Page 291 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 291

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Beberapa Catatan Penutup





           Dari penjelasan historis di atas, bisa ditarik satu kesimpulan bahwa penerbitan
           buku-buku Islam telah memberi trend baru dalam transmisi keilmuan. Sumber
           pengetahuan  dan  selanjutnya  otoritas  keagamaan—yang  semula  dipegang
           para ulama dengan kitab kuning sebagai sumber pengetahuan utama—mulai
           beragam dengan munculnya media cetak: jurnal, koran, majalah, dan buku.
           Penggunaan media cetak ini telah berkontribusi pada munculnya ruang publik
           Islam, di mana ulama tampak sebagai salah satu dari banyak kaum Muslim yang
           dapat berbicara tentang Islam. Peran ulama sebagai pembentuk tunggal Islam
           kontemporer secara perlahan berakhir, dan karenanya fragmentasi otoritas
           keagamaan mulai terjadi di tengah-tengah umat Islam. Situasi ini membenarkan
           pendapat bahwa munculnya ruang publik adalah bagian yang inheren dalam
                       96
           modernitas.
           Maka, dengan munculnya penerbitan-penerbitan Islam, reformisme Islam
           mengarah pada pembentukan ruang di mana kaum Muslim, dengan
           pandangan dan orientasi yang berbeda, terlibat dalam suatu perdebatan
           untuk mendefinisikan Islam Indonesia. Umat Islam mulai terlibat dalam isu-isu
           agama yang mengemuka, dalam pembentukan opini dan penafsiran terhadap
           Islam yang saling bertentangan yang berkubu pada latar belakang pendidikan
           dan ideologi yang berbeda. Polemik, perdebatan, diskusi, dan pertentangan
           merupakan bentuk utama dari perkembangan Islam selama periode awal abad
           ke-20.
                 97

           Perkembangan ini dapat dijelaskan dari fakta bahwa media cetak menyediakan
           umat Islam akses yang mudah terhadap ajaran Islam. Umat Islam mulai belajar
           Islam tanpa harus pergi dan tinggal di pesantren, yang pada masa lalu dianggap
           sebagai pusat paling otoritatif bagi ajaran Islam. Mereka malah dapat menemukan
           sumber pengetahuan ajaran Islam di toko-toko buku, perpustakaan, dan tempat-
           tempat lain yang awalnya tidak pernah diasosiasikan dengan studi Islam.

           Selain itu, Islam disampaikan dengan cara yang lebih biasa dan bahasa sehari-
           hari. Kesucian teks-teks klasik Islam mulai berakhir dengan penerimaan media
           cetak modern. Proses ini meningkat dengan datangnya edisi terjemahan dari
           teks-teks klasik Islam tertentu yang mulanya terbatas penggunaannya dan
           hanya diedarkan secara eksklusif di antara elite agama. Dengan demikian,
           pembacaan hadis dan praktik-praktik ritual Islam tidak hanya bisa ditemukan
           di pesantren dengan menghadirkan ulama, tetapi juga di sekolah-sekolah dan
                        98
           rumah-rumah.








                                                                                                 275
   286   287   288   289   290   291   292   293   294   295   296