Page 329 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 329

Johannes Latuharhary        315




               CATATAN


                                                       Sumber: Koleksi Udayana P. Tisna
               1 Dalam masyarakat Ambon,  anak-anak  yang bersekolah  di kota yang  jauh dari
               kampung  halamannya,  biasanya  menumpang  pada  keluarga  lain  yang  bersedia
               menampung dan menganggap layaknya anggota keluarga itu sendiri. Kebiasaan itu
               disebut  anak piara.  Lihat  I.  O.  Nanulalitta,  Johannes Latuharhary, S.H.:  Hasil Karya
               dan Pengabdiannya (Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982/1983),
               hlm. 5.

               2 HBS adalah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda khusus untuk
               orang Belanda, Eropa dan elite pribumi yang menggunakan bahasa Belanda sebagai
               pengantar. Masa studi HBS berlangsung lima tahun.

               3 Nanulalitta, Johannes Latuharhary, hlm. 10.

               4 Nanulalitta, hlm. 12.
               5 Nanulalitta, hlm. 18.

               6 Nanulalitta, hlm. 20.
               7 Lihat “Riwayat Hidup Gubernur Maluku,” Merdeka, 1 Maret 1953, hlm. 19.

               8 “Riwayat Hidup Gubernur Maluku,” hlm. 19.
               9 Salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa  Ambonsch Studiefonds adalah
               kesediaan para penerima beasiswa untuk  bekerja demi kepentingan masyarakat
               Maluku. Selain itu, penerima beasiswa diwajibkan memberikan sejumlah kecil gaji
               mereka untuk mendanai beasiswa tersebut setelah mereka menyelesaikan studinya.
               Kepada Latuharhary, pengurus Ambonsch Studiefonds menanyakan tentang apa
               yang akan dilakukannya untuk masyarakat Maluku selain pekerjaan pada
               gubernemen; Latuharhary menjawabnya bahwa ia akan membantu Sarekat Ambon.
               Jawaban itu disetujui pengurus, dan sejak itu Latuharhary duduk sebagai pengurus
               Sarekat Ambon. Lihat R. Z. Leirissa,  Maluku dalam Perjuangan Nasional Indonesia
               (Jakarta: Lembaga Sejarah Universitas Indonesia, 1975), hlm. 74.

               10 Wawancara dengan Johan Saimima, sejarawan Maluku (Jakarta, 10 Maret 2017).
               11 Haloean, 1930.

               12 Moluksc Politiek Verbond  adalah perhimpunan politik Maluku sebelum Sarekat
               Ambon.

               13 Ambon Raad semacam Dewan pada masa kolonial yang terdiri dari wakil
               masyarakat Ambon yang mengurusi keperluan rakyat Ambon.
   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334