Page 270 - Perdana Menteri RI Final
P. 270

berbicara Belanda dalam kesehariannya, dan ia   lebih dari sekedar kecukupan. Ia memiliki                              orang pribumi melainkan Eropa dan Tionghoa.    Pilihan politiknya itu cukup menarik mengingat
                           pun menempuh pendidikan di sekolah Belanda.    rumah yang besar dengan halaman yang luas.                              Artinya, reputasi Sukiman sebagai dokter       sepanjang  perjalanan  hidupnya,  Sukiman  yang
                           Adapun bahasa Melayu baru dibiasakannya        Bahkan setelah  kariernya  sebagai juru  sembuh                         telah bersanding dengan para dokter bangsa     Jawa itu lebih dekat dengan gerakan nasionalis-

                           ketika ia mulai aktif di Jong Java. Sehingga,   semakin melejit, Sukiman mampu membeli                                 Eropa  yang  juga  banyak  membuka  praktik  di   sekuler seperti Jong Java dan PI di Belanda.
                           pantas jika Kustami harus belajar bahasa Jawa   beberapa mobil baik untuk keperluan pribadi                            Yogyakarta. Salah satu pasien Sukiman adalah Ki   Sukiman tidak memiliki latar pendidikan
                                                                  13
                           ketika ia mulai menetap di kota Yogyakarta.    maupun pelayanan kesehatan. Selain itu ia juga                          Hadjar Dewantara—tokoh pendiri Tamansiswa,     agama seperti halnya tokoh-tokoh Islam semisal
                                                                          membangun klinik yang dilengkapi dengan alat                            kawan saat Belanda, yang juga seorang jebolan   Natsir  yang  mencerminkan  pendidikan Islam
                           Kustami, dalam beberapa sisi, memiliki
                                                                                                                                                           14
                                                                          rotgen. Semuanya itu tidak datang begitu saja,                          STOVIA.  Didorong oleh kesuksesan adiknya      moderen;  maupun Wahid  Hasyim sebagai
                           kemiripan dengan Nyonya Wirjosandjojo. Paling
                                                                          namun dirintisnya secara perlahan dengan penuh                          yang mampu bekerja sendiri tanpa harus         representasi kalangan pesantren. Sukiman
                           tidak, keduanya sama-sama perempuan yang
                                                                          kerja keras. Terlebih lagi, Sukiman adalah dokter                       mengabdikan diri kepada pemerintah kolonial,   adalah produk murni dari sistem pendidikan
                           teremansipasi, keduanya adalah para perempuan
                                                                          yang memiliki prinsip untuk tidak bekerja bagi                          Satiman yang lebih dahulu menjadi dokter Jawa   barat, dan barangkali pengetahuannya tentang
                           terdidik pada zaman itu. Selain mahir berbahasa
                                                                          pemerintah kolonial.                                                    berniat melanjutkan studi ke Belanda. Ia pun   Islam lebih merupakan hasil yang ia peroleh dari
                           Belanda, membaca-tulis, dan pernah terlibat
                                                                                                                                                  menitipkan keluarganya kepada Sukiman yang     keluarga semasa tinggal di Surakarta. Selama
                           dalam  aktivitas  organisasi,  Kustami  juga
                                                                          Di Yogyakarta, Sukiman memperoleh pekerjaan
                                                                                                                                                  memang hidupnya serba berkecukupan.            ini, gagasan-gagasan yang  ia kembangkan
                           memiliki  beragam  keterampilan  yang  dapat
                                                                          pertamanya sebagai dokter di klinik pengobatan                                                                         terutama ketika mulai aktif di perhimpunan juga
                           digunakannya untuk bekerja. Ia membuka
                                                                          milik Muhammadiyah, yang dikenal dengan                                 ORGANISASI ISLAM                               tidak bersentuhan dengan Islam baik sebagai
                           kursus keterampilan bagi kaum perempuan yang
                                                                          nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).                                                                               pemikiran politik, apalagi pemikiran agama.
                           mengajari mereka merangkai bunga, memasak,                                                                             Pada fase ini, ada hal menarik yang terjadi
                                                                          Tawaran bekerja ini datang dari pimpinan
                           memotong, juga menjahit. Kursus ini menjadi                                                                            dengan Sukiman yakni kedekatannya dengan       Moh. Roem—salah satu tokoh Masyumi yang
                                                                          Muhamadiyah waktu itu, K.H. Fahrudin, pada
                           terkenal dan memperoleh murid yang banyak dari                                                                         Islam. Bukan hanya dalam hal pekerjaan         memiliki kedekatan pribadi dengan Sukiman—
                                                                          sekitar 1926. Saat itu, Sumowidagdo, dokter
                           berbagai tempat karena Kustami mengajarkan                                                                             dimana  Sukiman menjadi  dokter  bagi  badan
                                                                          yang bertugas di PKO, dipindah tugaskan                                                                                memberikan penjelasan bahwasannya pilihan
                           jenis keterampilan moderen yang disenangi                                                                              sayap organisasi Muhammadiyah, ia juga mulai   politik Sukiman merupakan bagian dari agenda
                                                                          oleh pemerintah ke tempat lain. Kekosongan
                           oleh orang-orang Belanda seperti membuat topi                                                                          aktif dalam politik pergerakan Islam, sejak    besar  PI  yang  meminta  para  anggotanya  yang
                                                                          ini menjadi peluang bagi Sukiman untuk
                           perempuan model Eropa, dan aneka karangan                                                                              mulai menetap di Yogyakarta. Para lulusan
                                                                          memperoleh pekerjaan tanpa harus berurusan                                                                             telah pulang ke tanah air untuk masuk dan
                           bunga untuk pesta.                                                                                                     Belanda pada umumnya akan dihadapkan pada
                                                                          ataupun menggantungkan hidupnya kepada                                                                                 memperkuat organisasi pergerakan yang ada.
                                                                                                                                                  sejumlah  pilihan  ketika  mereka  kembali  ke   Ketika Sukiman kembali, PSI  yang  akar
                           Pasangan Sukiman dan Kustami juga penyuka      pemerintah kolonial.
                                                                                                                                                  Indonesia, walaupun banyak yang kemudian       gerakannya berasal dari SDI yang kemudian
                           musik, dengan selera Eropa tentunya. Di balik
                                                                          Selain bekerja untuk PKO, Sukiman juga                                  terjun ke dunia politik pergerakan, namun      berubah menjadi SI tengah dalam keadaan
                           pembawaannya yang datar dan cenderung
                                                                          membuka kliniknya sendiri yang terletak di                              tidak semuanya alumni memilih jalan yang       limbung. Pada sisi lain, partai dengan ideologi
                           dingin, Sukiman ternyata mahir memainkan
                                                                          sebelah Pura Pakualaman, tidak seberapa jauh                            sama. Terutama untuk para mantan aktifis       nasionalis seperti PNI yang tampaknya
                           biola untuk memperdengarkan musik klasik.
                                                                          dari pusat kota. Oleh karena reputasinya yang                           PI, banyak yang melanjutkan perjuangannya      lebih cocok dengan latar belakang politik-
                           Adapun sang nyonya piawai memainkan piano.
                                                                          baik sebagai seorang dokter, dan tentunya                               dengan membentuk Studie Club semisal Hatta,    ideologis Sukiman, masih dalam proses awal
                           Tampaknya, sepulang dari Belanda, Sukiman
                                                                          karena kepakarannya dalam bidang medis yang                             dan ada pula yang berpolitik melalui jalur partai   pembentukan.  Sedangkan, untuk turut dalam
                                                                                                                                                                                                              15
                           berhasil membangun rumah tangga ideal,
                                                                          terbentuk oleh ketekunan Sukiman yang kerap                             seperti Ali Sastroamidjojo. Demikian pula      barisan partai berideologi kiri, Sukiman—yang
                           gambaran dari keluarga pribumi modern Hindia
                                                                          melakukan risetnya sendiri—klinik yang ia buka                          yang dialami Sukiman. Sepulang dari Belanda,   nantinya menjadi salah satu tokoh yang dikenal
                           Belanda awal abad ke-20.
                                                                          menjadi sangat terkenal dan paling laris. Pasien                        disamping membina kehidupan sebagaimana        atas sikap anti-komunisnya—tampaknya tidak
                           Dengan pekerjaannya sebagai dokter lulusan     yang berobat ke kliniknya berasal dari berbagai                         lumrahnya orang berkeluarga, ia masuk dalam    begitu tertarik. Alasan ini menjadi masuk akal
                           Belanda, secara ekonomi Keluarga Sukiman       daerah dan golongan—tidak hanya orang-                                  Partai Sarikat Islam (PSI).                    ketika melihat bahwa pada saat kembali Sukiman





                           258   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  259
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275