Page 207 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 207
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
pasir Irak. Akhirnya, dia mengajar pada sebuah madrasah dan ribat (lembaga Tarekat ini merupakan
pendidikan tasawuf). Ajaran-ajaran tasawufnya terangkum dalam beberapa salah satu tarekat tua
karya tulisnya, di antaranya adalah al-Fath al-Rabbani dan Futuh al-Ghayb, yang pengaruhnya
berupa kumpulan khutbah; Fuyudat al-Rabbâniyyah fî al-Awrad al-Qadiriyyah sangat besar
dan Hizb Basa’ir al-Khayrat, berupa kumpulan wirid dan zikir, serta al-Ghunya li hingga kini. Daerah
penyebarannya,
Talib Tarîq al-Haqq, sebuah risalah tasawuf. selain Baghdad,
adalah Yaman, Mesir,
Sudan, Maroko, Afrika
Tarekat ini merupakan salah satu tarekat tua yang pengaruhnya sangat besar Barat, India, dan Asia
hingga kini. Daerah penyebarannya, selain Baghdad, adalah Yaman, Mesir, Tenggara. Tarekat ini,
Sudan, Maroko, Afrika Barat, India, dan Asia Tenggara. Tarekat ini, sebagaimana sebagaimana telah
telah disebut di atas, dibawa masuk ke Indonesia oleh Hamzah Fansuri dan disebut di atas, dibawa
masuk ke Indonesia
25
Yusuf al-Makassari yang pernah belajar kepadanya. Tarekat ini adalah tarekat oleh Hamzah Fansuri
pertama yang disebut-sebut dalam sumber pribumi Nusantara, dan ulama dan Yusuf al-Makassari
Nusantara pertama yang diinisiasi ke dalam tarekat ini adalah Hamzah Fansuri. yang pernah belajar
26
kepadanya
Disinyalir, dia dibaiat ke dalam tarekat Qadiriyah ini ketika sedang berada di
Baghdad. Sesuai dengan jabatannya di dalam Kerajaan Aceh Darussalam, dapat
dipastikan bahwa dialah ulama yang paling bertanggung jawab atas penyebaran
tarekat ini di Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Diduga keras bahwa tarekat
ini pula yang kemudian dikembangkan oleh murid dan pengikut sekaligus
pelanjutnya, Syamsuddin al-Sumatrani.
Ada indikasi bahwa setelah ditinggal oleh dua ulama besar Aceh, Hamzah
Fansuri (wafat kira-kira 1590-an) dan Syamsuddin al-Sumatrani, tarekat
ini bertahan di Aceh sampai lama. Ulama besar yang menjadi mufti kerajan
Aceh Darussalam setelah mereka berdua adalah Nuruddin al-Raniri. Meskipun
dipandang sebagai ulama yang membawa dan menyebarkan tarekat Rifa’iyah
di Nusantara, dia juga mempunyai silsilah inisiasi dari tarekat Aydarusiyah dan
tarekat Qadiriyah. Murid al-Raniri yang paling menonjol di Nusantara adalah
Syaikh Yusuf al-Makassari. Menurut pengakuannya sendiri, Syaikh Yusuf al-
Makassari diinisiasi ke dalam tarekat ini oleh Nuruddin al-Raniri pada 1645 di Syaih Ahmad Khaib Sambas
Aceh. Di dalam karyanya, Safînah al-Najah, Yusuf mengatakan silsilah tarekat mengajarkan Tarekat Qodiriyah
Qadiriyah darinya. Melalui Syaikh Yusuf al-Makassari pula tarekat ini kemudian yang digabung dengan Tarekat
tersebar ke Sulawesi Selatan. Naqsabandiyah.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
Di tanah Jawa, pengaruh tarekat ini tampaknya sudah lama tertanam dan
dikenal luas, terutama di Cirebon dan Banten. Salah satu indikasinya adalah
tradisi pembacaan Manaqib ‘Abd al-Qadir al-Jilani pada kesempatan-
kesempatan tertentu. Pembacaan manaqib ini lazim dianggap berfaedah
melindungi pembacanya terhadap segala bahaya, berkat karamah Syakh ‘Abd
al-Qadir al-Jilani, dan sampai sekarang masih sering dilakukan di berbagai
daerah di Indonesia. Terjemahan dalam bahasa Jawa yang pertama (biasanya
dikenal dengan judul Hikayat Seh) diperkirakan dilakukan di Banten pada abad
27
ke-17. Indikasi lainnya adalah ditemukannya cap raja Banten pada sebuah
piagam tahun 1755 menyebut sultan “al-Qadiri” yang menunjukkan afiliasinya
dengan tarekat Qadiriyah. 28
191

