Page 161 - Menabung_Ebook
P. 161
Balatentara Dai Nippon telah melepaskan berbagai-bagai negeri Asia
dari genggaman Inggris, Amerika, dan Belanda dan bermaksud akan
membangunkan Asia Raya. Bangsa-bangsa Asia sekarang berwajib dan
harus sanggup mengikuti zaman baru ini, harus sanggup memperlihatkan
bahwa mereka dapat mengatur juga rukah tangganya sendiri dengan rapi.
Dan istimewa harus dapat memecahkan sendiri soal perekonomiannya.
Bangsa-bangsa Asia harus dapat memberi bahan-bahan untuk mendirikan
bank-bank yang besar, sebab bank-bank itu adalah pusat-pusat keuangan
dan perekonomian. Dai Nippon telah lama memberi contoh, bahwa juga
bangsa-bangsa Timur sanggup mengatur bank-bank yang besar, seperti
Mitsui-Bank, Taiwan Bank, Yokohama Specie Bank dan lain-lainnya Menabung Membangun Bangsa
yang semuanya berdiri tegak dan telah membuka pula kembali cabang-
cabangnya di seluruh Asia Selatan. Yang banyak dikenal sejak dulu oleh
bangsa Indonesia ialah Bank Tabungan Pos (Tyokin Kyoku) dan Bank Rakyat
(Syomin Ginko) yang bekerja seperti sedia kala lagi dan terus ditanggung
oleh pemerintah.
Seperti diberitakan di Asia Raya (27 Desember 2602), “Sekarang dengan
kedatangannya Balatentara Dai Nippon zaman berubah! Bangsa-bangsa Asia
dibangunkan, diperlindungi, dipimpin supaya mendapat tempatnya juga
yang terhormat di atas dunia ini. Bangsa-bangsa Asia berwajib membantu
peperangan sekarang ini sampai akhirnya kemenangan kita dapat. Salah
satu syarat yang penting ialah menyokong meneguhkan kedudukan ekonomi
masing-masing. Istimewa di dalam masa pancaroba ini bangsa-bangsa Asia
harus sanggup mengatur penghidupannya secara hemat dan sederhana!
Supaya bank-bank sebagai pusat keuangan dan perekonomian dapat berdiri
subur buat selama-lamanya. Jika segala lapisan dari bangsa Asia berusaha
sekuat-kuat tenaganya di masa peperangan ini, niscaya kemenangan akhirnya
akan tercapai! Kemenangan untuk pembangunan Asia Raya!”
Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, tercatat jumlah penabung
bangsa Indonesia di Bank Tabungan Pos (posisi akhir tahun 1938) sebanyak
342 ribu orang dengan jumlah uang simpanan sebesar 14 juta rupiah.
Jumlah itu hanya setengah persen dari jumlah penduduk Indonesia (Jawa
dan Madura) dan masih lebih rendah lagi jika dibandingkan dengan jumlah 151
penabung bangsa asing. Pada 1944 setelah kondisi politik dan perekonomian
mulai berlangsung stabil, pemerintah pendudukan Jepang makin aktif
menggerakkan masyarakat Indonesia untuk menabung. Selain bank
swasta mengadakan program simpanan berbunga sebagaimana periode
sebelumnya, pemerintah pendudukan Jepang juga mengerahkan masyarakat
agar menyimpan dananya ke Tjokin Kjokoe.

