Page 195 - Menabung_Ebook
P. 195

Selanjutnya, pada  akhir tahun  1950-an, pertumbuhan  ekonomi
                           Indonesia masih rendah, tingginya pertumbuhan uang beredar, laju inflasi
                           yang berkepanjangan, dan membengkaknya defisit keuangan negara terus
                           terjadi sepanjang tahun. Posisi uang beredar pada akhir 1958 tercatat sebesar
                           Rp19,6 miliar dan meningkat 53% sehingga menjadi Rp29,9 miliar pada 31
                           Maret 1959. Laju inflasi pada 1959 masih terbilang cukup tinggi, yakni 26%
                           dan meningkat lagi menjadi 38% pada tahun 1960. Defisit keuangan negara
                           pada 1959 dan 1960 masing-masing sebesar Rp 13.324 juta dan Rp2.569 juta
                           jika dibandingkan dengan Rp9.434 juta pada tahun 1958 (Laporan Tahunan                 Menabung Membangun Bangsa
                           Bank Indonesia 1959—1960).

                              Untuk  mengatasi  kondisi  ekonomi  yang  tidak  menggembirakan  itu,
                           pada 25 Agustus 1959 Pemerintah melakukan reformasi kebijakan moneter
                           yang dikenal dengan sebutan Konsolidasi Juanda. Disebut dengan nama itu
                           karena pihak yang mengeluarkan kebijakan tersebut adalah pemerintahan di
                           bawah Perdana Menteri Juanda. Tindakan yang diambil, antara lain, adalah
                           (Merdeka, Rabu 26 Agustus 1959):

                              1.  sanering atau penurunan  nilai  mata uang; semua  uang kertas
                                  Rp500,00 dan Rp1.000,00 menjadi Rp50,00 dan Rp100,00.
                              2.  pembekuan sebagian simpanan pada bank-bank (giro dan deposito)
                                  sebesar  90%  dari jumlah  simpanan  di  atas Rp25.000,00 dengan
                                  ketentuan  bahwa  simpanan  yang  dibekukan  akan  diganti  menjadi
                                  simpanan jangka panjang oleh Pemerintah.

                              Kebijakan  sanering itu  memang membawa beberapa  pengaruh  bagi
                           kondisi  keuangan negara. Untuk sementara waktu, jumlah  uang beredar
                           berkurang dan pemerintah memperoleh keuntungan sebesar Rp8.521 juta.
                           Keuntungan  itu  digunakan  untuk membayar utang uang  muka dari  Bank
                           Indonesia  sehingga  dapat  mengurangi kerugian kas pemerintah. Dalam
                           sanering 1959 itu uang kertas yang ditetapkan mengalami penurunan nilainya
                           mulai pukul 6 pagi tanggal 25 Agustus 1959 adalah

                              1.  uang kertas Bank Indonesia seri hewan (tanpa tanda tahun) pecahan
                                  Rp500,00 dan Rp1000,00;                                                         185
                              2.  uang kertas Bank Indonesia emisi tahun 1952 pecahan Rp500,00 dan
                                  Rp1000,00;
                              3.  uang kertas De Javasche Bank emisi tahun 1946 pecahan Rp500,00.
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200