Page 277 - Perdana Menteri RI Final
P. 277

Pada sisi lain, kehadiran Masyumi dalam   pengalaman hidup, dan pergumulan politik, di   umat Islam yang  menjadi mayoritas penduduk   PEMBENTUKAN KABINET
 kancah politik Indonesia masa itu—ketika   mana Sukiman yang berasal dari latar belakang   Indonesia, Sukiman adalah tokoh dengan
                                                               Pada April 1951, Natsir yang memimpin kabinet
 persoalan bentuk dan dasar negara menjadi   keluarga Jawa, menempuh pendidikan modern,   jejaring yang sangat luas. Ia memiliki kedekatan
                                                               kerja (zaken cabinet) selama tujuh bulan lebih,
 sedang pertentangan serius—menjadi penting   terlibat dalam perhimpunan nasionalis-sekuler,   personal dan pernah bekerjasama dengan para
                                                               mengembalikan mandatnya kepada presiden.
 untuk mengartikulasikan aspirasi umat yang   kemudian  mengadopsi Islam dalam langkah   tokoh lainnya, seperti kelompok alumni Belanda   Beberapa hari kemudian, Sukarno menunjuk
 dapat disalurkan untuk membangun pondasi   politiknya—bahkan menjadi ketua Masyumi   seperti Hatta, Ahmad Subarjo, maupun Ali   Mr. Sartono untuk menjadi formatur guna
 negara-bangsa yang baru saja merdeka.   di awal kemunculan partai ini. Remy Madinier   Sastroamidjojo (PNI) yang pernah bekerjasama   membentuk kabinet baru. Munculnya nama
 Dalam hal ini, kedua pimpinan Masyumi,   menambahkan, paling tidak pada kurun 1945   dengan Sukiman saat keduanya menerbitkan   Sartono sebagai formatur tidak lepas dari usaha
 K.H. Hasyim Asy’ari dan Sukiman termasuk   hingga 1947, hubungan interpersonal para
               majalah ‘Djanger’.                              PNI yang berkeinginan untuk memimpin
 kelompok yang moderat. Ketika para pemimpin   tokoh Masyumi dengan para tokoh nasional
                                                               pemeritahan setelah sebelumnya dipegang oleh
 bangsa mempersiapkan rancangan undang-  lainnya turut menentukan posisi mereka   Kiprah Sukiman bagi persiapan kemerdekaan
                                                               Masyumi.  Dalam  hal  ini,  Sartono  merupakan
 undang, di mana persoalan bentuk negara   ketika menghadapi ujian atas pilihan-pilihan   Indonesia dapat dilihat dari keikutsertaannya
                                                               tokoh PNI yang dikenal memiliki hubungan baik
 menjadi salah satu isu paling sensitif, posisi   politik yang diambil. Dalam hal ini, Sukiman   dalam PPKI. Nama Sukiman juga sempat   dengan Masyumi. Waktu itu, sudah lumrah jika
 politik dan pandangan Sukiman sangat jelas.   berada dalam satu spectrum dengan Sukarno   muncul sebagai kandidat Wakil Presiden   seorang  formatur  membentuk  susunan  kabinet
 Sukiman yang hadir sebagai wakil Jawa Tengah   dan Tan Malaka, sedangkan pada pihak lain   bersama dengan Hatta, Ki Hadjar Dewantara,   yang akan ia pimpin sendiri. Akan tetapi, Sartono
 23
 dengan sangat yakin mendukung gagasan yang   berdiri Hatta, Natsir dan Salim.  Dalam   Iwa Kusuma Sumantri dan tokoh lainnya, hanya   tidak menginginkan hal yang sama, bila ia
 menyatakan bahwa bentuk negara Indonesia   tubuh Masyumi sendiri, Sukiman adalah sosok   saja pada bulan Oktober 1945, Sukarno memilih   berhasil membentuk kabinet maka ia akan berada
 adalah republik, bukan kerajaan maupun negara   pengemong yang selalu terbuka untuk bekerja   untuk mengangkat Hatta sebagai wakilnya.   di luar pemerintahan. Seperti dalam mandat
 agama. Demikian pula, dalam kesempatan   sama dengan siapa saja, kecuali PKI tentunya,   Dalam pemerintahan, Sukiman berkontribusi   yang diterimanya, Sartono berusaha membentuk
 lain, ketika para pemimpin sedang bergulat   dan yang lebih mampu menjembatani perbedaan-  melalui KNIP, menjadi anggota DPA dan   kabinet parlementer, di mana kabinet tersebut
 untuk memposisikan kedudukan agama dalam   perbedaan dalam partai, terutama yang berporos   DPRS-RIS, dan menjabat sebagai Menteri   memperoleh dukungan luas dari partai-partai
 praktek bernegara, Sukiman yang memperoleh   pada perbedaan antara kalangan modernis dan   Negara  pada  era  Hatta  I.  Ketika  Yogyakarta   dalam DPR. Oleh karenanya, formatur sangat
 dukungan dari Wahid Hasyim menekankan   tradisionalis, maupun elit Islam perkotaan dan   mengalami Agresi Militer, Sukiman merupakan   memperhitungkan besarnya dukungan yang

 bahwa agama adalah elemen penting dalam   tokoh Islam pesantren.   salah satu menteri yang berhasil keluar dari   akan diperoleh kabinet bentukannya dengan
 bernegara, namun menolak usulan yang                          mempertimbangkan konfigurasi politik di
               Yogyakarta dan terlibat dalam gerilya. Sukiman
 PERDANA MENTERI  juga  memiliki  pengalaman  sebagai delegasi   parlemen. Untuk itu, Sartono memulai tugasnya
 mewajibkan presiden dan wakil Indonesia
 22
 haruslah beragama Islam.                                      dengan melakukan pembicaraan terhdap sejumlah
 Ketika Indonesia yang baru diproklamirkan   dalam berbagai perundingan diantaranya adalah
                                                               elit  partai, hanya saja usaha ini tidak berjalan
               Linggardjati (era Sjahrir) dan Konferensi Meja
 Pandangan-pandangan  politik  Sukiman  kemerdekaannya  memanggil  peran  serta
                                                               baik, terutama dikarenakan perbedaan tajam dua
               Bundar. Mundurnya Perdana Menteri Natsir—
 yang ia tunjukan pada saat negara bangsa   seluruh  anak  bangsa,  Sukiman  tengah  berada
                                                               partai besar yakni Masyumi dan PNI terutama
 sedang diformulasikan di awal kemerdekaan   pada  kematangan  dalam  usianya  yang  hampir   kolega Sukiman di Masyumi—menciptakan
                                                               menyangkut pimpinan kabinet dan keikutsertaan
 menunjukan secara jelas afirmasi politiknya   memasuki setengah abad. Pada usianya itu ia   kekosongan kekuasaan yang meskipun tidak
                                                               anggota  mereka  dalam  pemerintahan. Setelah
 sekaligus posisi politiknya di dalam partai.   dapat menjadi penyambung antara generasi   terlalu lama namun menimbulkan kegaduhan
                                                               satu bulan berusaha, pada 18 April,  Sartono
 Dalam hal ini Sukiman adalah seorang Islam-  senior seangkatan Agus Salim, dengan para   politik yang cukup dasyat. Pada saat itu,
                                                               mengembalikan mandatnya kepada presiden
 Nasionalis yang tidak melihat negara sekuler   pemimpin nasional semisal Sukarno, Hatta,   Sukiman yang memperoleh kepercayaan
                                                               tanpa berhasil membuat susunan kabinet baru.
 terhadap Islam, maupun bahaya dari kelompok   Amir Sjarifuddin, yang dilahirkan pada awal   presiden sebagai formatur berhasil menyusun
 sekuler terhadap negara dan Islam. Pendirian   abad ke-20 dan semuanya lebih muda dari   suatu kabinet baru yang kemudian ia pimpin   Meskipun banyak yang mencoba mentafsirkan
 politik Sukiman ini merupakan akumulasi   Sukiman. Terlebih lagi, sebagai representasi dari   bersama Suwiryo.  sebab-sebab dari kegagalan Sartono untuk





 264  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  265
   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282