Page 283 - Perdana Menteri RI Final
P. 283

kepentingan tentara.  Hal ini  nantinya  terbukti   bank sentral dan bank sirkulasi. Pada bulan Juni
 dalam kasus M. Yamin di bulan Juni, ‘razia   1951, sebuah Panitia Nasionalisasi DJB dibentuk

 Agustus’, dan MSA.  untuk  merancang  proposal  nasionalisasi,
 dan rencana undang-undang nasionalisasi,
 Program ekonomi menjadi prioritas terpenting
 serta rancangan undang-undang yang baru
 lainnya bagi kabinet Sukiman yang sangat terkait
 mengenai Bank Sentral. Pada tahap selanjutnya,
 dengan kemampuan pemerintah menciptakan
 diangkatlah Syarifuddin Prawiranegara pada
 stabilitas keamanan nasional. Dalam banyak
 tanggal 12 Juli 1951 untuk menggantikan Dr.
 hal, kabinet Sukiman melakukan kebijakan
 Houwink Presiden DJB. Tiga hari berselang,
 25
 yang telah dimulai oleh kabinet sebelumnya,
 pemerintah mengeluarkan UU No. 24 tahun
 diantaranya adalah meneruskan “Rencana
 1951 tentang Nasionalisasi DJB menjadi Bank
 Sumitro”. Seperti yang dijalankan pendahulunya,
 Indonesia  yang  berfungsi  sebagai  bank  sentral
 kabinet ini juga memberi perhatian lebih industri
 dan bank sirkulasi.
 kecil dan koperasi, serta mengalokasikan dana                                               Sidang Parlemen ke-V yang dihadiri oleh Kabinet
                                                                                             Sukiman pada tanggal 21 Mei 1951
 besar untuk melaksanakan proyek pembangunan   Terkait dengan ‘Boom Korea’, ketegangan
 daerah di mana cetak birunya telah dibuat jauh   yang terjadi di semenanjung Korea pada awal   Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

 lebih lama. Kabinet Sukiman juga memandang   dekade 1950-an, memberi dampak yang tidak
 pentingnya  investasi  asing  pembangunan  menguntungkan bagi pemerintahan Sukiman.
               dan kebutuhan perang ke Cina. Sejumlah          anggaran. Menteri Keuangan era Sukiman
 ekonomi Indonesia, yang dijalankan bersamaan   Hal ini berbeda dengan era sebelumnya di
               kalangan dan media massa dengan penuh           memprakarsai—secara          informal—suatu
 dengan dikendorkannya kebijakan benteng,   mana Perang Korea telah menyebabkan
               kecurigaan mentafsirkan bahwa hal ini adalah    kesepakatan yang meminta bank-bank pemerintah
 namun pada saat bersamaan pemerintah juga   melambungkan permintaan pasar terutama dari
               bentuk permainan ekonomi Amerika agar mereka    untuk memberikan kredit kepada perusahaan-
 terus menjalankan program “Indonesianisasi”   Amerika terhadap komoditas strategis Indonesia
               dapat memonopoli komoditas penting dengan       perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan
 secara bertahap pada sejumlah bidang kegiatan   seperti karet dan minyak, sekaligus mendorong
               harga murah. Respon pedas keluar dari Menteri   partai-partai politik  dalam  lingkaran koalisi.
 bisnis, terutama impor.   perkebunan karet baik dalam skala besar maupun
               Luar Negeri, Subardjo yang menyatakan bahwa     Tentu saja, kebijakan yang diambil Jusuf Wibisono,
 yang diusahakan rakyat untuk meningkatkan
               Indonesia akan “menjual kepada Iblis sekalipun   yang dikenal lebih longgar dalam hal pencairan
 Bruce Glassburner mencatat selama kurun
 produksinya. Hanya saja setelah memasuki
               jika hal ini dapat melayani kepentingan rakyat”.   anggaran ketimbang pendahulunya, membuat
 periode ketika Sukiman menjadi perdana menteri
 pertengahan 1951—tidak lama setelah Sukiman
               Namun, kabinet tampaknya mendapatkan tekanan    senang   pihak-pihak  dalam   pemerintahan,
 terjadi  beberapa  perkembangan  penting  dalam
 menjabat perdana menteri—permintaan dan   keras sehingga menolaknya, dan Subardjo sendiri   sehingga  kesatuan  dalam  kabinet  dapat  terus
 26
 sejarah ekonomi Indonesia.  Perkembangan
 produksi karet menurun secara signifikan   juga segera merevisi komentarnya walaupun tidak   terjaga, meskipun sebagai konsekwensinya ia juga
 yang paling signifikan adalah nasionalisasi Bank
 yang secara langsung berpengaruh terhadap   secara langsung. Kabinet Sukiman kemudian   membuat kubu oposisi semakin gusar.
 De Javansche Bank (DJB), dan memburuknya
 neraca ekspor Indonesia yang juga ikut anjlok.   mematuhi embargo—seperti halnya ketiga
 kondisi fiskal sebagai dampak dari “boom Korea”
 Memasuki tahun 1952, defisit anggaran negara   kabinet yang menggantikannya kemudian—,   SUKIMAN DAN SUKARNO
 pada pertengahan tahun 1951. Nasionalisasi DJB
 sudah hampir mencapai tiga miliar rupiah, turun   dan harga komoditas strategis Indonesia anjlok
 sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa                   Sukiman memulai pekerjaan sebagai Perdana
 tajam bila dibandingkan dengan surplus Rp. 1,7   sesudah itu.
 proses. Pada Keterangan Pemerintah di parlemen,   27          Menteri dengan penuh kepercayaan diri.
 miliar di tahun sebelumnya.
 Sukiman  merinci  rencana  pemerintah  untuk   Kebijaksanaan berbeda diambil oleh Menteri   Dukungan Sukarno merupakan salah satu faktor
 melakukan nasionalisasi terhadap DJB menjadi   Kondisi diperburuk dengan keluarnya embargo   Keuangan, Jusuf Wibisono, yang berasal dari   pentingnya. Hubungan antara Perdana Menteri
 Bank Indonesia yang akan difungsikan sebagai   PBB yang melarang ekspor bahan-bahan strategis   Masyumi dalam hal impor dan distribusi alokasi   dan  Presiden sangat  baik, dan telah  terbina





 270  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  271
   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288