Page 295 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 295

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           24   Noer, The Modernist Muslim,… hal.35. Untuk pembahasan tentang landasan al-Munir,
                lihat juga Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Ajahku: Riwayat hidup Dr. H. Abd.
                Karim Amrullah dan perdjuangan kaum agama di Sumatera, (Djakarta: Widjaja, 1958);
                Alfian,  Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization
                under Dutch Colonialism, (Yogyakarta: UGM Press, 1989), hal.108; Tamar Djaja, Pusaka
                Indonesia: Riwayat Hidup Orang-orang Besar Tanah Air, Djakarta: Bulan Bintang, 1966),
                Vol. II, hal. 700; Syamsuri Ali, “Al-Munir dan Wacana Pembaharuan Pemikiran Islam 1911-
                1915”, Padang: MA Thesis IAIN Imam Bonjol, 1997, hal. 26.
           25   Azyumardi Azra, “The Transmission of  al-Manar’s Reformism to the Malay-Indonesian
                World: the Cases of al-Imam and al-Munir”, Studia Islamika, Vol. 6/3, 1999, hal. 92.
           26   Mahmud Yunus, Sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara, 1979), hal.157.
           27   Lihat al-Munir 1, 1, 1911. Lihat juga Azra, “The Transmission of al-Manar’s,”…..hal.94.
           28   Lihat al-Munir 3, 2, 1913.
           29   Untuk kandungan umum kedua majalah tersebut, lihat Roff,  The Origin of Malay,….
                hal.56-59; Hamzah, Al-Imam: Its Role in Malay Society,….hal.21-22; Noer, The Modernist
                Muslim,… hal.39-40; Ali, “Al-Munir dan Wacana Pembaharuan,….
           30   Jutta E. Bluhm, “A preliminary statement on the dialogue between the reform magazine
                al-Manãr and the Malayo-Indonesian World”, Indonesia Circle 32, 1983, hal.35-42.
           31   N.J.G. Kaptein, “Southeast Asian Debates and Middle Eastern Inspiration: European
                Dress in Minangkabau at the Beginning of the Twentieth Century”, to be published in
                Eric Tagliacozzo (ed.) Proceedings Workshop Southeast Asia and the Middle East: Islam,
                Movement, and the Longue Durée, Asia Research Institute (ARI), Singapore, 17-18 August
                2004. Perlu dijelaskan, orang Muslim yang memakai pakaian Eropa menjadi salah satu
                hal yang sangat diperdebatkan di wilayah Melayu-Indonesia pada awal abad ke-20. Gaya
                berpakaian dimasukkan ke dalam identitas orang Muslim yang berbeda dengan orang
                Eropa dan orang-orang akrab, dalam gaya hidup mereka, dengan orang-orang Eropa.
                Untuk pembahasan tentang  hal ini lihat juga  Kees van Dijk, “Sarongs,  jubbahs, and
                trousers: Appearance as a means of distinction and discrimination”, in Schulte Nordholt
                (ed) Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia, Leiden: KITLV, 1997),
                hal. 39-84; dan juga artikel sebelumnya dari Kaptein menyangkut isu yang sama, dengan
                penekanan pada berbagai fatwa termasuk fatwa dari al-Munir. N.J.G. Kaptein, “European
                Dress  and  Muslim  Identity  in  the Netherlands  East  Indies”,  paper  prepared for LISOR
                Congress, “Religious Change in Pluralistic Context”, Leiden 28-30 August, 2003.
           32   Ulama setempat yang dirujuk dalam istiftā’ ini adalah Chatib Ali, ulama tradisionalis dari
                Sumatera Barat yang menentang gerakan reformis. Dia melarang pemakaian pakaian
                Eropa dan menyalahkan kaum muda (ulama reformis) yang telah membolehkan praktik
                tersebut sehingga seseorang terlihat seperti orang Kristen. Lihat Kaptein, “European Dress
                and Muslim Identity,”…..hal.6.
           33   Lihat al-Munir, 3, No. 12, 1913
           34   Azra, “The Transmission of al-Manar’s,”….hal. 97.
           35   Sumber utama pembahasan mengenai media cetak Islam pada awal abad ke-20 ini
                didasarkan pada penelitian Jajat Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority:
                Islamic Print Media in Early 20  Century Indonesia,” yang dimuat dalam Studia Islamika,
                                        th
                Volume 11, No. 1 (2004), hal. 38-53.
           36   Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority,” hal. 46-47.
           37   Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority,” hal. 48.
           38   Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority,” hal. 49-50.
           39    Martin Van Bruinessen mengklasifikasikan kitab kuning ke dalam kategori: ilmu-ilmu alat
                (tatabahasa Arab, tajwid, logika), fikih dan usul-fikih, doktrin (tauhid, akidah, ushuluddin),
                tafsir Alquran, hadis, akhlak dan tasawuf, sejarah Islam, dan kitab ekstrakurikuler
                (penghormatan,  ritual,  dan  ilmu  gaib).  Lihat  bukunya,  Kitab Kuning, Pesantren, dan
                Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 148-171.
           40   Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority,” hal. 51.
           41   Burhanudin, “The Fragementation of Religious Authority,” hal. 52.






                                                                                                 279
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300