Page 275 - Perdana Menteri RI Final
P. 275

Sukiman  dan  Suryopranoto,  sekaligus  Hal ini dapat dilihat dari jumlah cabang yang   diizinkan tetap hidup, ketika partai-partai Islam   gedung Madrasah Mualimin Muhammadiyah
 menyatakan bahwa PPPH adalah ilegal. Situasi   kemudian didirikan pada 1939 sejumlah 41   dilarang, pada awal masa pemerintahan militer   di Yogyakarta dengan M. Natsir sebagai ketua

 bertambah panas ketika Sukiman membalas   cabang, dan bertambah dengan cepat hanya   Jepang hingga Oktober 1943. Dalam kurun itu   panitianya. Konggres yang dihadiri sekitar 500
 dengan menyebut Tjokroaminoto melindungi   dalam jangka setahun menjadi 125 cabang,   MIAI tidak hanya berada di bawah pengawasan   delegasi dari seluruh Indonesia tersebut —yang
 orang-orang yang bersalah, yang pada akhirnya   lebih dari seratus cabang hadir pada kongres   yang sangat ketat, bahkan kepengurusan   mengkonfirmasi besarnya antusiasme dan arti
 membuat  para  pimpinan  PSII  mengambil   pertama PII yang diadakan di Yogyakarta pada   organisasi ini juga ditentukan oleh Dai Nipon.   penting penyelenggaraan konggres ini mengingat
 tindakan lebih keras dengan mengeluarkan   tahun 1940. Meskipun berperan penting dalam   Kepengurusan  dalam  MIAI  waktu  itu  banyak   perhubungan antar wilayah Indonesia waktu itu
 Sukiman dan Suryopranoto dari keanggotaan   PII, Sukiman tidak lagi menjabat sebagai ketua   didominasi oleh elit islam perkotaan, mayoritas   masih sangat sulit—menghasilkan kesepakatan,
 partai. Inilah akhir dari kiprah Sukiman dalam   yang dipegang oleh seorang aristokrat yang   dari PSII. Hanya saja, Jepang melihat bahwa   salah satunya dan yang terpenting, untuk
 PSII, termasuk dalam beberapa hal, akhir dari   juga anggota Volskraad, Raden Wiwoho yang   kapasitas  para  elit  Islam  politik  seperti  mereka   menjadikan Masyumi sebagai partai politik satu-

 hubungan keduanya dengan Agus Salim dan   dipilih karena ia tidak pernah menjadi bagian   dalam memobilisasi massa masih kurang kuat   satunya  bagi  umat  Islam.  Keputusan  tersebut
 Tjokroaminoto—yang  pada  sisi  lain  dengan   dari konflik sebelumnya. Dalam hal azas politik,   bila dibanding dengan para ulama non-politik   memperoleh dukungan luas dari organisasi-
 sangat jelas menunjukan haluan politik Sukiman.  PII memiliki banyak kesamaan prinsip dengan   seperti kyai NU dan tokoh Muhammadiyah.
                                                               organisasi Islam yang ada di Indonesia, kecuali
 organisasi nasionalis-sekuler lainnya yang
                                                               Perti  di  Sumatera  Barat.  Kepengurusan
 Tanpa  disadari  keluarnya  Sukiman  dari  PSII   sedang berusaha untuk mewujudkan Indonesa   MIAI  dibubarkan  pada  Oktober 1943,  dan
                                                               Masyumi terdiri dari Dewan Partai (Madjlis
 membuatnya dapat bergerak secara lebih leluasa,   berparlemen penuh. Oleh karena itulah,   sebagai gantinya dibentuklah Masyumi (Majlis
                                                               Syuro) dan Pengurus Besar yang keanggotaannya
 yang sekaligus membuka jalan baginya untuk   PII  terlibat  dalam  kampanye  GAPI  untuk   Syuro Muslimin Indonesia), yang diharapkan
                                                               diambil dari organisasi Islam yang ada. Dewan
 membangun karier politik tanpa perlu berada   mewujudkan Indonesia Berparlemen menjelang   pemerintah militer Jepang dapat menjadi alat
                                                               Partai dipercayakan kepada KH. Hasyim Asy’ari
 di bawah bayang-bayang para tokoh senior.   pecahnya Perang Pasifik. Dalam kesempatan   kontrol pemerintah atas umat Islam. Selain
                                                               yang dibantu oleh tiga ketua muda dimana salah
 Pemecatan Sukiman dari PSII mengundang   itu, Sukiman menjadi salah satu tokoh penting   itu, Masyumi juga diharapkan dapat turut
                                                               satunya adalah putranya, KH. Wahid Hasyim.
 reaksi penolakan dari para pengurus cabang yang   yang dihadirkan dalam rapat-rapat akbar untuk   berperan dalam menggerakan umat Islam untuk
                                                               Adapun untuk Pengurus Besar, jabatan ketua
 berhimpun dalam Persatuan Islam Indonesia.   menyampaikan pidatonya. Salah satunya adalah   mendukung program mereka, sehingga, di setiap
                                                               dipegang oleh Sukiman.
 Mereka kemudian bekerjasama dengan PSII   Kongres Rakyat Indonesia di Yogyakarta pada   daerah di Jawa dibentuk pula cabang Masyumi.
 Merdeka—cabang PSII Yogyakarta yang   September 1941.    Komposisi kepengurusan Masyumi menunjukan
 20
                                                               Jenis keanggotaan dalam Masyumi terdiri dari
 menyatakan putus hubungan dengan PSII   bahwa  Jepang  benar-benar menyingkirkan
                                                               anggota  perseorangan,  dan  anggota  istimewa
 Sukiman juga turut berkiprah dalam MIAI
 Tjokroaminoto—dan  sejumlah  anggota  politisi modernis perkotaan yang sebelumnya
                                                               yang terdiri dari organisasi-organisasi Islam.
 (Majelis Islam A’laa Indonesia)—suatu federasi
 Muhammadiyah untuk mendukung Sukiman   sangat dominan dalam MIAI dan menggantinya
                                                               Dengan cara ini Masyumi dapat menampung
 bagi organisasi Muslim yang dibentuk pada
 dalam mendirikan PARII, partai baru yang   dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU.
                                                               sebanyak-banyaknya umat, tanpa ada yang merasa
 bulan September 1937—sebagai delegasi dari
 bertujuan  mencapai  kemerdekaan  berdasarkan   Posisi ketua Masyumi dipercayakan kepada KH.
                                                               tidak terwakili. Dalam konteks ini, Masyumi di
 PII.  Meskipun  tidak  dimaksudkan  sebagai
 19
 Agama Islam, yang pada 1934.  Hanya saja,   Hasyim Asy’ari yang dibantu oleh tiga ketua
 partai politik melainkan sebagai forum                        bawah kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari dan
 PARII namun kurang dapat berkembang.   muda dimana salah satunya adalah putranya,
 diskusi organisasi-organisasi Islam, MIAI                     Sukiman hadir sebagai konvergensi kepentingan
 Hingga pada akhir 1938, wadah politik baru   KH. Wahid Hasyim yang membuat ayahnya
 yang mendukung kampanye GAPI Indonesia                        dan kehendak umat yang terwakilkan melalui
 dibentuk dengan nama PII (Partai Islam   tetap dapat berada di pesantrennya di Jombang.
 Berparlemen, juga memiliki tuntutan politik                   organisasi-organisasi Islam yang sejak lama telah
 Indonesia) oleh Sukiman dan lingkarannya yang
 yang menghendaki pembentukan kabinet   Pasca dikeluarannya maklumat wakil presiden   mengemuka  namun  sulit  disatukan,  walaupun
 semula menginisiasi pembentukan PARII.
 dengan komposisi duapertiga anggotanya harus   No. X pada 3 November 1945 yang berisi   memang pada kenyataannya titik temu ini
 21
 Ternyata pembentukan PII memperoleh lebih   diisi oleh wakil-wakil bergama Islam.  MIAI   tentang anjuran pembentukan partai-partai   berangsur-angsur  memudar seiring dengan
 banyak dukungan dari pada partai sebelumnya.   ini  kemudian  menjadi  organisasi  Islam  yang   politik, diadakan konferensi umat Islam di   berjalannya waktu.

 262  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  263
   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280