Page 214 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 214
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
orang-orang Asia Tenggara pada abad ke-18. Dia menggabungkan tarekat
Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah. Namun, silsilahnya
disebutkan dari Khalwatiyah, yang gurunya bernama Mustafa al-Bakri. 45
Tarekat Sammaniyyah di Nusantara umumnya menekankan pada ratib Samman
yang sangat populer. Lafaz-lafaz yang diucapkan dalam ritual diikuti dengan
gerak tubuh menurut aturan-aturan tertentu. Manaqib Syekh Muhammad
Samman juga sangat populer. Membaca dan mendengarnya dianggap sebagai
perbuatan berpahala sehingga tidak sedikit yang bernazar untuk membacanya
jika mendapat suatu keberuntungan atau terhindar dari malapetaka. Hal ini
menunjukkan betapa besarnya pengaruh Syekh Muhammad Samman dan
tarekat yang diajarkannya di kepulauan Nusantara. 46
Tarekat ini berhasil menarik beberapa murid Jawi, yang terkenal di antaranya
adalah Abdussamad al-Palimbani, Arsyad al-Banjari, Muhammad Nafis al-Banjari,
Abdurrahman al-Batawi, dan Abdul Wahhab al-Bugisi. Tarekat Sammaniyah
masuk dan berkembang ke Sumatera dibawa lima ulama tersebut. Dan mereka
pula yang bertanggung jawab atas tersebarnya ajaran dan tarekat Sammaniyah
di Nusantara. 47
Di Palembang, tarekat ini berkembang atas jasa Syaikh Abdussamad ibn
Abdullah al-Palimbani (w. sekitar 1800), seorang ulama Palembang terkenal
yang terkenal produktif menulis beberapa kitab dalam Bahasa Melayu seperti
Di Nusantara,Di Jakarta, Hidâyah al-Salikin dan Sayr al-Salikin. Di Masjid Kesultanan dan di masjid-masjid
Abdurrahman al-Batawi lainnya di Palembang, selain dilangsungkan upara peribadatan dan pengajaran,
menjadi tokoh sentral
yang memungkinkan dilangsungkan pula pembacaan ratib Saman, semacam zikir atau wirid yang
tarekat Sammaniyah dalam tradisi sufi dikerjakan secara teratur setiap selesai shalat isya pada malam
tersebar. Sedangkan Jumat. Pembacaan ratib ini cukup dikenal di masyarakat Palembang. Ratib itu
di Sumbawa, Idris
bin Utsman, salah diajarkan oleh Abdussamad al-Palimbani. Ratib itu ditulis oleh ulama Pelambang
seorang murid dari tersebut dengan judul Ratib Abdusdamad. Selain itu terdapat juga karya berjudul
Shidiq bin Umar Khan. Hikayat Keramat Syaikh Muhammad al-Saman dengan Ikhtisar oleh Muhammad
Di Sulawesi Selatan,
tarekat ini dibawa Muhyiddin ibn Syihabuddin dan kitab Nafahat al-Rahman fî Manaqib Ustadz al-
dan dikembangkan ’Am al-Samman. 48
oleh Abdullah al-
Munir. Sementara
itu, Muhammad bin Tercatat beberapa nama menjadi tokoh sentral yang mengembangkan tarekat
Sumbul al-Makki, salah ini di bebebapa daerah di Indonesia. Di Jakarta, Abdurrahman al-Batawi menjadi
seorang murid Syaikh tokoh sentral yang memungkinkan tarekat Sammaniyah tersebar. Sedangkan di
Muhammad Samman
asal Mekkah, tercatat Sumbawa, Idris bin Utsman, salah seorang murid dari Shidiq bin Umar Khan. Di
sebagai penyebar Sulawesi Selatan, tarekat ini dibawa dan dikembangkan oleh Abdullah al-Munir.
ajaran tarekaat ini di Sementara itu, Muhammad bin Sumbul al-Makki, salah seorang murid Syaikh
pulau Buton, Sulawesi
Tenggara. Muhammad Samman asal Mekkah, tercatat sebagai penyebar ajaran tarekaat
ini di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. 49
198

