Page 255 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 255
wawasan historis, sehingga penulisan sejarah tak hanya bersifat sebagai cerita, tetapi juga
12
menerangkan sebab dan akibat dari suatu peristiwa secara komprehensif dan terbuka.
Lalu, bagaimana dengan kesadaran pembelajaran sejarah di bidang maritim? Hal
tersebut tentu berkaitan dengan budaya bahari yang harus dimiliki oleh masyarakat karena
Indonesia saat ini tengah bergerak ke arah konsep negara maritim. Agaknya pengajaran
terkait sejarah maritim belum terlalu menjadi suatu subyek pengajaran yang compulsory di
Indonesia. Pengenalan Indonesia sebagai bangsa berbudaya bahari mungkin telah
dilaksanakan melalui berbagai media, tidak hanya via pendidikan, namun bagaimana
menyikapi konsekuensi-konsekuensi yang hadir karenanya belum terlalu terlihat.
Kata „maritim‟ selalu dikaitkan dengan laut, sebagaimana pengertian orang awam
terhadap konsep maritim. Pemahaman sederhana ini bukan berarti mengesampingkan fakta
bahwa terdapat banyak hal di laut. Maka, kata itu akan mengalai perluasan makna hingga
mencakup definisi spesifik, seperti misalnya mencakup pelayaran dan pelabuhan. Namun,
berkembang pula makna maritim sebagai pusat aktivitas perdagangan atau juga militer di
laut, dan batas-batas wilayah (maritime boundaries).
Seiring dengan meningkatnya isu-isu perbatasan dan perebutan wilayah, khususnya di
Asia Tenggara dengan berkembangnya masalah Laut Cina Selatan, nampaknya urgensi untuk
mengenal tema maritim tak bisa berhenti pada pemaparan sejarah pelayaran, pelabuhan, dan
aktivitas-aktivitas lain yang berpusat di laut, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat melihat
laut sebagai bagian dari kebudayaan dan identitas diri mereka sebagai warga negara. Lebih
dari itu, pengajaran tema maritim dan budaya bahari mulai dari periode awal hingga periode
kontemporer dapat meningkatkan nilai atau rasa kepemilikan masyarakat terhadap negaranya
yang komposisi mayoritasnya adalah laut.
Kedaulatan dan Yurisdiksi dalam Konsep Negara Maritim dan Budaya Bahari
Wawasan Nusantara adalah cara pandang Indonesia terhadap kondisi geopolitik dan
geostrategis wilayahnya sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh laut. Laut tidak
dipandang sebagai pemisah atau barrier antarpulau atau propinsi, tetapi sebagai salah satu
13
unsur yang dapat melindungi kepentingan nasional, yaitu persatuan dan kesatuan.
Belakangan ini, berkembang konsep negara maritim dan budaya bahari sebagai suatu
hal yang harus dipahami dan diterapkan karena adanya kesadaran terhadap kondisi geografis
12 Susanto Zuhdi, “Metodologi Strukturistik dalam Historiografi Indonesia: Sebuah Alternatif” dalam Titik Balik
Historiografi Indonesia (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2008), hlm. 11-12
13 Dr. Chandra Motik Yusuf, S.H, M.Sc, 75 Tahun Prof. Dr. Hasjim Djalal, M.A: Negara Kepulauan Menuju
Negara Maritim (Jakarta: IND HILL CO, 2010), hlm. 9
7

