Page 352 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 352

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Indonesia dan menjangkiti hampir seluruh partai politik, tidak terkecuali partai-
                                    partai Islam. Sayangnya, aktivis-aktivis Islam pun terjebak dalam kasus korupsi
                                    ini karena mahalnya biaya politik di Indonesia. Kasus-kasus yang menimpa
                                    beberapa anggota parlemen dari kelompok Islam menjadi preseden buruk dan
                                    menciptakan citra negatif di masyarakat bahwa para aktifis Islam juga tidak lepas
                                    dari kasus korupsi. Secara umum umat Islam di Indonesia baik yang berjuang
                                    melalui jalur politik baik di parpol-parpol  Islam dan nasionalis maupun yang
                                    tetap berjuang melalui omas-ormas Islam selalu menjadi kekuatan penyeimbang
                                    dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kontribusinya dalam mendorong
                                    proses demokratisasi di Indonesia telah menjadikan Indonesia mengalami
                                    kemajuan demokrasi yang luar biasa. Kemajemukan umat Islam dan bangsa
                                    Indonesia secara umum ternyata tidak membawa perpecahan justru menjadi
                                    kekuatan besar dalam membangun demokrasi di Indonesia.











                                    Kesimpulan





                                    Peran politik umat Islam di Indonesia dari masa sebelum kemerdekaan hingga
                                    masa kontemporer ini mengalami pasang surut dan dinamika yang berbeda-
                                    beda. Pada masa penjajahan Belanda gerakan politik umat Islam Indonesia
                                    terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang bersedia bekerjasama
                                    (koperatif) dengan pemerintah Hindia Belanda dan bergabung dalam Dewan
                                    Rakyat  dan  kelompok  yang  menolak  bergabung  (non  koperatif)  karena
                                    menganggap bahwa Dewan Rakyat tidak efektif untuk memperjuangkan nasib
                                    bangsa  Indonesia.  Sarekat  Islam  yang  pada  awalnya  memiliki  harapan  besar
                                    atas hadirnya Dewan Rakyat kemudian menunjukkan kekecewaannya karena
                                    beberapa mosi-mosi rakyatnya yang ditujukan ke pemerintah Hindia Belanda
                                    ditolak. Kekecewaan itu semakin dalam ketika Tjokroaminoto ditahan pihak
                                    Belanda yang secara tidak langsung menghalangi dirinya untuk tetap bertahan
                                    di Dewan Rakyat itu. Sejak itu SI menyampaikan ketidakpuasannya terhadap
                                    kebijakan pemerintah Hindia Belanda dan melakukan langkah politik yang lebih
                                    radikal melalui jalur non koperatif dengan memperkenalkan politik hijrah. SI
                                    dalam perjalannnya mengalami kemundurun karena banyaknya konflik internal
                                    yang terjadi di dalam kalangan internal mereka. Secara umum kebijakan Belanda
                                    sangat membatasi kegiatan-kegiatan politik yang dilakukan oleh umat Islam.










                    336
   347   348   349   350   351   352   353   354   355   356   357