Page 271 - Perdana Menteri RI Final
P. 271

berbicara Belanda dalam kesehariannya, dan ia   lebih dari sekedar kecukupan. Ia memiliki   orang pribumi melainkan Eropa dan Tionghoa.   Pilihan politiknya itu cukup menarik mengingat
 pun menempuh pendidikan di sekolah Belanda.   rumah yang besar dengan halaman yang luas.   Artinya, reputasi Sukiman sebagai dokter   sepanjang  perjalanan  hidupnya,  Sukiman  yang
 Adapun bahasa Melayu baru dibiasakannya   Bahkan setelah  kariernya  sebagai juru  sembuh   telah bersanding dengan para dokter bangsa   Jawa itu lebih dekat dengan gerakan nasionalis-

 ketika ia mulai aktif di Jong Java. Sehingga,   semakin melejit, Sukiman mampu membeli   Eropa  yang  juga  banyak  membuka  praktik  di   sekuler seperti Jong Java dan PI di Belanda.
 pantas jika Kustami harus belajar bahasa Jawa   beberapa mobil baik untuk keperluan pribadi   Yogyakarta. Salah satu pasien Sukiman adalah Ki   Sukiman tidak memiliki latar pendidikan
 13
 ketika ia mulai menetap di kota Yogyakarta.    maupun pelayanan kesehatan. Selain itu ia juga   Hadjar Dewantara—tokoh pendiri Tamansiswa,   agama seperti halnya tokoh-tokoh Islam semisal
 membangun klinik yang dilengkapi dengan alat   kawan saat Belanda, yang juga seorang jebolan   Natsir  yang  mencerminkan  pendidikan Islam
 Kustami, dalam beberapa sisi, memiliki
                        14
 rotgen. Semuanya itu tidak datang begitu saja,   STOVIA.  Didorong oleh kesuksesan adiknya   moderen;  maupun Wahid  Hasyim sebagai
 kemiripan dengan Nyonya Wirjosandjojo. Paling
 namun dirintisnya secara perlahan dengan penuh   yang mampu bekerja sendiri tanpa harus   representasi kalangan pesantren. Sukiman
 tidak, keduanya sama-sama perempuan yang
 kerja keras. Terlebih lagi, Sukiman adalah dokter   mengabdikan diri kepada pemerintah kolonial,   adalah produk murni dari sistem pendidikan
 teremansipasi, keduanya adalah para perempuan
 yang memiliki prinsip untuk tidak bekerja bagi   Satiman yang lebih dahulu menjadi dokter Jawa   barat, dan barangkali pengetahuannya tentang
 terdidik pada zaman itu. Selain mahir berbahasa
 pemerintah kolonial.  berniat melanjutkan studi ke Belanda. Ia pun   Islam lebih merupakan hasil yang ia peroleh dari
 Belanda, membaca-tulis, dan pernah terlibat
               menitipkan keluarganya kepada Sukiman yang      keluarga semasa tinggal di Surakarta. Selama
 dalam  aktivitas  organisasi,  Kustami  juga
 Di Yogyakarta, Sukiman memperoleh pekerjaan
               memang hidupnya serba berkecukupan.             ini, gagasan-gagasan yang  ia kembangkan
 memiliki  beragam  keterampilan  yang  dapat
 pertamanya sebagai dokter di klinik pengobatan                terutama ketika mulai aktif di perhimpunan juga
 digunakannya untuk bekerja. Ia membuka
 milik Muhammadiyah, yang dikenal dengan   ORGANISASI ISLAM    tidak bersentuhan dengan Islam baik sebagai
 kursus keterampilan bagi kaum perempuan yang
 nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).                      pemikiran politik, apalagi pemikiran agama.
 mengajari mereka merangkai bunga, memasak,   Pada fase ini, ada hal menarik yang terjadi
 Tawaran bekerja ini datang dari pimpinan
 memotong, juga menjahit. Kursus ini menjadi   dengan Sukiman yakni kedekatannya dengan   Moh. Roem—salah satu tokoh Masyumi yang
 Muhamadiyah waktu itu, K.H. Fahrudin, pada
 terkenal dan memperoleh murid yang banyak dari   Islam. Bukan hanya dalam hal pekerjaan   memiliki kedekatan pribadi dengan Sukiman—
 sekitar 1926. Saat itu, Sumowidagdo, dokter
 berbagai tempat karena Kustami mengajarkan   dimana  Sukiman menjadi  dokter  bagi  badan
 yang bertugas di PKO, dipindah tugaskan                       memberikan penjelasan bahwasannya pilihan
 jenis keterampilan moderen yang disenangi   sayap organisasi Muhammadiyah, ia juga mulai   politik Sukiman merupakan bagian dari agenda
 oleh pemerintah ke tempat lain. Kekosongan
 oleh orang-orang Belanda seperti membuat topi   aktif dalam politik pergerakan Islam, sejak   besar  PI  yang  meminta  para  anggotanya  yang
 ini menjadi peluang bagi Sukiman untuk
 perempuan model Eropa, dan aneka karangan   mulai menetap di Yogyakarta. Para lulusan
 memperoleh pekerjaan tanpa harus berurusan                    telah pulang ke tanah air untuk masuk dan
 bunga untuk pesta.   Belanda pada umumnya akan dihadapkan pada
 ataupun menggantungkan hidupnya kepada                        memperkuat organisasi pergerakan yang ada.
               sejumlah  pilihan  ketika  mereka  kembali  ke   Ketika Sukiman kembali, PSI  yang  akar
 Pasangan Sukiman dan Kustami juga penyuka   pemerintah kolonial.
               Indonesia, walaupun banyak yang kemudian        gerakannya berasal dari SDI yang kemudian
 musik, dengan selera Eropa tentunya. Di balik
 Selain bekerja untuk PKO, Sukiman juga   terjun ke dunia politik pergerakan, namun   berubah menjadi SI tengah dalam keadaan
 pembawaannya yang datar dan cenderung
 membuka kliniknya sendiri yang terletak di   tidak semuanya alumni memilih jalan yang   limbung. Pada sisi lain, partai dengan ideologi
 dingin, Sukiman ternyata mahir memainkan
 sebelah Pura Pakualaman, tidak seberapa jauh   sama. Terutama untuk para mantan aktifis   nasionalis seperti PNI yang tampaknya
 biola untuk memperdengarkan musik klasik.
 dari pusat kota. Oleh karena reputasinya yang   PI, banyak yang melanjutkan perjuangannya   lebih cocok dengan latar belakang politik-
 Adapun sang nyonya piawai memainkan piano.
 baik sebagai seorang dokter, dan tentunya   dengan membentuk Studie Club semisal Hatta,   ideologis Sukiman, masih dalam proses awal
 Tampaknya, sepulang dari Belanda, Sukiman
 karena kepakarannya dalam bidang medis yang   dan ada pula yang berpolitik melalui jalur partai   pembentukan.  Sedangkan, untuk turut dalam
                                                                            15
 berhasil membangun rumah tangga ideal,
 terbentuk oleh ketekunan Sukiman yang kerap   seperti Ali Sastroamidjojo. Demikian pula   barisan partai berideologi kiri, Sukiman—yang
 gambaran dari keluarga pribumi modern Hindia
 melakukan risetnya sendiri—klinik yang ia buka   yang dialami Sukiman. Sepulang dari Belanda,   nantinya menjadi salah satu tokoh yang dikenal
 Belanda awal abad ke-20.
 menjadi sangat terkenal dan paling laris. Pasien   disamping membina kehidupan sebagaimana   atas sikap anti-komunisnya—tampaknya tidak
 Dengan pekerjaannya sebagai dokter lulusan   yang berobat ke kliniknya berasal dari berbagai   lumrahnya orang berkeluarga, ia masuk dalam   begitu tertarik. Alasan ini menjadi masuk akal
 Belanda, secara ekonomi Keluarga Sukiman   daerah dan golongan—tidak hanya orang-  Partai Sarikat Islam (PSI).  ketika melihat bahwa pada saat kembali Sukiman





 258  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  259
   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275   276