Page 219 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 219
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
melibatkan diri dalam hal-hal kemasyarakatan. Oleh karena itu, karakter
keseluruhan neo-sufisme adalah “puritanis dan aktivis”. 58
Beberapa tarekat bergerak dengan prinsip tersebut, salah satunya adalah
tarekat Tijaniyah. Tarekat ini didirikan oleh Abu ’Abbas Ahmad ibn Muhammad
ibn Mukhtar al-Tijani (1737-1815), seorang ulama yang mengklaim dirinya
sebagai keturunan XXI Nabi Muhammad Saw, melalui Hasan ibn ’Ali ibn Abi
Thalib. Ulama ini lahir di ‘Am Madi, Aljazair Selatan, pada 1150 H/1737 M, dan
meninggal dunia pada 12 Syawal 1230 H/22 September 1815 M, dalam usia 80
tahun dan dimakamkan di Fez. 59
Setelah diinisiasi ke dalam beberapa tarekat, seperti Qadiriyah dan Khalwatiyah, Setelah diinisiasi
pada 1196 H/1781-2 M dia memproklamasikan berdirinya Tarekat Tijaniyah, ke dalam beberapa
tarekat, seperti
yang menurutnya atas “perintah” Rasulullah Saw. Dalam kesempatan Qadiriyah dan
“pertemuannya” dengan Nabi itu, Nabi Muhammad menetapkan bilangan Khalwatiyah, pada
wirid bagi tarekatnya, yaitu ‘istighfar 100 kali dan salawat 100 kali. Karena 1196 H/1781-2 M dia
memproklamasikan
langsung atas perintah Rasulullah, maka tarekatnya ini juga dinamakan berdirinya Tarekat
Tarekat Muhammadiyah. Tarekat yang menentang pengkultusan para wali ini Tijaniyah, yang
mendapatkan banyak pengikut di Mesir, Afrika Barat, Sudan, dan beberapa menurutnya
daerah di Asia. 60 atas “perintah”
Rasulullah Saw.
Dalam kesempatan
Tarekat ini masuk pertama kalinya ke Indonesia pada 1920-an, disebarkan di “pertemuannya”
dengan Nabi itu,
Tasikmalaya, Jawa Barat, oleh seorang ulama Arab dari Madinah, ‘Ali ibn ‘Abd Nabi Muhammad
Allah al-Thayyib al-Azhari, pengarang buku yang berjudul Kitab al-Munyah fi al- menetapkan bilangan
Tarîqah al-Tijâniyyah. Setelah itu, tarekat ini segera menyebar ke daerah-daerah wirid bagi tarekatnya,
lain di Indonesia, terutama di Cirebon, Garut, Cianjur, Ciamis, Brebes, Tegal, yaitu ‘istighfar 100 kali
dan salawat 100 kali.
Pekalongan, Madura, dan ujung timur Jawa Timur. Di Cirebon, penyebarannya Karena langsung atas
dipercayakan kepada Kiai Muhammad Rais. Di Jawa Timur, meski mendapat perintah Rasulullah,
maka tarekatnya ini
tantangan dari tarekat-tarekat lain yang lebih dahulu berkembang di sana, juga dinamakan Tarekat
tarekat ini berkembang pesat. Tokoh yang berjasa menyebarkan tarekat ini di Muhammadiyah.
Jawa Timur di antaranya adalah Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Futi, seorang ulama Tarekat yang
menentang
yang berasal dari Arab. 61 pengkultusan para
wali ini mendapatkan
Tidak hanya di Jawa Timur, karena penyebarannya yang cepat, tareket ini juga banyak pengikut di
Mesir, Afrika Barat,
telah menimbulkan penentangan dan penolakan dari tarekat-tarekat lain yang Sudan, dan beberapa
telah berkembang sebelumnya di Indonesia, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, daerah di Asia.
Syattariyah, Syadziliyah, dan Khalwatiyah. Oleh karena itu, pada Agustus 1931,
dalam Muktamar VII NU dki Cirebon, tarekat ini dibahas dengan cukup alot
dan akhirnya oleh KH Hasyim Asy’ari tarekat ini dinyatakan sebagai tarekat
mu’tabarah.
62
Dewasa ini, terutama karena peran Pesantren Buntet, tarekat Tijaniyah memiliki
banyak pusat penyebarannya di Cirebon dan sekitarnya, seperti di Plered,
Sidamulya, Kasepuhan, Pesawahan, Klayan, dan Kuningan. Dari sana pula
tarekat ini menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Pekalongan, Brebes
203

