Page 264 - Perdana Menteri RI Final
P. 264

termasuk perempuan yang melek literasi. Lebih   Atas pertolongan mantan tentara ini para putra                         ketakutan para pemukim Eropa akan ancaman      yang berhasil dibangun sebagai sebuah komplek
                           dari itu, Nyonya Wirjosandjojo juga merupakan   Wirjosandjojo dapat menempuh pendidikan                                penyakit tropis yang mematikan yang sewaktu-   yang terdiri atas beberapa bangunan dengan

                           pribadi yang kreatif. Ia tidak hanya piawai    dasar pada sekolahan elit. Karena Sukiman dan                           waktu dapat ditularkan oleh para tetangga      dikelilingi pagar rapi. Sulitnya orang keluar
                           dalam hal ilmu agama, namun juga sosok ulet    Satiman diangkat sebagai anak dari Van Der                              pribumi mereka.                                masuk lingkungan STOVIA tentu menciptakan
                           yang kaya dengan ide-ide cemerlang. Suatu      Wall, tidak tanggung-tanggung, keduanya dapat                                                                          suasana belajar yang nyaman, dan pada sisi lain
                                                                                                                                                  STOVIA tidak hanya menjadi sekolah bagi
                           saat, Nyonya Wirjosandjojo memperoleh hak      diterima di ELS (Europesche Lagere School)—                                                                            turut menciptakan interaksi yang intensif antar
                                                                                                                                                  para calon dokter Jawa, melainkan pula menjadi
                           untuk mendirikan rumah gadai (pandhuis) dari   sekolah dasar  yang  khusus  diperuntukan  bagi                                                                        sesama mereka. Meskipun demikian, tidak dapat
                                                                                                                                                  persemaian gagasan politik kelompok muda
                           pemerintah. Walaupun, pada kenyataannnya,      anak-anak orang Eropa maupun golongan bangsa                                                                           dipungkiri, sikap yang terlalu mengagungkan
                                                                                                                                                  terdidik bangsa Indonesia, sekaligus titik temu
                           ia tidak bersedia meneruskan bisnis ini karena   lain dari kalangan terkemuka. Tentu untuk                                                                            primordialisme dan belum adanya ikatan
                                                                                                                                                  bagi kalangan pergerakan nasional. Pada 1908,
                           menurut pemahaman agama yang dimilikinya,      bersekolah di ELS yang menggunakan bahasa                                                                              persatuan sebagai suatu bangsa menjadi salah satu
                                                                                                                                                  Budi Oetomo yang dianggap sebagai pelopor      masalah kaum pergerakan waktu itu yang kerap
                           pegadaian adalah usaha yang terlarang. Sukiman,   Belanda sebagai pengantar, keduanya harus
                                                                                                                                                  bagi kemunculan organisasi pergerakan lainnya   kali melahirkan pertentangan-pertentangan
                           seperti halnya Satiman, tentu beruntung.       bekerja keras dan tekun, terlebih lagi keduanya
                                                                                                                                                  dibentuk oleh para priyayi Jawa yang belajar di   tajam. Pada saatnya nanti, Sukiman akan turut
                           Walaupun bukan termasuk keturunan ningrat      besar dari keluarga Jawa dan Islam yang tidak
                                                                                                                                                  STOVIA. Tak berselang lama kemudian berbagai   berperan dalam menyelesaikan persoalan ini saat
                           kelas  atas, atau pegawai berpangkat  pangkat   begitu akrab dengan Bahasa Belanda. Walaupun
                                                                                                                                                  organisasi yang menggunakan latar belakang
                                                                          bukan yang terbaik, kedua bersaudara ini dapat                                                                         ia memimpin Perhimpunan Indonesia.
                           tinggi, keduanya dilahirkan dan diasuh oleh
                                                                                                                                                  etniskultural sebagai identitas bermunculan,
                                                                          menyelesaikan sekolahnya di ELS. Satiman
                           perempuan teremansipasi, yang juga taat kepada
                                                                                                                                                  seperti Tri Koro Dharmo (1915), Jong Sumatera   Setelah menghabiskan  tujuh  tahun  hidup  di
                                                                          yang lulus lebih dahulu kemudian melanjutkan
                           agama.                                                                                                                                                                Boyolali bersama keluarga Van Der Wall,
                                                                                                                                                  Bond (1917), Studerenden Vereeniging Minahasa
                                                                          pendidikannya di STOVIA. Langkah Satiman
                                                                                                                                                  (1918) dan Jong Ambon (1918). Tri Koro Dharmo   Sukiman  berangkat  ke  Batavia.  Pada  1914,
                           Tokoh lain yang memiliki peranan tak kalah     ini  kemudian disusul oleh adiknya setelah ia
                                                                                                                                                  yang pada tahun 1918 berubah menjadi Jong Java   setahun sebelum kakaknya mendeklarasikan
                           penting bagi keduanya adalah seorang Belanda   memperoleh ijazah dari ELS Boyolali.
                                                                                                                                                  merupakan organisasi untuk menghimpun para     berdirinya Tri Koro Darmo, Sukiman resmi
                           bernama Van Der Wall. Ia merupakan pensiunan                                                                                                                          terdaftar sebagai siswa sekolah dokter Jawa atas
                           tentara yang memilih tidak kembali ke          STOVIA DAN DUNIA PERGERAKAN                                             pemuda yang dicetuskan oleh Satiman.
                                                                          BATAVIA                                                                                                                beasiswa pemerintah kolonial. Di sekolah ini, ia
                           negaranya melainkan menetap di Boyolali untuk
                                                                                                                                                  Sedikit berbeda dengan yang terjadi di luar    memulai kisah hidup baru di ibu kota koloni yang
                           mengabdikan sisa hidupnya bagi  kemanusiaan.   Pada tahun 1898, sekolah yang sebelumnya                                gedung sekolahan di mana berbagai organisasi   tengah semarak dengan aktivitas pergerakan.
                           Di kota yang berjarak tidak terlalu jauh dari   bernama  ‘Sekolah  Pendidikan  Ahli  Ilmu                              dengan  berbagai macam arah  ideologi  baik    Batavia pada awal abad ke-20, adalah kota yang

                           Solo  itu, Van Der  Wall  membangun  asrama    Kedokteran Pribumi’ berubah nama menjadi                                agama maupun sekuler bermunculan, organisasi   melahirkan gagasan kesadaran nasional yang
                           sekaligus  sekolahan.  Hubungan  Sukiman       ‘Sekolah Dokter Pribumi’ atau dalam bahasa                              yang berkembang di dalam STOVIA umumnya        banyak menghinggapi benak kaum pribumi
                           dengan Van Der Wall terjalin melalui bapaknya.   Belanda disebut School tot Opleiding van                              berupa perkumpulan kedaerahan yang cenderung   urban dan golongan cendekia-terpelajar yang
                           Wirjosandjojo adalah orang yang dipercaya Van   Inlandsche Artsen namun lebih popoler disebut                          lunak dan tidak terlalu politis. Situasi di STOVIA   menimba ilmu di berbagai jenjang pendidikan.
                           Der Wall untuk mengurus kebutuhan pokok,       STOVIA.  Sekolah  ini berada di  Batavia  yang                          memang sangat mendukung bagi kemunculan        Di kota tempat dimana Sukiman belajar menjadi
                           terutama bahan  pangan,  bagi  anak-anak  yang   dibangun dengan maksud untuk dapat mencetak                           organisasi pergerakan. Sekolah ini menampung   juru sembuh modern ini, industri media cetak
                           tinggal di asrama yang ia kelola. Relasi bisnis   para  dokter  Jawa (pribumi) guna  memerangi                         para pelajar dari berbagai daerah di wilayah   bumiputera telah berkembang, demikian pula

                           ini berkembang menjadi pertemanan yang         berbagai penyakit dan ancaman kesahatan yang                            Hindia Belanda yang menjadikan wajar—          dengan ideologi-ideologi baru yang mekar, ada
                           akrab, hingga Wirjosandjojo menitipkan kedua   terjadi pada masyarakat tanah jajahan. Selain                           ketika gagasan mengenai bangsa Indonesia       pula  berbagai bentuk  hiburan populer  seperti
                           anak laki-lakinya kepada Van Der Wall untuk    didorong oleh kurangnya tenaga kesehatan                                belum diformulasikan—masing-masing kelopok     film; teater stambul; dan musik keroncong, yang
                           diangkat anak. Sejak itu, kedua bersaudara     bangsa Belanda, alasan perlunya para dokter                             menggunakan identitas kedaerahannya. Selain    semuanya itu hadir dalam suasana penderitaan
                                                                                                                                                                           3
                           pindah ke Boyolali.                            Jawa ini juga terkait dengan segregasi sosial, dan                      itu, atas jasa Dr. H.F. Roll,  gedung STOVIA   di bawah penjajahan Belanda. Menurut Adrian




                           252   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  253
   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269