Page 268 - Perdana Menteri RI Final
P. 268

Di   tahun   itu,  Perhimpunan    Indonesia    kolonial, sebagaimana yang nanti ia praktekan
                           menerbitkan  Gedenkboek van het Indonesische   setelah kembali ke tanah air.

                           Vereeniging (1908-1924), buku kenangan ulang
                                                                          Dalam organisasi yang memiliki semangat baru
                           tahun yang ke-15 perhimpunan—yang kemudian
                                                                          itu,  Sukiman,  bersama  sejumlah  mahasiswa
                           menjadi sangat ikonik dengan visualisasi Banteng
                                                                          lain yang kesemuanya belum lama menginjakan
                           dan merah putih pada bagian sampulnya. Buku
                                                                          kakinya di negeri Belanda seperti, Nazir
                           ini  mengumpulkan 13  artikel  sumbangan  dari
                                                                          Datoek Pamuntjak (ketua), dan A.A. Maramis
                           para anggota yang menggunakan nama samaran
                                                                          (sekretaris) menjadi orang-orang yang dipercaya
                           dalam setiap tulisannya. Salah satu tulisan dalam
                                                                                                10
                                                                          menjadi pengurus baru.  Bagi Sukiman yang
                           terbitan ini berjudul “Nieuwe Banen” (Tugas-
                                                                          telah akrab dengan dunia pergerakan saat
                           tugas Baru) yang membuka uraian dengan
                                                                          di  STOVIA,  pengalaman  ini  tentu  bukalah
                           membuat komparasi pergerakan kemerdekaan di
                           Rusia, India, dan Irlandia dengan yang sedang   hal yang baru. Meskipun demikian, ia dapat
                           berlangsung  di  Indonesia.  Penulis  kemudian   meraskan lompatan yang sangat dasyat ketika
                                                                                                                                                                                                                               Pengurus Perhimpunan Indonesia 1925
                           menunjukan persamaan terpenting adalah         berada di Belanda, dari gerakan politik yang
                                                                          kalem dan kooperatif ala Budi Utomo maupun                                                                                                           Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                           sikap pemudanya di mana ia juga menakankan
                                                                          Jong Java seperti yang pernah ia ikuti saat sekolah
                           perkembangan gerakan pemuda  Indonesia  di
                           Belanda menunjukan kemajuan yang sangat        di Batavia, berubah drastis menjadi radikal dan
                                                                                                                                                  Jika sebelumnya nama  Indonesische Vereeneging   Entah  sejak  kapan  persisnya  tetapi  saat  ia
                           baik. Akhir tulisan ini ditutup dengan nada yang   berisi nada-nada keras yang disuarakan tanpa                        dan Perhimpunan Indonesia kerap digunakan      tinggal di Yogyakarta, Sukiman memperoleh
                           lebih keras dengan ujaran bahwa kemenangan     tedeng aling-aling. Lebih dari itu, baru pada
                                                                                                                                                  secara bergantian, maka pada era kepengurusan   julukan baru dengan panggilan Pak Dokter.
                           bangsa Indonesia dapat diperoleh tidak dalam   tahun pertamanya menginjakan kaki di Belanda,
                                                                                                                                                  Sukiman, nama Perhimpunan Indonesia (PI)       Sapaan ini nantinya menjadi sangat populer di
                           pekerjaan (yang diberikan penjajah), tidak pula   Sukiman telah banyak berinteraksi dengan
                                                                                                                                                  digunakan  secara  resmi  untuk  menggantikan   kalangan Masyumi—salah satu partai dimana
                           dalam pemerintahan palsu dan badan perwakilan   ‘orang-orang buangan’ pemerintah kolonial                              Indonesiche Vereeneging. Bersamaan dengan itu,   Sukiman mencurahkan kiprah politiknya. Bagi

                           semu (volksraad yang dimandulkan), melainkan   seperti anggota tiga serangkai, dan Semaoen—
                                                                                                                                                  perhimpunan juga mensepakati penggunaan        Kustami, istri Sukiman, permulaan tinggal
                           berasal dari kekuatan sendiri untuk membangun   yang walaupun banyak menghabiskan waktu
                                                                                                                                                  bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar      kota  vorstenlanden itu merupakan tahun-tahun
                           yang menjadi tugas pemimpin sekarang.          pengasingannya di Soviet namun tetap membina
                                                                                                                                                  dalam  keseharian  maupun  dalam  rapat-rapat.   ketika ia  harus  banyak  melakukan  adaptasi,
                                                                          jejaringnya  di  Belanda—maupun      sesama
                                                                                                                                                  Terbitan perhimpunan tidak berubah, tetap
                           “Sakri  Soenarto”  yang  disebut  dalam  akhir                                                                                                                        baik dikarenakan statusnya sebagai istri dan ibu,
                                                                          mahasiswa pemikir yang kritis semisal Hatta,
                                                                                                                                                  memuat artikel-artikel radikal. Dikarenakan
                           artikel sebagai penulis merupakan nama samaran                                                                                                                        dan terlebih lagi karena latar kulturalnya yang
                                                                          dan Ali Sastroamidjojo.
                                                                                                                                                  Sukiman dan Mononutu harus meniggalkan
                           Sukiman. Nama “Sakri” barangkali diambil dari                                                                                                                         berbeda. Kustami memang memiliki alur darah
                                                                                                                                                  Belanda, puncak kepengurusan organisasi ini
                           nama puta pertamanya. Di balik pembawaannya    Pada    1925,    perubahan     kepengurusan                                                                            Jawa dari leluhur yang berasal dari Bagelen
                                                                                                                                                  kemudian digantikan oleh Boediarto mahasiswa
                           yang kalem bahkan  terkesan kaku, gagasan      perhimpunan terjadi. Kali ini, Sukiman                                                                                 (Purworejo), akan tetapi ia dilahirkan di Barabai,
                                                                                                                                                  hukum, dan Soerono mahasiswa kedokteran. 12
                           yang diejawantahkan dalam “Nieuwe Banen”       memperoleh mandat sebagai ketua perhimpunan,                                                                           Kalimantan Timur. Saat itu, ayahnya yang
                           menggambarkan sisi kritis dan radikalnya.      didampingi   A.I.Z.   Mononutu—mahasiswa                                                                               merupakan kawan satu angkatan Dr. Radjiman,
                                                                                                                                                  PAK DOKTER
                           Di sisi lain, ia juga menunjukan konsistensi   hukum asal Manado yang saat pertama datang                                                                             memang memperoleh penugasan untuk bekerja
                           terhadap prinsip yang dikatakannya untuk tidak   ke Belanda bersikap apolitis, namun kemudian                          Sepulang dari Belanda dengan membawa           di tanah seberang. Sedangkan keluarga intinya
                           menggantungkan diri baik untuk pekerjaan       berubah  menjadi  sangat  nasionalis  oleh  karena                      ijazah Art (dokter penuh), Sukiman memilih     berada di Bogor. Kustami dibesarkan dalam
                                                                                                                    11
                           maupun dalam hal politik kepada pemerintah     pengaruh pidato-pidato di perhimpunan.                                  tinggal di Yogyakarta besama keluarganya.      keluarga dokter yang moderen yang terbiasa




                           256   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  257
   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273