Page 272 - Perdana Menteri RI Final
P. 272
berada di dalam lingkaran Muhammadiyah, menyakinkan sejumlah kelompok politik yang PPPH memiliki banyak alasan salah satunya sebagai jembatan yang dapat menghubungkan
salah satu organisasi Islam bercorak modernis ada pada waktu itu untuk membentuk organ didasarkan bahwa Sukiman yang memiliki Hatta dengan Sukarno, dimana secara garis
yang tidak terlalu politis. payung yang dapat mempersatukan mereka. penghasilan sendiri dari pekerjaannnya sebagai politik Hatta dengan PNI-Barunya merupakan
17
Keengganan muncul dari sejumlah kalangan dokter. oposisi Partindo—penerus PNI-Sukarno yang
Awal ketika Sukiman mulai menjadi anggota,
sepuh di PSI seperti K.H. Agus Salim, namun telah dilarang pemerintah kolonial.
PSI melakukan reorientasi perjuangannya. Partai Sukiman melangkah lebih jauh untuk
Sukiman memberikan dukungan kepada Sukarno
ini mengubah gerak perjuangannnya menjadi melakukan antisipasi dampak krisis ekonomi Selama menjabat sebagai ketua PPPH, Sukiman
untuk membentuk PPPKI (Permufakatan
lebih kooperatif, dan tujuannya untuk mencapai yang terjadi di kalangan buruh. Ia melihat melakukan ekseminasi terhadap ketidakberesan
Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan
kemerdekaan nasional berdasarkan Islam. Pada perlunya melakukan edukasi terhadap mereka organisasi untuk mengatasi krisis yang dialami
Indonesia). Keduanya kemudian dipercaya untuk
1929, PSI menambahkan kata Indonesia pada agar dapat memahami hak-haknya serta oleh para karyawan pegadaian di Hindia
menjadi bagian penting dalam mewujudkan
namanya yang kemudian berubah menjadi PSII. mengukur dampak dari aksi bersama yang Belanda. Pada saat itu terjadi pemecatan pegawai
terbentuknya PPPKI. Pada akhirnya, kesatuan
Meskipun demikian, kelompok yang menolak kerap mereka lakukan yang dimaksudkan agar Pegadaian di Hindia Belanda besar-besaran
yang dibangun dalam PPPKI tidaklah bertahan
untuk melakukan pendekatan yang lebih moderat tidak memperparah kondisi ekonomi yang hingga mencapai 500 orang, atau sepertiga total
lama, dan dengan segera muncul antagonisme
dalam perjuangan tetap memainkan peran akan turut berdampak pada kesejahtaeraan anggota PPPH. Mereka diberhentikan karena
mengenai berbagai hal, namun keberhasilan
penting dalam tubuh PSI. Salah satu tokohnya mewujudkan PPPKI yang berusia pendek itu buruh. Bagi Sukiman hal ini dapat dilakukan dianggap tidak mampu bekerja. Agenda Sukiman
adalah K.H. Agus Salim yang cenderung telah menunjukan kapasitas Sukiman, sekaligus melalui surat kabar. Untuk itu Sukiman waktu itu adalah untuk memperjuangkan nasib
menolak gagasan-gagasan sekuler, juga untuk karakter politisi yang ia miliki. meminta PPPH membeli surat kabar Islam para pegawai pegadaian yang telah dipecat oleh
bekerjasama dengan para nasionalis. Lebih dari Moestika yang terbit di Yogyakarta untuk pemerintah dengan membentuk suatu badan
itu, Ricklefs menunjukan bahwa ia juga tidak Persoalan lain yang menunjukan dan kemudian dijadikan corong suara kaum yang terdiri dari tiga orang wakil PPPH—
begitu suka dengan kemunculan orang-orang mempertegas posisi Sukiman dalam gelanggang buruh. Moestika—di mana Sukiman menjadi dimana selain Sukiman terdapat nama pula
baru yang terbaratkan yang merupakan hasil politik nasional waktu itu adalah ketika ia mulai salah satu stakeholder, dan Agus Salim Suryopranoto, tiga orang jawatan pegadaian,
pendidikan kolonial untuk turut berkecimpung masuk dalam pergerakan buruh. Bagi PSII, menjadi pimpinan redaksi—yang pada waktu dan satu representasi pemerintah. Badan ini
16
di kancah pergerakan nasional. Di dalam PSI, buruh merupakan kelompok yang penting dan itu juga sedang limbung memiliki banyak kemudian menemukan bahwa pemerintah keliru
pengaruh K.H. Agus Salim, yang berusia sekitar perlu memperoleh perhatian partai untuk banyak sekali hutang yang diantaranya adalah dalam mengambil tindakan karena hanya 30
18
alasan. Secara politis, kelompok ini paling milik Sukiman. Langkah ini berhasil dan
sepuluh tahun lebih tua dari Sukiman, sangatlah orang yang sebenarnya terbukti tidak cakap.
banyak terpapar pengaruh kiri, sehingga tidak lahirlah kemudian surat kabar buruh yang
besar. Ia menjadi salah satu tokoh senior yang
mengherankan jika sebelumnya pada 1920an, bertajuk “Oetoesan Indonesia”. Sukiman yang Sukiman juga melakukan ekseminasi atas kinerja
sangat dihormati bersama dengan H.O.S.
Agus Salim yang bertarung habis-habisan untuk menjadi editor penerbitan ini menggandeng perserikatan pada era sebelumnya. Ia menemukan
Tjokroaminoto yang disebut-sebut sebagai guru
melawan radikalisasi kaum komunis di tubuh Suryopranoto, Soeroso, dan Sjahrir yang baru adanya ketidakberesan dalam hal penggunaan
Sukarno dan sekaligus mertuanya.
organisasi buruh. Kedekatan Sukiman terhadap saja pulang dari Belanda. Tidak berselang keuangan yang kemudian mengumkannya
Meskipun telah menjadi anggota PSI yang kaum buruh dan pergerakannya semakin lama kemudian, turut bergabung Hatta yang secara terbuka, dan berjanji akan melaksanakan
menerapkan disiplin partai secara ketat, latar dalam ketika diangkat sebagai ketua PPPH pada bulan Agustus kembali setelah 12 tahun referendum untuk mengeluarkan Martowardoyo
belakang politik Sukiman membuatnya lebih (Perserikatan Pegawai Pegadaian Hindia) yang meninggalkan tanah air sebagai co-editor. dari PPPH pada Januari 1933. Di lain pihak,
mudah untuk berhubungan dengan orang-orang sebelumnya dipimpin Martowardoyo—orang Keterlibatan Hatta dalam penerbitan yang Martowardoyo melihat ini semua sebagai usaha
dari luar PSI, termasuk PNI. Hal ini segera dekat H.O.S Cokroaminoto—tengah berada diinisiasi Sukiman memiliki banyak dimensi. membungkam ketidaksetujuannya atas langkah
terlihat ketika pada bulan Desember 1927. dalam gonjang-ganjing kepengurusan karena Selain berhasil meyakinkan Hatta bahwa Sukiman yang menggunakan uang PPPH
Menyadari pentingnya kerjasama yang bersifat tuduhan penyelewengan keuangan perserikatan. “Oetoesan Hindia” bukanlah milik partai, guna membeli Moestika. Persoalan ini menyeret
lintas partai dan idelogi, Sukarno berhasil Pengangkatannya sebagai orang penting di Sukiman juga mampu memposisikan dirinya Tjokroaminoto yang kemudian menyerang
260 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 261

