Page 294 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 294
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
10 Harus dicatat di sini bahwa ‘Abduh membuat penjelasan atas sejumlah ayat Qur’an.
Rashīd Ridā, yang menghadiri dan mencatat kuliah-kuliah ‘Abduh di al-Azhar, melanjutkan
karyanya setelah ‘Abduh meninggal pada 1905. Tafsīr al-Manār, judul lengkapnya Tafsīr
al-Qur’ān al-Hakīm al-Mushtahar bi Tafsīr al-Manār, pertama kali terbit tahun 1925. Untuk
pembahasan mengenai asal-usul tafsir ini, lihat J.J.G. Jansen, The Interpretation of the
Koran in Modern Egypt (Leiden: E. J. Brill, 1974) hal. 20-21, 23-24. Lihat juga Charles
Adams, Islam and Modernismin Egypt, (London: Oxford University Press, 1933), hal.273.
11 Martin Van Bruinessen, “Kitab Kuning: Books in Arabic Script Used in the Pesantren
Milieu,” Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 146 (2/3), hal.253-254.
12 Lihat al-Imam, vol. 2, No. 3, 1908.
13 Lihat al-Imam, 2, Juli, 1908.
14 Lihat al-Imam, 1, Juli, 1906.
15 Mustafā Kāmil, al-Shams al-Mushriqa (Kairo: 1904)
16 Untuk pembahasan tentang hal ini, lihat Michael F. Laffan, “Watan and Negeri: Mustafā
Kāmil’s ‘Rising sun’ in the Malay World’, Indonesia Circle 69, 1996, hal. 156-175; Laffan,
Islamic Nationhood, hal. 160-165. Hal ini mengindikasikan pengaruh Meiji Jepang yang
tengah muncul dalam pembentukan nasionalisme di Indonesia, sebagaimana juga dalam
kasus Kairo. Untuk suara-suara yang berorientasi-Tokyo dalam al-Imam, lihat Barbara
Watson Andaya, “From Rūm to Tokyo: The Search for Anticolonial Allies by the Rulers of
Riau, 1899-1944”, Indonesia 24, 1977, hal.123-156.
17 Lihat al-Imam, 5, Oktober, 1908.
18 Tentang ini lihat Francis Robinson, “Technology and Religious Change: Islam and the
Impact of Print”, Modern Asian Studies, 27, I, 1993, hal.229-351; Barbara D. Metcalf,
Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900, Princeton: Princeton University Press,
1982), hal.198-234. Lihat juga Adeeb Khalid, “Printing, Publishing, and Reform in Tsarist
Central Asia”, IJMES, 26, 2, 1994, hal.187-200.
19 Mukti Ali, Interpretasi tentang Amalan-Amalan Muhammadiyah, (Jakarta: Pimpinan
Pemuda Muhammadiyah Daerah Djakarta, 1958), hal. 28.
20 Roff, The Origin of Malay,…hal.66.
21 Untuk pembahasan tentang sekolah ini, lihat al-Imam, vol. 21, no. 3, 4, 7, dan 8; 9
September dan 7 Oktober 1907, 5 Januari dan 4 Februari 1908. Lihat Hamzah, Al-Imam:
Its Role…..hal.73-9; Laffan, Islamic Nationhood, hal. 150, 255-6. Akan tetapi, sekolah
ini tidak bertahan lama. Menghadapi perlawanan dari kaum tua tradisionalis, sekolah ini
direlokasi ke wilayah Riau dengan nama baru, Madrasah al-Ahmadiyah, dan berdiri sampai
1909.
22 Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, (Kuala Lumpur:
Oxford University Press, 1973), hal. 30. Sementara di wilayah-wilayah Melayu yang kini
Malaysia, reformisme Singapura juga mempunyai pengaruh kuat. Di bidang penerbitan, ini
dapat dilihat dari kemunculan majalah dan koran-koran setelah al-Imam. Pada 1911, Haji
Abbas bin Toha, eksponen al-Imam, mulai menerbitkan majalah pembaharuan Neratja. Di
Penang, majalah pembaharuan al-Ikhwan dan Saudara juga diterbitkan. Majalah-majalah
tersebut, seperti majalah dan penerbitan lainnya, mengusung kelanjutan semangat
pembaharuan yang dikembangkan oleh al-Imam. Lihat Roff, Bibliography of Malay,…hal.
11-4; Roff, The Origin of Malay,…hal.75-87.
23 Ahmat bin Adam, The Vemacular Press and tlie Emergence of Modern Indonesian
Consciousness (1855-1913), (Ithaca: Southeast Asian Programm Cornell University, 1995),
hal.140. Harus dijelaskan di sini bahwa al-Munir adalah majalah pertama yang terbit
setelah al-Imam di Indonesia. Di Malaysia, Neratja muncul tahun 1911 dan Tunas Melayu
tahun 1913, keduanya oleh H. Abbas, mantan redaktur al-Imam. Lihat Roff, Bibliography
of Malay,…hal.7-8.
278

