Page 253 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 253
berpikir dan mempelajari hal-hal baru. Hal tersebut kemudian dapat dimanfaatkan, salah
satunya adalah dengan mempelajari sejarah bangsa untuk menemukan beberapa solusi untuk
isu-isu yang muncul di masa kini atau bahkan masa mendatang, sesuai dengan tujuan dari
ilmu sejarah sendiri.
Ilmu sejarah memerlukan pola berpikir yang reflektif agar mampu menghasilkan
suatu penulisan sejarah yang komprehensif, yaitu mampu merelasikan dan memberikan
6
penilaian, dan bukan hanya sekedar penulisan narasi berdasarkan kronologi peristiwanya.
Lalu, muncul pertanyaan apa peranan sejarah dalam kehidupan manusia? Apakah
sejarah benar-benar memegang peranan dan memberikan pengaruh yang signifikan bagi
kehidupan manusia? Jawabannya dapat ditarik hingga ke awal penulisan sejarah oleh
Herodotus yang menyebutkan bahwa sejarah adalah guru kehidupan (historia magistra vitae).
Artinya, ilmu sejarah akan selalu memberi arti terhadap suatu peristiwa, sehingga manusia
dapat menarik pengalaman berupa pembelajaran bagi kehidupan.
Dalam pendidikan, ilmu sejarah memiliki tiga fungsi utama, yaitu genesis, didaktis,
7
dan sebagai mana mestinya (new historicism). Sejarah dengan fungsi genesis artinya adalah
sejarah yang bersifat deskriptif, naratif, dan informatif. Penulisan sejarah hanya berlandaskan
dari suatu hal yang menarik minat, dan dituliskan berdasarkan pertanyaan 5W1H, sehingga
hasil akhirnya adalah penulisan sejarah sebagai kisah (history as an art). Yang kedua, yaitu
sejarah dengan fungsi didaktis, adalah penulisan sejarah yang di dalamnya terdapat pemilihan
fakta-fakta sejarah yang memberikan makna signifikan saja, sehingga penulisan bersifat ideal
bagi penyampaian publik demi tercapainya tujuan tertentu. Lain dengan sejarah dengan
fungsi didaktis, New Historicism menyajikan penulisan sejarah yang lebih obyektif dan lugas.
Penulisan tidak ditujukan untuk sekedar mendidik, tetapi juga untuk mengedepankan proses
kritis dengan menggunakan metode sejarah (history as the part of science).
Jika fungsi terakhir dari penulisan sejarah dapat tercapai, maka pembelajaran sejarah,
serta pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan pun turut berjalan. Pengaplikasian dari
pembelajaran tersebut baru bisa dirasakan ketika subyek dan obyek pembelajaran mampu
8
berpartisipasi aktif secara bertimbal balik (reciprocal).
Menurut I Putu Gede Suwitha, sejarah dapat berfungsi layaknya dua obyek penting
dalam hidup manusia, yaitu jembatan dan cermin. Sejarah bertindak sebagai jembatan dalam
6 Sri Jutmini Rahardjo, “Metode Penemuan sebagai Proses Untuk Mewarisi Nilai-nilai Bangsa” dalam Seminar
Sejarah Nasional V: Subtema Pengajaran Sejarah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1990),
hlm. 79-81
7
Abu Su‟ud, “Pengajaran Sejarah” dalam Seminar Sejarah Nasional V: Subtema Pengajaran Sejarah (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1990), hlm. 94-95
8
Ibid., hlm. 106
5

