Page 217 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 217
point yang diminati pelayaran asing selain Selat Malaka (yang jasa pelabuhannya
didominasi Singapura) adalah Selat Sunda. Melalui Selat Sunda, kapal-kapal
tonase besar dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan dapat melintas menuju
ke Asia Timur tanpa melewati Selat Malaka. Kemudia kapal-kapal dari Asia
Timur juga dapat melintasi Selat Sunda menuju Australia.
Sudah sepatutnya Indonesia mengembangkan jalur perlintasan di Selat Sunda
yang hingga saat ini belum mampu dilintasi kapal lebih dari 100.000 DWT karena
kedalamannya yang kurang dari 20 meter. Upaya pendalaman sangat vital untuk
dilakukan (alih-alih pembuatan Jembatan Selat Sunda yang justru akan
mematikan usaha jasa pelayaran ferry di Selat Sunda. Selain itu perlu dibangun
pelabuhan kapal internasional yang melayani jasa bongkar muat kontainer dengan
kapasitas besar sebagai global transhipment port Indonesia. Pelabuhan ini harus
didukung dengan sumber daya listrik dan prasarana perhubungan yang memadai,
seperti jalur kereta api, jalan raya dan jembatan.
Indonesia tidak dapat hanya melihat ke dalam (inward looking) untuk
mengekploitasi sumber daya yang ada tanpa berupaya mengembangkan
kapabilitas baru yang lebih memberi nilai tambah untuk bangsa. Salah satu contoh
adalah batu bara yang sejak abad ke-18 hingga 20 menjadi komiditas energi yang
sangat tinggi namun di abad ke-21 ini, potensi ekonomi batubara semakin
menurun, dikarena efek negatif terhadap pencemaran lingkungan yang relatif
tinggi. Kalau kita belajar dari Korea Selatan, dari awal kemerdekaan, penguasa
Korsel menyadari pentingnya mengembangkan sektor generatif.
38

