Page 194 - Menabung_Ebook
P. 194

Pengguntingan uang kertas menjadi kanan dan kiri itu mulai dilaksanakan
                           pada pukul delapan malam tanggal 19 Maret 1950. Bagian kanan uang kertas
                           yang  digunting  itu  dapat  ditukarkan  dengan  Obligasi  Republik  Indonesia
                           1950 yang berlaku sebagai pinjaman Pemerintah dengan bunga 3% setahun.
                           Penerbitan obligasi yang juga dikenal dengan nama Obligasi Pinjaman Darurat
                           1950 itu dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. PU/2
                           tanggal 19 Maret 1950.

                              Bagian  kiri uang kertas di  atas pecahan  ƒ2,50  diakui sebagai  alat
                           pembayaran yang sah sehingga nilai uang yang berlaku hanya separuh dari
                           nilai  nominalnya. Bagian kiri uang dapat ditukar  dengan uang baru yang
                           diterbitkan oleh De Javasche Bank dengan pecahan 2,5 rupiah, 1 rupiah, dan
                           0,5 rupiah. Penukaran itu dibatasi hingga 16 April 1950. Setelah tanggal itu,
                           bagian kiri uang tersebut tidak akan berlaku lagi.
                              Selain  pengguntingan  uang  kertas,  Pemerintah  RI  juga  melakukan
                           pemotongan terhadap simpanan pada bank dan surat perbendaharaan. Bank
                           diwajibkan memindahkan setengah dari simpanan itu kepada suatu rekening
                           khusus yang diberi nama Pendaftaran Pinjaman Negara 3% 1950 yang hanya
      Menabung Pada Masa Kemerdekaan  jumlah uang simpanan mereka secara paksa harus dikonversi dalam bentuk
                           dapat digunakan  untuk membeli obligasi  negara yang telah  dikeluarkan.
                           Itulah kebijakan yang berimbas langsung bagi para penabung ketika separuh


                           Obligasi Republik Indonesia 1950, sama dengan bagian kanan uang kertas.
                              Kebijakan  Pemerintah  yang ditetapkan  oleh  Menteri Keuangan  Mr.
                           Sjafruddin Prawiranegara pada bulan Maret 1950 berhasil mengurangi jumlah
                           uang kartal sekitar Rp1,6 miliar. Sementara itu, posisi uang beredar dapat
                           ditekan menjadi sebesar Rp4,3 miliar pada akhir tahun 1950 atau meningkat
                           19,8%  dari  akhir  tahun  1949.  Seandainya  pemerintah  tidak  melakukan
                           tindakan  moneter  tersebut,  diprediksi  akan  terjadi  ekspansi  jumlah  uang
                           beredar sekitar 64,7%.

                              Dalam  pelaksanaan  pengguntingan  uang  itu  juga  tidak  luput  dari
                           beberapa peristiwa yang merugikan masyarakat umum. Pada saat itu, jaringan

       184                 komunikasi  dan  transportasi  masih  sangat terbatas sehingga informasi
                           kebijakan pengguntingan itu tak menjangkau warga masyarakat yang tinggal
                           di pelosok perdesaan. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh beberapa oknum
                           warga yang pergi ke wilayah pelosok untuk menukarkan uang kertas pecahan
                           lima  rupiah  mereka dengan uang  pecahan  yang lebih  kecil.  Akibatnya,
                           banyak warga perdesaan yang menjadi korban perilaku curang seperti itu.
                           Selain warga perdesaan, para pedagang kelontong di kota pun banyak yang
                           menderita  kerugian  karena  salah  memperhitungkan  dampak  yang  timbul
                           dari pengguntingan itu.
   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199