Page 191 - Menabung_Ebook
P. 191

Sementara itu, pada tahun yang sama, ada beberapa bank swasta yang
                           menerima tabungan dari masyarakat, meskipun baru ada 6 bank swasta yang
                           dianggap paling dominan menguasai pasar. Jumlah tabungan di bank swasta
                           ini juga terlihat terus naik dari tahun ke tahun. Pada periode ini beberapa
                           bank swsata telah memiliki program tabungan berhadiah seperti terlihat dari
                           iklan di bawah ini.

                              Program tabungan berhadiah yang diusahakan oleh bank-bank swasta                    Menabung Membangun Bangsa
                           di Indonesia telah dimulai pada akhir 1950-an. Perbankan swasta berusaha
                           menarik dana masyarakat dan menumbuhkan minat menabung melalui janji
                           udian berhadiah. Selain hadiah uang tabungan, perbankan juga menggunakan
                           barang  konsumsi  yang dapat dikatakan  modern  pada  masa itu  sebagai
                           hadiah seperti, mesin jahit listrik, radio bermerek, jam tangan, dan pulpen
                           berharga mahal. Semua barang yang dijanjikan sebagai hadiah itu, tampak
                           sedang menjadi tren yang diminati oleh para penabung dewasa, laki-laki atau
                           perempuan.

                              Pada periode tahun  1960-an,  Indonesia  memasuki  sistem  ekonomi
                           yang terpimpin. Pemerintah berusaha mengarahkan perkembangan usaha
                           perbankan untuk mendukung program pemerintah, yang pada  masa itu
                           dikenal  dengan Pembangunan  Semesta Berencana.  Bank Tabungan Pos
                           pada  periode ini  yang berubah  nama menjadi  Bank Tabungan Negara
                           (BTN) bersama  dengan perbankan swasta  menerima dana simpanan
                           masyarakat dalam bentuk deposito berjangka dan simpanan biasa. Jumlah
                           gabungan dana simpanan pada bank-bank tersebut adalah sebagai berikut:
                           Rp1.061.088,00 (1961), Rp1.315.306,00 (1962), Rp2.447.920.000,00 (1963),
                           Rp3.130.429.000,00 (1964), dan Rp3.931.179.000,00 (1965).


                              Secara umum, pada  periode ini  perkembangan tabungan terhambat
                           karena  naiknya  angka  inflasi  sepanjang  tahun  dan  reorganisasi  sistem
                           perbankan yang dilakukan sejak tahun 1965. Pada akhir periode pemerintahan
                           Presiden Soekarno (1966—1967) Bank Tabungan Negara hanya memiliki 7
                           kantor cabang di seluruh Indonesia. Sementara itu, bank tabungan swasta                181
                           berjumlah 14 kantor pusat dan 14 kantor cabang. Jumlah kantor bank swasta
                           itu menurun pada 1967 menjadi 12 kantor pusat dan 10 kantor cabang.
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196