Page 354 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 354

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Azas Tunggal yang memaksa semua organisasi dan partai politik menganut
                                    satu azas yaitu Pancasila. Walaupun mendapatkan penentangan dari kalangan
                                    Islam tetapi pada akhirnya kebijakan ini dapat diterapkan dan diterima oleh
                                    organisasi-organisasi sosial dan politik di Indonesia.

                                    Di era Soeharto ketika kebijakan rezim cenderung membatasi politik umat Islam,
                                    kebijakan itu dapat disiasati oleh para tokoh-tokoh muda Islam dengan cara
                                    merumuskan strategi baru dalam politik. Tranformasi bidang politik dilakukan
                                    untuk dapat mencairkan hubungan antara Islam dan negara yang saling
                                    bermusuhan. Dengan tidak menjadikan partai-partai Islam sebagai satu-satunya
                                    sarana perjuangan umat Islam maka umat Islam mulai memperhatikan bidang-
                                    bidang lain yang selama ini terbengkalai seperti bidang sosial dan intelektual.
                                    Sejak itu para aktifis Islam mulai memasuki birokrasi dan bergabung dengan
                                    Golkar. Walaupun pada satu sisi pendekatan ini dianggap sebagai bagian dari
                                    kooptasi rezim tetapi usaha-usaha mereka untuk masuk dalam birokrasi telah
                                    berdampak pada proses islamisasi secara signifikan dalam birokrasi.

                                    Kontribusi umat Islam menjadi semakin kuat dalam proses konsolidasi demokrasi
                                    ini. Umat Islam yang berjuang melalui partai secara konsisten mendukung proses
                                    demokratisasi di Indonesia dengan mengedepankan semangat kebangsaan
                                    sementara yang berjuang melalui organisasi-organisai massa seperti Nahdlatul
                                    Ulama, Muhammadiyah, Persis, Persatuan Islam, Matlaul Anwar dan berbagai
                                    organisasi massa lainnya terus menerus mendorong dan memperkuat keberadaan
                                    masyarakat sipil guna mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis. Pada era
                                    ini konflik horizontal juga sudah mengalami penurunan. Walaupun isu-isu
                                    terorisme masih muncul tetapi secara umum dapat diselesaikan dengan baik
                                    oleh pemerintah bekerjasama dengan ormas-ormas Islam, termasuk Majelis
                                    Ulama Indonesia (MUI).

                                    Partai-partai Islam memainkan peran penting dalam mengawal demokrasi
                                    di Indonesia. Karenanya, Islam Indonesia mengambarkan dua pendekatan
                                    Islam pada waktu yang bersamaan;  politik dan kultural. Islam di Indonesia
                                    tidak mendukung berdirinya negara Islam tetapi juga menolak adanya proses
                                    sekularisasi. Walaupun pada umumnya partai-partai Islam bukanlah kekuatan
                                    yang dominan dalam parlemen tetapi peran-perannya dalam memperjuangkan
                                    kepentingan umat Islam di Indonesia cukup besar. Ini karena aspirasi umat Islam
                                    tidak hanya diperjuangkan oleh partai-partai Islam tetapi juga diakomodasi
                                    oleh partai-partai nasionalis lainnya yang juga menjadikan Islam sebagai salah
                                    satu elemen terpenting partai.  Dalam praktiknya kekuatan Islam dalam partai-
                                    partai Islam itu dapat dengan muda bekerjasama dengan partai-partai nasionalis
                                    dalam kerangka kebangsaan. Itulah wajah Islam Indonesia yang moderat baik
                                    yang terwujud dalam gerakan politik maupun kultural.










                    338
   349   350   351   352   353   354   355   356   357   358   359