Page 254 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 254
konteks menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus cermin dimana tiap individu
berkaca atau merefleksikan diri sebelum melangkah ke tujuan berikutnya di masa depan. Hal
ini sesuai dengan apa yang disebut Taufik Abdullah bahwa sejarah memberikan wawasan
9
bagi hari depan, suatu wilayah yang tak punya peta.
Masalah yang ada dalam pengajaran sejarah sebagai suatu ilmu sebenarnya jauh lebih
kompleks dari apa yang bisa kita bayangkan. Sejarah bukan ilmu pasti yang dapat
menghasilkan suatu dalil atau hukum yang mutlak karena walaupun obyek dari studinya
adalah manusia, manusia sebagai makhluk sosial memilik banyak variabel yang menentukan
tindakan yang dilakukannya. Selain itu, sejarah memiliki aspek spasial dan temporal yang
senantiasa dipengaruhi oleh perubahan sosial-budaya di masyarakat.
Namun, yang terpenting dari suatu pengajaran dan pendidikan sejarah adalah ketika
tercapainya suatu hasil penelitian atau penulisan sejarah kepada masyarakat, sehingga tercipta
pemahamaan publik terhadap kajian-kajian sejarah yang ada. Masyarakat kemudian dapat
melakukan evaluasi terhadap hasil penelitian atau penulisan sejarah tersebut, sehingga
muncul tantangan bagi sejarawan untuk mempertajam metodenya untuk menghasilkan
penulisan yang lebih baik, tanpa adanya anakronisme yang membingungkan, serta historical
10
fallacies atau kekeliruan sejarah.
Terakhir, perlu juga diperhatikan adanya tantangan baru di dunia pendidikan
Indonesia yang bersifat multikultural. Kondisi sosial yang berbeda-beda dipengaruhi oleh
adanya faktor-faktor penentu, sehingga tidak dapat kita tentukan secara mutlak atau pasti.
Salah satu contohnya, faktor geografis yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku
masyarakat, bahkan menjadi pemicu konflik yang disebabkan oleh prasangka (prejudice) dan
11
kesenjangan sosial (internal disparities).
Penulisan sejarah sebagai bahan pengajaran pun dapat pula berasal dari hal-hal yang
partikular atau unik, yaitu tema-tema yang seringkali dijadikan bahan penulisan oleh
sejarawan akademis untuk skripsi dan tesis mereka. Penulisan sejarah berdasarkan metode
yang menjembatani teori dan sumber dapat memberikan suatu perspektif baru dalam
9 I Putu Gede Suwitha, “Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa” dalam Seminar Sejarah Nasional V: Subtema
Pengajaran Sejarah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1990), hlm. 112
10 Prof. Dr. Taufik Abdullah, “Pembinaan Kesadaran dan Penjernihan Sejarah” dalam Pemikiran tentang
Pembinaan Kesadaran Sejarah (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2012), hlm. 8-9
11 Kamanto Sunarto, dkk., Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the
Unfamiliar (Depok: Jurnal Antropologi Indonesia, 2014), hlm. 51
6

