Page 282 - Perdana Menteri RI Final
P. 282

kepentingan tentara.  Hal ini  nantinya  terbukti   bank sentral dan bank sirkulasi. Pada bulan Juni
                           dalam kasus M. Yamin di bulan Juni, ‘razia     1951, sebuah Panitia Nasionalisasi DJB dibentuk

                           Agustus’, dan MSA.                             untuk   merancang    proposal   nasionalisasi,
                                                                          dan rencana undang-undang nasionalisasi,
                           Program ekonomi menjadi prioritas terpenting
                                                                          serta rancangan undang-undang yang baru
                           lainnya bagi kabinet Sukiman yang sangat terkait
                                                                          mengenai Bank Sentral. Pada tahap selanjutnya,
                           dengan kemampuan pemerintah menciptakan
                                                                          diangkatlah Syarifuddin Prawiranegara pada
                           stabilitas keamanan nasional. Dalam banyak
                                                                          tanggal 12 Juli 1951 untuk menggantikan Dr.
                           hal, kabinet Sukiman melakukan kebijakan
                                                                          Houwink Presiden DJB. Tiga hari berselang,
                                                                    25
                           yang telah dimulai oleh kabinet sebelumnya,
                                                                          pemerintah mengeluarkan UU No. 24 tahun
                           diantaranya adalah meneruskan “Rencana
                                                                          1951 tentang Nasionalisasi DJB menjadi Bank
                           Sumitro”. Seperti yang dijalankan pendahulunya,
                                                                          Indonesia  yang  berfungsi  sebagai  bank  sentral
                           kabinet ini juga memberi perhatian lebih industri
                                                                          dan bank sirkulasi.
                           kecil dan koperasi, serta mengalokasikan dana                                                                                                                                                       Sidang Parlemen ke-V yang dihadiri oleh Kabinet
                                                                                                                                                                                                                               Sukiman pada tanggal 21 Mei 1951
                           besar untuk melaksanakan proyek pembangunan    Terkait dengan ‘Boom Korea’, ketegangan
                           daerah di mana cetak birunya telah dibuat jauh   yang terjadi di semenanjung Korea pada awal                                                                                                        Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

                           lebih lama. Kabinet Sukiman juga memandang     dekade 1950-an, memberi dampak yang tidak
                           pentingnya  investasi  asing  pembangunan      menguntungkan bagi pemerintahan Sukiman.
                                                                                                                                                  dan kebutuhan perang ke Cina. Sejumlah         anggaran. Menteri Keuangan era Sukiman
                           ekonomi Indonesia, yang dijalankan bersamaan   Hal ini berbeda dengan era sebelumnya di
                                                                                                                                                  kalangan dan media massa dengan penuh          memprakarsai—secara          informal—suatu
                           dengan dikendorkannya kebijakan benteng,       mana Perang Korea telah menyebabkan
                                                                                                                                                  kecurigaan mentafsirkan bahwa hal ini adalah   kesepakatan yang meminta bank-bank pemerintah
                           namun pada saat bersamaan pemerintah juga      melambungkan permintaan pasar terutama dari
                                                                                                                                                  bentuk permainan ekonomi Amerika agar mereka   untuk memberikan kredit kepada perusahaan-
                           terus menjalankan program “Indonesianisasi”    Amerika terhadap komoditas strategis Indonesia
                                                                                                                                                  dapat memonopoli komoditas penting dengan      perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan
                           secara bertahap pada sejumlah bidang kegiatan   seperti karet dan minyak, sekaligus mendorong
                                                                                                                                                  harga murah. Respon pedas keluar dari Menteri   partai-partai politik  dalam  lingkaran koalisi.
                           bisnis, terutama impor.                        perkebunan karet baik dalam skala besar maupun
                                                                                                                                                  Luar Negeri, Subardjo yang menyatakan bahwa    Tentu saja, kebijakan yang diambil Jusuf Wibisono,
                                                                          yang diusahakan rakyat untuk meningkatkan
                                                                                                                                                  Indonesia akan “menjual kepada Iblis sekalipun   yang dikenal lebih longgar dalam hal pencairan
                           Bruce Glassburner mencatat selama kurun
                                                                          produksinya. Hanya saja setelah memasuki
                                                                                                                                                  jika hal ini dapat melayani kepentingan rakyat”.   anggaran ketimbang pendahulunya, membuat
                           periode ketika Sukiman menjadi perdana menteri
                                                                          pertengahan 1951—tidak lama setelah Sukiman
                                                                                                                                                  Namun, kabinet tampaknya mendapatkan tekanan   senang   pihak-pihak  dalam    pemerintahan,
                           terjadi  beberapa  perkembangan  penting  dalam
                                                                          menjabat perdana menteri—permintaan dan                                 keras sehingga menolaknya, dan Subardjo sendiri   sehingga  kesatuan  dalam  kabinet  dapat  terus
                                                     26
                           sejarah ekonomi Indonesia.  Perkembangan
                                                                          produksi karet menurun secara signifikan                                juga segera merevisi komentarnya walaupun tidak   terjaga, meskipun sebagai konsekwensinya ia juga
                           yang paling signifikan adalah nasionalisasi Bank
                                                                          yang secara langsung berpengaruh terhadap                               secara langsung. Kabinet Sukiman kemudian      membuat kubu oposisi semakin gusar.
                           De Javansche Bank (DJB), dan memburuknya
                                                                          neraca ekspor Indonesia yang juga ikut anjlok.                          mematuhi embargo—seperti halnya ketiga
                           kondisi fiskal sebagai dampak dari “boom Korea”
                                                                          Memasuki tahun 1952, defisit anggaran negara                            kabinet yang menggantikannya kemudian—,        SUKIMAN DAN SUKARNO
                           pada pertengahan tahun 1951. Nasionalisasi DJB
                                                                          sudah hampir mencapai tiga miliar rupiah, turun                         dan harga komoditas strategis Indonesia anjlok
                           sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa                                                                                                                           Sukiman memulai pekerjaan sebagai Perdana
                                                                          tajam bila dibandingkan dengan surplus Rp. 1,7                          sesudah itu.
                           proses. Pada Keterangan Pemerintah di parlemen,                         27                                                                                            Menteri dengan penuh kepercayaan diri.
                                                                          miliar di tahun sebelumnya.
                           Sukiman  merinci  rencana  pemerintah  untuk                                                                           Kebijaksanaan berbeda diambil oleh Menteri     Dukungan Sukarno merupakan salah satu faktor
                           melakukan nasionalisasi terhadap DJB menjadi   Kondisi diperburuk dengan keluarnya embargo                             Keuangan, Jusuf Wibisono, yang berasal dari    pentingnya. Hubungan antara Perdana Menteri
                           Bank Indonesia yang akan difungsikan sebagai   PBB yang melarang ekspor bahan-bahan strategis                          Masyumi dalam hal impor dan distribusi alokasi   dan  Presiden sangat  baik, dan telah  terbina





                           270   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  271
   277   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287