Page 211 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 211

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
































                                                                                       Situs makam Syeh Burhanuddin,
                                                                                       penyebar Tarekat Syattariyyah di
                                                                                       Sumatera Barat
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.





           muridnya inilah yang bertanggungjawab atas tersebarnya tarekat Syattariyah
           di banyak wilayah di Nusantara. Yang terkenal di antaranya adalah Syaikh
           Burhanuddin (1646-1692), yang dikenal dengan Tuanku Ulakan, sebuah desa di
           pantai Minangkabau. Setelah pulang dari Aceh dan belajar dari Abdurrauf, dia
           mendirikan surau, lembaga pendidikan Islam khas Minangkabau, di mana dia
           mengajarkan dan menyebarkan tarekat Syattariyah. 36

           Murid Abdurrauf lain yang juga tercatat aktif mengembangkan tarekat
           Syattariyah adalah Syaikh Abdul Muhyi asal Jawa Barat, yang biasa disebut
           dengan al-Garuti, yang sangat aktif menyebarkan tarekat Syattariyah. Setelah
           menuntut ilmu, dia menetap di Karang, Pamijahan, Jawa Barat. Melalui dirinya
           banyak silsilah tarekat ini di Jawa dan Semenanjung Melayu. Lebih jauh, ada pula
           Abdul Malik ibn Abdullah (1678-1736) asal Trengganu, Semenanjung Melayu,
           yang lebih dikenal dengan Tok Pulau Manis dan Daud al-Jawi al-Fansuri, yang
           bersamanya mendirikan dayah di Banda Aceh dan ditunjuk menjadi khalifah
           utamanya. 37


           Pada masa itu, tarekat Syattariyah lebih populer di kalangan murid-murid Jawi
           di Haramayn. Ini kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab
           Tuhfah yang menyatu dengan tarekat ini. Secara umum tarekat ini tidak begitu
           mementingkan segi syariah dan juga tidak menekankan kewajiban salat lima
           waktu, tetapi mengerjakan salat permanen. Dalam tarekat ini, dasar intelektual







                                                                                                 195
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216