-Qadir al-Jilani. Ajaran
istana dan elite kota kemudian menyebar ke kalangan penduduk yang lebih luas Rifa’iyah antara lain
tentang asketisisme
dan bahkan ke kalangan masyarakat awam. Perkembangannya menjadi sekadar (zuhd) yang dijadikan
debus, lebih disebabkan karena tidak adanya guru-guru besar yang memberi dasar utama dalam
dorongan-dorongan baru. Kiai Abdul Qadir, seorang guru keturunan Banten mencapai tingkatan-
tingkatan jalan
yang bermukim di desa Cibaregbeg, Cianjur, dikenal sebagai guru tarekat (maqamat) menuju
Rifa’iyah terakhir. 31 Allah. pengaruh
tarekat ini masih dapat
dilihat di Aceh pada
Kini, di desa-desa di Banten masih banyak ditemukan salinan naskah tentang abad ke-19.30 Selain
teks-teks liturgis yang sederhana (seperti ratib) dari tarekat Rifa’iyah. Di samping di Aceh, tarekat ini
juga berkembang di
itu, teknik-teknik kekebalan tubuh yang biasa disebut dengan debus diperoleh Minangkabau, Banten,
dari banyak sumber, tetapi yang paling berpengaruh adalah dari tarekat Cirebon, dan Maluku,
Rifa’iyah. Bahkan, di beberapa tempat masih terdapat kelompok-kelompok yang kepadanya sering
yang secara teratur mengamalkan zikir dan ratib tarekat Rifa’iyah, dengan atau dikaitkan dengan
tanpa latihan-latihan debus. Salah satunya adalah desa Sekong di Pandeglang, kultus kekebalan tubuh
yang disebut ’debus’
di mana dua kali seminggu, pada malam Jumat dan malam Senin, sebagian
warga desa berkumpul di masjid untuk melakukan zikir berjamaah seusai salat
isya’. Dalam kesempatan itu mereka membaca ratib Rifa’iyah, surat al-Ikhlash,
doa-doa, dan zikir. Akan tetapi, acara liturgis itu dipimpin oleh Mbah Juneid,
seorang pemimpin debus (yang di sini disebut dengan al-madad), yang mengaku
bukan syaikh tarekat, tetapi hanya pengikut biasa dari jejak langkah ayah dan
32
kakeknya.
Terkait kitan rujukan, kitab Shirath al-Mustaqim (jalan lurus) karangan Nuruddin
al-Raniri menjadi karya yang dirujuk oleh para anggota tarekat Rifa’iyah. Kitab
ini selain menekankan pentingnya syariat dalam praktik tasawuf juga berupaya
menegaskan perihal tugas utama dan mendasar setiap orang muslim dalam
hidupnya.
Tarekat Syattariyah
Berasal dari India, nama tarekat ini dinisbatkan kepada ulama pendirinya, yaitu
’Abd Allâh al-Syattar (w. 1428), seorang keturunan Shihab al-Din al-Suhrawardi,
ulama sufi terkenal. Salah satu ciri tarekat ini di tempat asalnya adalah mudahnya
tarekat ini menyesuaikan diri dengan tradisi dan kepercayaan lokal. Tarekat ini
33
dikenal dengan banyak nama, di antaranya tarekat “isyqiyah di Iran dan tarekat
193

