Page 353 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 353

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Pada masa penjajahan Jepang terjadi perubahan kebijakan terhadap gerakan
           politik umat Islam Indonesia. Jepang berusaha untuk mendekati pemimpin-
           pemimpin Islam guna mengobarkan semangat anti kolonial Belanda dan
           berusaha mengukuhkan kedudukannya di Indonesia dengan membuka saluran
           politik kepada umat Islam. Beberapa lembapa politik dan wadah bagi umat
           Islam dibentuk dan mendapatkan sambutan positif dari pemimpin-pemimpin
           Islam pada waktu itu. Umat Islam diakomodasi dalam lembaga-lembaga
           pemerintah yang dibentuk oleh Jepang yaitu Kantor Urusan Agama, Masyumi
           dan Hizbullah. Pada era ini terjadi pergeseran peran politik elit-elit di Indonesia
           dari kelompok aristokrasi priyayi kepada kelompok santri. Akibatnya kelompok
           nasionalis mengalami peminggiran peran politik.

           Dinamika politik umat Islam di Indonesia terus mengalami pasang surut. Di era
           menjelang persiapan kemerdekaan Indonesia  peran-peran politik umat Islam
           mengalami dinamika. Lembaga yang dibentuk untuk persiapan kemerdekaan
           Indonesia baik itu lembaga BPUPKI maupun PPKI mengakomodasi banyak aliran
           politik baik dari kelompok Islam, nasionalis dan sosialis. Nampanya keterwakilan
           politik umat Islam menjelang kemerdekaan tidak terlalu besar dibandingkan
           dengan dominasi kelompok nasionalis.  Pergulatan dan perdebatan tentang
           dasar negara dan bentuk negara Indonesia yang baru ini terjadi begitu sengit.
           Pilihan antara menjadikan Indonesia sebagai negara Islam berdasarkan pada
           ideologi Islam menjadi perdebatan yang sengit dan panjang. Pada akhirnya
           atas  kebesaran  sikap  yang diberikan  oleh pemimpin-pemimpin  Islam  langka
           kompromi dan akomodatif dapat dilakukan guna membentuk negara Indonesia
           yang merdeka.

           Pada masa Orde Lama dan Orde Baru perjuangan politik umat Islam juga
           mengalami  dinamika  yang  berbeda-beda.  Perdebatan  kelompok  Islam  dan
           nasionalis terus berlangsung pada masa Sukarno. Hanya saja perdebatan pada
           masa Sukarno ini dapat diakhiri dengan cara memaksa kelompok Islam untuk
           menerima keputusan pemerintah pada waktu itu yaitu dikembalikan pada UUD
           45 melalui dekrit presiden 1959. Pada masa Sukarno ini Demokrasi Terpimpin
           diterapkan dan Masyumi dibubarkan sehingga satu-satunya partai Islam yang
           bertahan adalah partai NU.

           Rezim Orde Baru melakukan kebijakan yang hampir sama terhadap gerakan
           politik umat Islam. Untuk melakukan konsolidasi politik dan memacu
           pembangunan ekonomi, Soeharto menerapkan kebijakan politik dengan cara
           membatasi partai-partai politik. Penyederhanaan partai-partai politik dilakukan
           hingga partai-partai yang ada dapat disatukan dalam tiga aliran politik yang
           masing-masing diwakili oleh Golongan Karya, Partai Demokrasi Indonesia dan
           Partai Persatuan Pembangunan. Soeharto kemudian menerapkan kebijakan










                                                                                                 337
   348   349   350   351   352   353   354   355   356   357   358