Page 348 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 348

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    juga memutuskan untuk mengubah gambar partai yang sebelumnya berbentuk
                                    bintang menjadi ka’bah. PPP pun kembali menggunakan azas Islam setelah pada
                                    masa Soeharto dipaksa untuk menggunakan azas tunggal Pancasila.Selanjutnya,
                                    Hamzah Haz digantikan oleh Suryadarma Ali yang juga berasal dari unsur NU.

                                    Pada pemilu pertama setelah reformasi tahun 1999, PPP mendapatkan suara
                                    sebesar 10,71%. Pada pemilu 2004 mengalami penurunan menjadi 8,15% dan
                                    terus mengalami penurunun pada pemilu 2009 menjadi 5,32% sementara hasil
                                    sementara  pemilu  2014  sedikit  mengalami  kenaikan  menjadi  6,5%.    Seperti
                                    halnya partai-partai Islam lainnya basis PPP ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan
                                    Aceh Darussalam.





                                    Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

                                    Partai  Keadilan  Sejahtera  (PKS)  pada  awalnya  bernama  Partai  Keadilan  (PK).
                Partai Keadilan     Karena tidak lolos electoral thershold pada pemilu 1999 pada pemilu 2004 PK
             Sejahtera (PKS) pada
              awalnya bernama       merubah namanya menjadi PKS. Di antara partai-partai yang ada PKS termasuk
             Partai Keadilan (PK).   partai baru yang tidak memiliki basis massa tradisional. Sebagian besar massa
              Karena tidak lolos    pendukung PKS berasal dari aktifis Islam di kampus-kampus umum yang terbina
              electoral thershold
              pada pemilu 1999      melalui pengajian-pengajian di kampus yang dikenal dengan sebutan Tarbiyah.
             pada pemilu 2004 PK    Tidak heran jika kelompok Tarbiyah ini tidak memiliki hubungan emosional dan
              merubah namanya       historis dengan ormas-ormas Islam di masa lalu karena sebagian dari mereka
            menjadi PKS. Di antara   adalah generasi baru Muslim yang tidak lagi terikat oleh dikotomi muslim
              partai-partai yang
              ada PKS termasuk      tradisionalis dan modernis. Walaupun keluarga mereka berasal dari ormas-ormas
               partai baru yang     Islam besar di Indonesia, seperti Muhammadiyah, NU, Persis dan ormas-ormas
              tidak memiliki basis   lainnya tetapi pergulatan dakwah di kampus telah membuat mereka menjauh
              massa tradisional.
             Sebagian besar massa   dari ormas-ormas Islam yang ada. Ini dikarenakan kampus-kampus umum pada
            pendukung PKS berasal   era Orde Baru sengaja dijauhkan dari pengaruh-pengaruh organisasi-organisasi
              dari aktifis Islam di   kepemudaan yang berafiliasi dengan parpol dan ormas Islam. Melalui kebijakan
            kampus-kampus umum
             yang terbina melalui   Normalisai Kehidupan Kampus, rezim penguasa membatasi kegiatan organisasi
            pengajian-pengajian di   mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus besar. Kelompok Muslim yang tidak
             kampus yang dikenal    memiliki ikatan emosional dan ideologis inilah yang oleh Syafi’i Anwar  disebut
                                                                                                      62
               dengan sebutan
                  Tarbiyah.         sebagai neo-santri. Kelompok santri ini bisa diwakili oleh generasi muslim yang
                                    beroreintasi pada Islam sebagai ideologi politik tetapi kehilangan kepercayaan
                                    terhadap parpol Islam yang ada maupun generasi muda muslim yang lebih
                                                                                    63
                                    memilih ideologi sosialis dan sekuler. Kuntowijoyo  menyebut generasi yang
                                    kehilangan ideologis dengan orang tua mereka sebagai ‘muslim tanpa masjid.”

                                    Ada tiga faktor yang melatarbelakangi munculnya santri baru di era tahun
                                            64
                                    1980-an . Pertama, represi yang kuat terhadap kelompok Islam politik dan
                                    gagalnya partai Islam pada masa Orde Baru telah menjadikan generasi muda
                                    muslim di Indonesia mencari saluran politik yang dianggap ideal dan berbeda






                    332
   343   344   345   346   347   348   349   350   351   352   353