Page 227 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 227

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Lafaz-lafaz dzikir yang diucapkan dalam beratib beamal di atas adalah gerakan   Lafaz-lafaz dzikir
           tarekat atau, paling tidak, memiliki keterkaitan yang erat dengan Tarekat     yang diucapkan dalam
           Sammaniyyah. Ini diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa Pangeran Antasari,       beratib beamal di atas
           salah seorang pemimpin perlawanan tersebut, menamakan seorang putranya        adalah gerakan tarekat
                                                                                           atau, paling tidak,
           Muhamad Seman.                                                                 memiliki keterkaitan
                            81
                                                                                           yang erat dengan
           Melacak perjalanan tarekat Sammaniyyah, diketahui bahwa dalam melancarkan     Tarekat Sammaniyyah.
                                                                                         Ini diperkuat lagi oleh
           aksi pemberontakan kepada Kolonial, mereka menggunakan beragam cara,            kenyataan bahwa
           termasuk menulis buku jihad yang cenderung “propagandis”. Hal itu dilakukan    Pangeran Antasari,
           misalnya oleh pemimpin Tarekat Sammaniyyah terkenal Syekh Abdussamad al-          salah seorang
           Palimbani. Ia menulis sebuah risalah berbahasa Arab tentang keutamaan jihad   pemimpin perlawanan
                                                                                         tersebut, menamakan
           yang berjudul Nashihah al-Muslimin wa Tadzkirah al-Mu’minin fi Fadhail al-Jihad   seorang putranya
           fi Sabil Allah (‘Nasihat bagi kaum Muslim dan Peringatan bagi Kaum Mukmin       Muhamad Seman
           tentang keutamaan Jihad di Jalan Allah’). Di samping itu, ia juga menulis surat
           kepada sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Susuhunan Prabu Jaka (Putra
           Amangkurat IV) yang berisi dorongan untuk berjihad.

           Beberapa kasus di atas memberi sinyal kuat bahwa tarekat-tarekat yang
           berkembang di Indonesia, khususnya pada era kolonialisme Belanda,
           sangat aktif melakukan pergerakan. Inilah mengapa beberapa pengamat
           Islam menggolongkan kelompok tarekat di masa kolonial sebagai pengikut
           neo-Sufisme, yang  memang berbeda dengan tasawuf yang berkembang
           sebelumnya. Neo sufisme memiliki karakteristik aktivis dan itu dapat dilihat
           pada keterterlibatan mereka dalam banyak pemberontakan melawan kolonial
           Belanda.


           Sehubungan dengan itu, antara 1888 dan 1926, pemerintah Hindia Belanda
           memberi perhatian cukup besar terhadap perkembangan tarekat. Aktivitas
           tarekat diawasi, diperketat, dan para pengikutnya dicurigai sebagai orang
           fanatik yang menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Sejak lama, di kalangan
           masyarakat Belanda di Indonesia telah tumbuh rasa ketakutan terhadap tarekat,
           karena mereka yakin bahwa gerakan tarekat bisa digunakan oleh pemimpin-
           pemimpin fanatik sebagai basis kekuatan untuk memberontak. Kebanyakan
           penguasa  kolonial  mengecap  tarekat  sebagai  musuh  utama  bagi  kekuasaan
           Belanda di Indonesia. Akibatnya, para pejabat Belanda selalu berjaga-jaga dan
           mencari informasi mengenai kegiatan-kegiatan tarekat, tanpa memilah-milah
           antara guru-guru tarekat dan pengikut-pengikutnya yang terlibat dan yang
           tidak terlibat dalam pemberontakan.
                                             82
           Bahkan, setelah peristiwa pemberontakan di Banten pada 1888, penguasa
           Belanda  melarang  semua  bentuk  kegiatan  tarekat. Akan  tetapi, pelarangan
           tersebut dinilai oleh Snouck Hurgronje sebagai kebijakan yang keliru karena
           tarekat di Nusantara sangat berakar dan berpengaruh kuat dalam kehidupan
           masyarakat dan tidak mungkin dilarang dan dihapus. Pada akhir 1889, Snouck
           Hurgronje berjalan keliling pulau Jawa karena terkesan oleh kenyataan bahwa
           pemerintah Belanda memburu guru-guru agama, termasuk guru tarekat.  83



                                                                                                 211
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232