Page 262 - Perdana Menteri RI Final
P. 262

SUKIMAN WIRJOSANDJOJO:                                                                                                                kiprah politiknya bagi bangsa Indonesia.       laki-lakinya yang terpaut usia sedikit lebih tua

                                                                                                                                                  Satiman adalah tokoh penting yang membidani    di atasnya. Masa kecil Sukiman tidak ubahnya
            Pemimpin Islam Nasionalis                                                                                                             kelahiran salah satu organisasi pergerakan     anak kecil pada umumnya yang menikmati

                                                                                                                                                                                                 permainan-permainan yang menyenangkan,
                                                                                                                                                  bangsa Jawa pada awal abad ke-20. Adapun
                                                                                                                                                  Sukiman merupakan tokoh Masyumi yang           namun adakalanya pula ia harus membantu
                                                                                                                                                  juga pernah menjabat sebagai perdana menteri   orang tua, dan pergi ke sekolah.
                                                                                                                                                  keenam pada era Sukarno. Lebih dari sekedar
                                                                                                                                                                                                 Untuk urusan sekolah, Sukiman sebenarnya
                                                                                                                                                  posisi pentingnya dalam pemerintahan pada
                                                                                                                                                                                                 cukup terlambat, meskipun hal yang demikian
                                                                                                                                                  awal kemerdekaan Indonesia, seperti yang
                                                                                                                                                                                                 itu dapat dimaklumi dan sudah lumrah terjadi
                                                                                                                                                                                    2
                                                                                                                                                  ditunjukan oleh banyak sejarawan,  bahwa
                                                                                                                                                                                                 pada anak desa sebayanya. Di sekolah, Sukiman
                                                                                                                                                  Sukiman—bersama M. Natsir—merupakan
                          “… kita semua menyediakan jiwa dan              nasionalis; dan kalangan Islam yang biasa disebut                       dua tokoh terpenting dan paling berpengaruh    juga tidak begitu menonjol. Ia tidak pintar,
                          raga, harta kita untuk kepentingan nusa         tradisionalis—bahkan setelah keluarnya NU                               dalam partai politik Islam terbesar waktu itu,   namun juga tidak bodoh: sedang-sedang saja.
                          dan bangsa dalam rangka berbakti pada           dari Masyumi. Selama menjabat sebagai Perdana                           Masyumi.                                       Hanya saja, dua faktor penting dalam hidupnya
                                                                          Menteri, Sukiman juga mampu meningkatkan                                                                               yang membuatnya sehingga pendidikannya
                          Allah S.W.T.”
                                                                                                                                                  Satiman dan Sukiman terlahir dari keluarga     dapat terus berlanjut hingga tingkat yang tinggi,
                                                                          reputasi Indonesia di hadapan negara-negara
                          Sukiman Wirjosandjojo, 1959  1                                                                                          pedagang biasa yang menjalankan usaha jual     bahkan ia memperoleh hak  istimewa  untuk
                                                                          barat non-Belanda, pada saat bangsa ini tengah
                                                                                                                                                  beli kebutuhan pokok skala sedang. Namun       masuk ke sekolah untuk anak-anak orang Eropa
                                                                          terbelit oleh berbagai persoalan yang disisakan
                           PENGANTAR                                      terutama oleh konsensi-konsensi yang dihasilkan                         keduanya cukup beruntung karena orang tuanya   dan bumiputera kelas atas. Kedua hal tersebut
                                                                                                                                                  terbilang cukup mapan secara ekonomi paling    adalah peran Nyonya Wirjosandjojo—ibunya,
                                                                          dari KMB. Perjalanan Sukiman—atau Pak
                           Salah satu persoalan utama yang muncul
                                                                                                                                                  tidak  untuk  ukuran penduduk desa  saat  itu,   dan pertemanan ayahnya dengan seorang
                                                                          Dokter ia biasa dikenal—yang merupakan sosok
                           dalam politik Indonesia pada dekade 1950-an
                                                                                                                                                  sehingga, keduanya tumbuh dan dibesarkan       Belanda bernama Van Der Wall.
                                                                          pemimpin Islam nasionalis bermula dari sebuah
                           adalah mempertemukan dua kekuatan utama
                                                                                                                                                  dengan kondisi yang baik. Lebih dari itu,
                                                                          keluarga Jawa yang tinggal di kampung tepi
                           waktu  itu:  kelompok  Islam  dan  nasionalis.                                                                                                                        Nyonya Wirjosandjojo, merupakan perempuan
                                                                                                                                                  Wirjosandjojo  yang  dikenal  sebagai  seorang
                                                                          Sungai Bengawan Solo di Surakarta.
                           Pada satu era pemerintahan perdana menteri,                                                                                                                           desa yang teremansipasi. Di lingkungannya,
                                                                                                                                                  saudagar juga memiliki cakrawala berpikir yang
                           nama Sukiman muncul menggantikan Natsir                                                                                                                               ibunda  Sukiman  dikenal  sebagai  mubalighah—
                                                                          KELUARGA JAWA DAN KAWAN                                                 luas dan maju. Ia melihat pendidikan adalah hal
                           sebagai pemimpin kabinet. Walaupun berasal                                                                                                                            pendakwah perempuan yang menyebarkan
                                                                          BELANDANYA                                                              penting, untuk itu anak laki-laki dari keluarga
                           dari partai yang sama dengan pendahulunya,                                                                                                                            agama Islam. Ia biasa memberi ceramah di
                                                                                                                                                  ini  disekolahkan  hingga  jenjang  yang  tinggi.
                           yakni Masyumi, Sukiman adalah figur yang       Dalam sejarah Indonesia, tidak banyak tercatat                                                                         majelis-majelis pengajian, juga di desa-desa.
                                                                                                                                                  Tanpa segan, Wirjosandjojo memasukan anak-
                           berbeda dengan Natsir. Ia merepresentasikan    sebuah keluarga yang melahirkan dua tokoh besar                                                                        Sebagai   pendakwah    perempuan,   Nyonya
                                                                                                                                                  anaknya ke sekolah modern  yang menganut
                           kalangan  Islam  yang  menganggap  munculnya   sekaligus. Satu dari sedikit itu adalah keluarga                                                                       Wirjosandjojo tentu memiliki keiistimewaan.
                                                                                                                                                  model pendidikan ala barat.
                           Indonesia, sebuah negara sekuler, bukan sebagai   Wirjosandjojo yang tinggal di Kampung Beton                                                                         Dapat dibayangkan pada saat itu, perempuan
                           ancaman. Sukiman juga menjadi tokoh Islam      Surakarta—sebuah pemukiman penduduk Jawa                                Sukiman terlahir pada 18 Juli 1898 sebagai putra   yang memiliki kemampuan seperti Nyonya
                           yang  mampu menjadi jembatan penghubung        biasa di pinggir aliran Sungai Bengawan Solo.                           bungsu dalam keluarga Wirjosandjojo yang       Wirjosandjojo tidaklah banyak bahkan dapat
                           kekuatan-kekuatan politik di Indonesia saat itu.   Dari keluarga Wirjosandjojo terlahir dua orang                      memiliki empat orang  anak: dua orang putra    dihitung dengan jari, terlebih lagi untuk
                           Meskipun  dikenal  memiliki  sikap  politik  yang   anak laki-laki: Satiman dan adiknya bernama                        dan dua orang putri. Dua kakak perempuannya,   berbicara soal agama lebih kerap menjadi ranah
                           keras terhadap kelompok kiri, ia adalah orang   Sukiman,  keduanya adalah dokter Jawa yang                             Kartoyo dan Wiyoso, adalah anak pertama dan    kaum pria ketimbang perempuan, sehingga
                           yang dapat diterima oleh berbagai kalangan:    dikenang dalam sejarah oleh karena jasa dan                             kedua, adapun Satiman merupakan saudara        dapat diketahui bahwa Nyonya Wirjosandjojo





                           250   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  251
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267