Page 192 - Menabung_Ebook
P. 192

Sukaduka Menabung Zaman Soekarno


                           Dekade pertama, sejak bubarnya Republik Indonesia  Serikat (RIS) kembali
                           menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950
                           adalah  dekade percobaan  demokrasi  dan  ekonomi  (M.C.  Ricklefs, 2005).
                           Sistem  parlementer  menyebabkan  kabinet  yang  memerintah  berganti-
                           ganti  sehingga  berpengaruh  pada  tidak  stabilnya  kebijakan  ekonomi  yang
                           diterapkan. Pada periode 1950-an ada dua kebijakan ekonomi pemerintah
                           memberi dampak yang kurang menggembirakan, baik bagi para penabung
                           di bank maupun penabung yang menyimpannya dalam celengan di rumah,
                           yaitu (1) kebijakan Gunting Sjafruddin (1950) dan (2) Sanering (1959).

                              Pada awal tahun 1950 jumlah ekspansi uang beredar sangat berlebihan.
                           Posisinya mencapai  sekitar  Rp3,9  miliar. Berdasarkan indeks tahun  1938
                           yang pada saat itu menjadi patokan terjadinya keseimbangan moneter,
                           Pemerintah memperhitungkan seharusnya uang beredar hanya sekitar Rp
                           2,5 miliar atau enam kali lipat dari posisi tahun 1938, yaitu sebesar Rp420
                           juta. Lalu bagaimana cara mengatasi kelebihan uang beredar itu?
      Menabung Pada Masa Kemerdekaan  RI belum mampu mencari sumber pembiayaan dari kegiatan ekonomi yang
                              Pemerintah  berinisiatif  mengambil  tindakan  mengurangi  jumlah  uang
                           beredar sampai setengah dari jumlah yang ada. Pada masa itu, Pemerintah


                           sedang berlangsung. Awalnya pada 11 Maret 1950 Pemerintah menetapkan
                           sistem sertifikat devisa sebagai usaha untuk memperbaiki neraca pembayaran
                           negara. Kebijakan itu bertujuan mendongkrak kegiatan ekspor dan menekan
                           kegiatan impor  dengan harapan  rangsangan terhadap kegiatan ekspor itu
                           dapat menguntungkan para petani yang banyak  mempunyai andil  dalam
                           menghasilkan produk ekspor.

                              Tidak  lama setelah  kebijakan dalam  perdagangan itu, pada 18 Maret
                           1950 pemerintah menetapkan kebijakan mengurangi jumlah uang beredar
                           yang disebut dengan kebijakan pembersihan moneter dan kemudian dikenal
                           sebagai  Gunting  Sjafruddin. Mengapa demikian?  Hal itu  terjadi karena
                           Menteri Keuangan, Mr. Sjafruddin  Prawiranegara,  mengambil  keputusan
       182                 untuk memotong uang kertas NICA—dikenal dengan uang merah—dan uang
                           kertas De Javasche Bank menjadi dua bagian dengan menggunakan gunting.
                           Uang kertas yang digunting adalah pecahan lima rupiah ke atas, sedangkan
                           pecahan dua setengah rupiah dan yang lebih kecil lagi serta uang ORI tidak
                           digunting.
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197