Page 221 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 221

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           itu, Kiai Abdul Fattah mengganti nama tarekat ini menjadi tarekat Idrisiyah.
           Dalam perkembangannya, dialah yang bertindak sebagai guru mursyid pertama
           tarekat ini di Indonesia. 67

           Tarekat Idrisiyah ini di Pagendingan, Tasikmalaya, tempat Kiai Abdul Fattah
           mendirikan pesantren dan sekaligus merupakan pusat aktivitas tarekat Idrisiyah,
           tidak melakukan aktivitas politik. Dia hanya difokuskan pada aktivitas sosial-
           keagamaan. Sebagaimana lazimnya sebuah tarekat, tarekat Idrisiyah menuntut
           para  pengikutnya  untuk  membaca  zikir,  latihan  jiwa  (riyadah)  dan  berjuang
           melawan hawa nafsu (mujahadah).  68


           Namun, aktivitas sosial-keagamaan itu tidak menghalangi pendiri dan pengikut
           tarekat ini untuk berperan serta dalam perjuangan melawan Belanda, ketika
           bangsa  membutuhkan.  Kiai  Abdul  Fattah  terlibat  langsung  mengangkat
           senjata melawan Belanda. Pada 1945, ia bertindak menjadi komandan kompi
           istimewa  tentara  Hizbullah.  Pada  1947,  Kiai  Abdul  Fattah  meningga  dunia,
           dan kepemimpinan pesantren dan tarekat diwariskannya kepada putranya,
           Muhammad Dahlan. Pada 1965 saat terjadi Gerakan 30 September, Muhammad
           Dahlan beserta para santrinya pernah dipersenjatai pemerintah untuk turut ambil
           bagian dalam usaha mempertahankan negara dari gerakan ”pemberontakan”.
           Setelah masa kekacauan dalam negeri mereda, ia mulai mengajarkan tarekatnya
           secara terbuka yang dimulai di kabupaten Tasikmalaya dan Jakarta (daerah Batu
                                            69
           Tulis, Pasar Baru) secara bersamaan.
           Sejauh ini beberapa kitab yang menjadi rujukan para anggora tarekat adalah
           kitab  Khazinatul-Asrar  karya Sayyid Muhammad Haq an-Nazili,  Fawaidul-
           Makkiyah karangan Sayyid Alwi bin Assegaf, Bughzatul-Mustarsyidiin karangan
           Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, Syarah Safinatun-
           Naja karangan Syekh Nawawi al-Bantani,  Ibanatul-Ahkam karangan Hasan
           Sulaiman an-Nury, dan tentunya Hadiqoh ar-riyahin karangan Syekh Akbar. 70
                                                                                          Di samping beberapa
                                                                                         tarekat yang memiliki
                                                                                         pengikut cukup besar,
                                                                                         masih banyak tarekat-
           Tarekat Lokal                                                                 tarekat lain yang juga
                                                                                          tumbuh di Indonesia,
                                                                                         sebagian bersifat lokal,
           Di samping beberapa tarekat yang memiliki pengikut cukup besar, masih banyak   tidak ortodoks, dan
           tarekat-tarekat lain yang juga tumbuh di Indonesia, sebagian bersifat lokal,    sinkretik, sehingga
                                                                                           musthail menarik
           tidak ortodoks, dan sinkretik, sehingga musthail menarik garis pemisah yang    garis pemisah yang
           jelas  antara  tarekat  lokal  ini  dengan  gerakan  kebatinan,  kecuali  karakteristik   jelas antara tarekat
           keterikatan ekspilisit tarekat tersebut dengan tradisi Islam. 71                 lokal ini dengan
                                                                                          gerakan kebatinan,
                                                                                          kecuali karakteristik
           Salah satu tarekat lokal yang berpengaruh pada akhir abad ke-19 adalah terekat   keterikatan ekspilisit
           Akmaliyah. Tarekat ini diajarkan oleh Kiai Kahfi yang berpusat  di Garut, dan    tarekat tersebut
           dikembangkan oleh putranya Asep Putrawijaya. Pada abad ke-19, tarekat ini      dengan tradisi Islam.






                                                                                                 205
   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226