Page 265 - Perdana Menteri RI Final
P. 265

termasuk perempuan yang melek literasi. Lebih   Atas pertolongan mantan tentara ini para putra   ketakutan para pemukim Eropa akan ancaman   yang berhasil dibangun sebagai sebuah komplek
 dari itu, Nyonya Wirjosandjojo juga merupakan   Wirjosandjojo dapat menempuh pendidikan   penyakit tropis yang mematikan yang sewaktu-  yang terdiri atas beberapa bangunan dengan

 pribadi yang kreatif. Ia tidak hanya piawai   dasar pada sekolahan elit. Karena Sukiman dan   waktu dapat ditularkan oleh para tetangga   dikelilingi pagar rapi. Sulitnya orang keluar
 dalam hal ilmu agama, namun juga sosok ulet   Satiman diangkat sebagai anak dari Van Der   pribumi mereka.   masuk lingkungan STOVIA tentu menciptakan
 yang kaya dengan ide-ide cemerlang. Suatu   Wall, tidak tanggung-tanggung, keduanya dapat   suasana belajar yang nyaman, dan pada sisi lain
               STOVIA tidak hanya menjadi sekolah bagi
 saat, Nyonya Wirjosandjojo memperoleh hak   diterima di ELS (Europesche Lagere School)—  turut menciptakan interaksi yang intensif antar
               para calon dokter Jawa, melainkan pula menjadi
 untuk mendirikan rumah gadai (pandhuis) dari   sekolah dasar  yang  khusus  diperuntukan  bagi   sesama mereka. Meskipun demikian, tidak dapat
               persemaian gagasan politik kelompok muda
 pemerintah. Walaupun, pada kenyataannnya,   anak-anak orang Eropa maupun golongan bangsa   dipungkiri, sikap yang terlalu mengagungkan
               terdidik bangsa Indonesia, sekaligus titik temu
 ia tidak bersedia meneruskan bisnis ini karena   lain dari kalangan terkemuka. Tentu untuk   primordialisme dan belum adanya ikatan
               bagi kalangan pergerakan nasional. Pada 1908,
 menurut pemahaman agama yang dimilikinya,   bersekolah di ELS yang menggunakan bahasa   persatuan sebagai suatu bangsa menjadi salah satu
               Budi Oetomo yang dianggap sebagai pelopor       masalah kaum pergerakan waktu itu yang kerap
 pegadaian adalah usaha yang terlarang. Sukiman,   Belanda sebagai pengantar, keduanya harus
               bagi kemunculan organisasi pergerakan lainnya   kali melahirkan pertentangan-pertentangan
 seperti halnya Satiman, tentu beruntung.   bekerja keras dan tekun, terlebih lagi keduanya
               dibentuk oleh para priyayi Jawa yang belajar di   tajam. Pada saatnya nanti, Sukiman akan turut
 Walaupun bukan termasuk keturunan ningrat   besar dari keluarga Jawa dan Islam yang tidak
               STOVIA. Tak berselang lama kemudian berbagai    berperan dalam menyelesaikan persoalan ini saat
 kelas  atas, atau pegawai berpangkat  pangkat   begitu akrab dengan Bahasa Belanda. Walaupun
               organisasi yang menggunakan latar belakang
 bukan yang terbaik, kedua bersaudara ini dapat                ia memimpin Perhimpunan Indonesia.
 tinggi, keduanya dilahirkan dan diasuh oleh
               etniskultural sebagai identitas bermunculan,
 menyelesaikan sekolahnya di ELS. Satiman
 perempuan teremansipasi, yang juga taat kepada
               seperti Tri Koro Dharmo (1915), Jong Sumatera   Setelah menghabiskan  tujuh  tahun  hidup  di
 yang lulus lebih dahulu kemudian melanjutkan
 agama.                                                        Boyolali bersama keluarga Van Der Wall,
               Bond (1917), Studerenden Vereeniging Minahasa
 pendidikannya di STOVIA. Langkah Satiman
               (1918) dan Jong Ambon (1918). Tri Koro Dharmo   Sukiman  berangkat  ke  Batavia.  Pada  1914,
 Tokoh lain yang memiliki peranan tak kalah   ini  kemudian disusul oleh adiknya setelah ia
               yang pada tahun 1918 berubah menjadi Jong Java   setahun sebelum kakaknya mendeklarasikan
 penting bagi keduanya adalah seorang Belanda   memperoleh ijazah dari ELS Boyolali.
               merupakan organisasi untuk menghimpun para      berdirinya Tri Koro Darmo, Sukiman resmi
 bernama Van Der Wall. Ia merupakan pensiunan                  terdaftar sebagai siswa sekolah dokter Jawa atas
 tentara yang memilih tidak kembali ke   STOVIA DAN DUNIA PERGERAKAN   pemuda yang dicetuskan oleh Satiman.
 BATAVIA                                                       beasiswa pemerintah kolonial. Di sekolah ini, ia
 negaranya melainkan menetap di Boyolali untuk
               Sedikit berbeda dengan yang terjadi di luar     memulai kisah hidup baru di ibu kota koloni yang
 mengabdikan sisa hidupnya bagi  kemanusiaan.   Pada tahun 1898, sekolah yang sebelumnya   gedung sekolahan di mana berbagai organisasi   tengah semarak dengan aktivitas pergerakan.
 Di kota yang berjarak tidak terlalu jauh dari   bernama  ‘Sekolah  Pendidikan  Ahli  Ilmu   dengan  berbagai macam arah  ideologi  baik   Batavia pada awal abad ke-20, adalah kota yang

 Solo  itu, Van Der  Wall  membangun  asrama   Kedokteran Pribumi’ berubah nama menjadi   agama maupun sekuler bermunculan, organisasi   melahirkan gagasan kesadaran nasional yang
 sekaligus  sekolahan.  Hubungan  Sukiman   ‘Sekolah Dokter Pribumi’ atau dalam bahasa   yang berkembang di dalam STOVIA umumnya   banyak menghinggapi benak kaum pribumi
 dengan Van Der Wall terjalin melalui bapaknya.   Belanda disebut School tot Opleiding van   berupa perkumpulan kedaerahan yang cenderung   urban dan golongan cendekia-terpelajar yang
 Wirjosandjojo adalah orang yang dipercaya Van   Inlandsche Artsen namun lebih popoler disebut   lunak dan tidak terlalu politis. Situasi di STOVIA   menimba ilmu di berbagai jenjang pendidikan.
 Der Wall untuk mengurus kebutuhan pokok,   STOVIA.  Sekolah  ini berada di  Batavia  yang   memang sangat mendukung bagi kemunculan   Di kota tempat dimana Sukiman belajar menjadi
 terutama bahan  pangan,  bagi  anak-anak  yang   dibangun dengan maksud untuk dapat mencetak   organisasi pergerakan. Sekolah ini menampung   juru sembuh modern ini, industri media cetak
 tinggal di asrama yang ia kelola. Relasi bisnis   para  dokter  Jawa (pribumi) guna  memerangi   para pelajar dari berbagai daerah di wilayah   bumiputera telah berkembang, demikian pula

 ini berkembang menjadi pertemanan yang   berbagai penyakit dan ancaman kesahatan yang   Hindia Belanda yang menjadikan wajar—  dengan ideologi-ideologi baru yang mekar, ada
 akrab, hingga Wirjosandjojo menitipkan kedua   terjadi pada masyarakat tanah jajahan. Selain   ketika gagasan mengenai bangsa Indonesia   pula  berbagai bentuk  hiburan populer  seperti
 anak laki-lakinya kepada Van Der Wall untuk   didorong oleh kurangnya tenaga kesehatan   belum diformulasikan—masing-masing kelopok   film; teater stambul; dan musik keroncong, yang
 diangkat anak. Sejak itu, kedua bersaudara   bangsa Belanda, alasan perlunya para dokter   menggunakan identitas kedaerahannya. Selain   semuanya itu hadir dalam suasana penderitaan
                                         3
 pindah ke Boyolali.  Jawa ini juga terkait dengan segregasi sosial, dan   itu, atas jasa Dr. H.F. Roll,  gedung STOVIA   di bawah penjajahan Belanda. Menurut Adrian




 252  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  253
   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270