Page 269 - Perdana Menteri RI Final
P. 269

Di  tahun  itu,  Perhimpunan  Indonesia  kolonial, sebagaimana yang nanti ia praktekan
 menerbitkan  Gedenkboek van het Indonesische   setelah kembali ke tanah air.

 Vereeniging (1908-1924), buku kenangan ulang
 Dalam organisasi yang memiliki semangat baru
 tahun yang ke-15 perhimpunan—yang kemudian
 itu,  Sukiman,  bersama  sejumlah  mahasiswa
 menjadi sangat ikonik dengan visualisasi Banteng
 lain yang kesemuanya belum lama menginjakan
 dan merah putih pada bagian sampulnya. Buku
 kakinya di negeri Belanda seperti, Nazir
 ini  mengumpulkan 13  artikel  sumbangan  dari
 Datoek Pamuntjak (ketua), dan A.A. Maramis
 para anggota yang menggunakan nama samaran
 (sekretaris) menjadi orang-orang yang dipercaya
 dalam setiap tulisannya. Salah satu tulisan dalam
 10
 menjadi pengurus baru.  Bagi Sukiman yang
 terbitan ini berjudul “Nieuwe Banen” (Tugas-
 telah akrab dengan dunia pergerakan saat
 tugas Baru) yang membuka uraian dengan
 di  STOVIA,  pengalaman  ini  tentu  bukalah
 membuat komparasi pergerakan kemerdekaan di
 Rusia, India, dan Irlandia dengan yang sedang   hal yang baru. Meskipun demikian, ia dapat
 berlangsung  di  Indonesia.  Penulis  kemudian   meraskan lompatan yang sangat dasyat ketika
                                                                                             Pengurus Perhimpunan Indonesia 1925
 menunjukan persamaan terpenting adalah   berada di Belanda, dari gerakan politik yang
 kalem dan kooperatif ala Budi Utomo maupun                                                  Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 sikap pemudanya di mana ia juga menakankan
 Jong Java seperti yang pernah ia ikuti saat sekolah
 perkembangan gerakan pemuda  Indonesia  di
 Belanda menunjukan kemajuan yang sangat   di Batavia, berubah drastis menjadi radikal dan
               Jika sebelumnya nama  Indonesische Vereeneging   Entah  sejak  kapan  persisnya  tetapi  saat  ia
 baik. Akhir tulisan ini ditutup dengan nada yang   berisi nada-nada keras yang disuarakan tanpa   dan Perhimpunan Indonesia kerap digunakan   tinggal di Yogyakarta, Sukiman memperoleh
 lebih keras dengan ujaran bahwa kemenangan   tedeng aling-aling. Lebih dari itu, baru pada
               secara bergantian, maka pada era kepengurusan   julukan baru dengan panggilan Pak Dokter.
 bangsa Indonesia dapat diperoleh tidak dalam   tahun pertamanya menginjakan kaki di Belanda,
               Sukiman, nama Perhimpunan Indonesia (PI)        Sapaan ini nantinya menjadi sangat populer di
 pekerjaan (yang diberikan penjajah), tidak pula   Sukiman telah banyak berinteraksi dengan
               digunakan  secara  resmi  untuk  menggantikan   kalangan Masyumi—salah satu partai dimana
 dalam pemerintahan palsu dan badan perwakilan   ‘orang-orang buangan’ pemerintah kolonial   Indonesiche Vereeneging. Bersamaan dengan itu,   Sukiman mencurahkan kiprah politiknya. Bagi

 semu (volksraad yang dimandulkan), melainkan   seperti anggota tiga serangkai, dan Semaoen—
               perhimpunan juga mensepakati penggunaan         Kustami, istri Sukiman, permulaan tinggal
 berasal dari kekuatan sendiri untuk membangun   yang walaupun banyak menghabiskan waktu
               bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar       kota  vorstenlanden itu merupakan tahun-tahun
 yang menjadi tugas pemimpin sekarang.  pengasingannya di Soviet namun tetap membina
               dalam  keseharian  maupun  dalam  rapat-rapat.   ketika ia  harus  banyak  melakukan  adaptasi,
 jejaringnya  di  Belanda—maupun  sesama
               Terbitan perhimpunan tidak berubah, tetap
 “Sakri  Soenarto”  yang  disebut  dalam  akhir                baik dikarenakan statusnya sebagai istri dan ibu,
 mahasiswa pemikir yang kritis semisal Hatta,
               memuat artikel-artikel radikal. Dikarenakan
 artikel sebagai penulis merupakan nama samaran                dan terlebih lagi karena latar kulturalnya yang
 dan Ali Sastroamidjojo.
               Sukiman dan Mononutu harus meniggalkan
 Sukiman. Nama “Sakri” barangkali diambil dari                 berbeda. Kustami memang memiliki alur darah
               Belanda, puncak kepengurusan organisasi ini
 nama puta pertamanya. Di balik pembawaannya   Pada  1925,  perubahan  kepengurusan  Jawa dari leluhur yang berasal dari Bagelen
               kemudian digantikan oleh Boediarto mahasiswa
 yang kalem bahkan  terkesan kaku, gagasan   perhimpunan terjadi. Kali ini, Sukiman   (Purworejo), akan tetapi ia dilahirkan di Barabai,
               hukum, dan Soerono mahasiswa kedokteran. 12
 yang diejawantahkan dalam “Nieuwe Banen”   memperoleh mandat sebagai ketua perhimpunan,   Kalimantan Timur. Saat itu, ayahnya yang
 menggambarkan sisi kritis dan radikalnya.   didampingi  A.I.Z.  Mononutu—mahasiswa  merupakan kawan satu angkatan Dr. Radjiman,
               PAK DOKTER
 Di sisi lain, ia juga menunjukan konsistensi   hukum asal Manado yang saat pertama datang   memang memperoleh penugasan untuk bekerja
 terhadap prinsip yang dikatakannya untuk tidak   ke Belanda bersikap apolitis, namun kemudian   Sepulang dari Belanda dengan membawa   di tanah seberang. Sedangkan keluarga intinya
 menggantungkan diri baik untuk pekerjaan   berubah  menjadi  sangat  nasionalis  oleh  karena   ijazah Art (dokter penuh), Sukiman memilih   berada di Bogor. Kustami dibesarkan dalam
 11
 maupun dalam hal politik kepada pemerintah   pengaruh pidato-pidato di perhimpunan.    tinggal di Yogyakarta besama keluarganya.   keluarga dokter yang moderen yang terbiasa




 256  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  257
   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274