Page 293 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 293
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Endnotes
1 Jajat Burhanudian, “Islamic Knowledge, Authority and Political Power: The Ulama in
Colonial Indonesia,” disertasi Ph.D, (Leiden: Universiteit Leiden, 2007), hal. 200.
2 Jajat Burhanudin, “Ulama dan Politik Pembentukan Umat: Sekilas Pengalaman Sejarah
Indonesia,” kata pengantar dalam Jajat Burhanudin dan Ahmad Baedowi (ed), Transformasi
Otoritas Keagamaan: Pengalaman Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2003), hal. 28.
3 Sayid Syekh bin Ahmad al-Hadi lahir di Malaka dari ibu Melayu dan ayah Melayu-Arab
keturunan Hadrami. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di Kuala Trengganu, dia
pindah ke Pulau Penyengat di Riau, di mana ayahnya mempunyai hubungan kerajaan.
Di sini, dia diangkat anak oleh Raja Ali Kelana bin Raja Ahmad, anggota elit penguasa
Kerajaan Riau-Lingga. Oleh karena itu, pendidikannya dilanjutkan sebagai putera kerajaan.
Sayid al-Hadi menyaksikan kemunculan Pulau Penyengat sebagai pusat kebangkitan
kembali kebudayaan Melayu di akhir abad ke-19 yang memberinya kesempatan untuk
mengakrabi wacana-wacana keislaman ulama terkemuka, khususnya yang bergabung
dengan Persekutuan Rushdiyyah pada tahun 1890. Lihat juga Virginia Matheson, (1989)
“Pulau Penyengat: Nineteenth Century Islamic Centre of Riau”, Archipel 37: 153-72;
Alimuddin Hassan Palawa, “The Penyengat School: A Review of the Intellectual Tradition
in the Malay-Riau Kingdom”, Studia Islamika, vol. 10, no. 3: 2003, hal. 97-12. Perlu juga
dicatat, hubungannya dengan pembaharuan Islam dimulai saat ia mengunjungi Mekkah
dan Kairo, dengan Thaher Djalaluddin, sebagai pemandu sanak keluarga kerajaan Sultan
Riau-Lingga yang mendaftar di sekolah persiapan pribadi di Kairo. Dari sana ia tak hanya
tertarik, tapi juga terlibat dalam pembaharuan Islam di Asia Tenggara. Untuk gelar dan
karier Sayid al-Hadi, lihat William Roff, The Origin of Malay Nationalism, (Kuala Lumpur:
Oxford University Press, 1967), hal.62-3; Michael F. Laffan, Islamic Nationhood and Colonial
Indonesia: The Umma Below the Wind, (London and New York: RoutlaedgeCurzon, 2003),
hal.19-30; Abu Bakar Hamzah, Al-Imam: Its Role in Malay Society 1906-1908, (Kuala
Lumpur: Pustaka Antara, 1991), hal.5.
4 Haji Abbas bin Muhammad Taha lahir di Singapura pada 1885, dan kemungkinan berasal
dari keturunan Minangkabau. Setelah belajar di Mekkah, dia kembali ke Singapura pada
1905, di mana dia menjadi guru agama dan kemudian (tahun 1906) menerbitkan kumpulan
petikan-petikan homiletik dari karya-karya pendidikan Mesir dan Syria, Sempurna Pelajaran
(1906). Dia terlibat dalam al-Imam sebagai asisten redaktur dan pada tahun 1908 sebagai
redaktur. Setelah al-Imam berhenti terbit tahun 1908, kariernya berlanjut dan di tahun
yang sama dia diangkat menjadi kadi distrik Tanjong Pagar di Singapura. Sementara itu,
perhatian pembaharuannya masih berlanjut; pada 1911 dia menerbitkan Neratja dan
kemudian Tunas Melayu pada tahun 1913. Di tahun 1940 dia kemudian diangkat sebagai
muftī Pahang. Lihat Roff, The Origin of Malay,…hal. 63-64).
5 Sosok penting lain di balik penerbitan al-Imam adalah Syekh Muhammad Salim al-Kalili.
Dia lahir di Cirebon dan kemudian diduga memainkan peranan penting dalam Perang
Aceh. Seperti yang dipublikasikan al-Imam, dia adalah penduduk Singapura. Perannya di
al-Imam lebih sebagai pengusaha yang menyokong penerbitan al-Imam secara finansial
ketimbang sebagai sarjana atau penulis. Selain itu, ada juga Encik Abdullah bin Abdul
Rahman dari Muar, tapi tak banyak diketahui tentangnya. Lihat Roff, The Origin of Malay,…
hal.32-9, 64; William Roff, Bibliography of Malay and Arabic Periodicals Published in tlie
Straits Settlements and Peninsular Malay States, (London: Oxford University Press, 1972),
hal.75-89; Laffan, Islamic Nationhood, hal.150; Hamzah, Al-Imam: Its Role…..hal. 28-29.
6 Roff, The Origin of Malay,…hal.56-57; Laffan, Islamic Nationhood, hal.148-60. Lihat juga
A.C Milner, The Invention of Politics in Colonial Malaya: Contesting Nationalism and the
Expansion of the Public Sphere, (Cambridge: Cambridge University Press, 1995).
7 Roff, The Origin of Malay,…hal.59.
8 Lihat al-Imam, I, Juli 1906. Untuk pembahasan mengenai maksud dan tujuan majalah al-
Imam, lihat juga Roff (1967: 56), Hamzah (1991: 28-29).
9 Lihat al-Imam, No. 4, vol. 3, 1908.
277

