Page 288 - Perdana Menteri RI Final
P. 288

pemerintah tidak memberikan izin perayaan hari   negosiasi selanjutnya antara Indonesia dengan
                          ulang tahun Republik Rakyat Tiongkok, setelah   Jepang. Di sisi lain, para penentang menganggap
                          sebelumnya politisi Tiongkok juga menyerang     keterlibatan Indonesia dalam perundingan

                          Sukarno dan Hatta melalu tulisannya. Puncak     tersebut  dapat  mengarah  pada  hilangnya
                          eskalasi, pemerintah Indonesia dengan dukungan   netralitas Indonesia. Bagaimanapun juga, isi dari
                          suara populer bahkan mengupayakan larangan      perjanjian itu adalah produk dari Amerika dan
                          bepergian tanpa izin bagi representasi Tiongkok   Inggris. Terkait dengan netralitas politik luar
                          di Indonesia dari otoritas berwenang.           negeri, banyak pihak mengkhawatirkan bahwa
                                                                          Indonesia akan terseret—atau paling tidak akan
                          Terlepas dari persoalan dengan Tiongkok, dua
                                                                          memperoleh tekanan—untuk masuk dalam blok
                          kabinet Masyumi—Sukiman dan demikian
                                                                          Amerika. Selain itu, apabila delegasi Indonesia
                          halnya dengan Natsir—menempatkan kebijakan
                                                                          turut meneken perjanjian San Fransico,
                          luar negeri bebas aktif dalam bentuk yang
                                                                          dikhawatirkan akan memperburuk hubungan
                          pragmatis dimana kebijakan diekspresikan secara                                                                                                                                                      Sidang Kabinet mengenai Perjanjian San Francisco
                                                                          politik regional dengan negara-negara sahabat                                                                                                        pada tanggal 4 Oktober 1951
                          moderat dengan menjalankan sikap politik ‘tidak
                                                                          yang dahulunya sangat mendukung kemerdekaan
                          anti-Barat’. Walaupun dalam sejarah kabinet di                                                                                                                                                       Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                                                                          Indonesia, seperti India yang memilih tidak
                          era pemerintahan Indonesia Merdeka, Sukiman
                                                                          mengirimkan wakil ke San Fransisco.
                          bukanlah yang pertama dalam menjalankan
                                                                                                                                                  petinggi partai yang mendukung Indonesia       besar Indonesia di Amerika, arah politik PNI
                          kebijakan yang oleh sejumlah kalangan dilihat
                                                                          Menjawab tudingan bahwa Indonesia akan
                                                   34
                          sebagai ‘pro-West neutralist’,  namun menerima                                                                          mendandatangani  Perjanjian  San  Fransisco,   cenderung mudah diperkirakan sejak sebelum
                                                                          kehilangan netralitas, para supporter Perundingan
                          reaksi  yang  jauh  lebih  keras  atas  kebijakan                                                                       tentu saja, adalah Sukiman dan Jusuf           pembicaraan  internal  ini  di  mulai.  Namun,
                                                                          San Fransico berargumen bahwa Indonesia tetap
                          luar negerinya bila dibandingkan pada masa                                                                              Wibisono—keduanya merupakan bagian dari        keputusan musyawarah partai menunjukan
                                                                          dapat bertindak secara independen. Kelompok ini
                          Natsir, yang sekaligus mengakhiri kiprah                                                                                pemerintahan.  Sedangkan  Natsir,  M.  Roem    hasil yang berlainan, sehingga secara resmi PNI
                                                                          membedakan antara ‘netral’ dan ‘independen’—                                                                                                                  36
                          pemerintahannya.                                                                                                        dan  Sjafruddin  Prawiranegara  menjadi  kubu   mengumumkan bahwa partainya menolak.
                                                                          terma yang menekankan bahwa Indonesia bebas
                                                                                                                                                  yang menentang. Setelah melakukan seri
                                                                          menentukan langkah politiknya secara dinamis,                                                                          Perbedaan pandangan diantara kedua partai
                          Masalah luar negeri Indonesia menjadi isu
                                                                                                                                                  pertemuan selama dua hari di awal September,
                          politik yang mulai mencuat sejak bulan Juli 1951.   yang mana dalam beberapa hal terdengar                                                                             utama pendukung pemerintah itu sempat
                                                                                                                                                  kelompok Sukiman memenangkan pemungutan
                          Persoalan pertama terkait dengan hal ini adalah   membenarkan sikap “pro-West neutralist”. Lebih                                                                       menimbulkan dugaan akan terjadinya perpecahan
                                                                                                                                                  suara dengan jumlah 17 berbanding 14, dan 2
                          rencana Indonesia untuk mengirimkan delegasi    lanjut, pihak ini juga melihat perlunya Indonesia                                                                      di kabinet yang diperkirakan merupakan akhir
                                                                                                                                                         35
                                                                                                                                                  abstain.  PNI yang melakukan pembicaraan
                          guna menghadiri perjanjian San Fransisco yang   mereposisi sikap politiknya dalam menghadapi                                                                           dari kabinet Sukiman. Hanya saja, persoalan ini
                                                                                                                                                  beberapa hari kemudian, hanya berselang        tidak lantas membesar dan berujung pada kondisi
                          merupakan perundingan perdamaian pihak          geo-politik dunia yang berubah pasca Perang
                                                                                                                                                  beberapa jam sebelum naskah perjanjian         seperti yang banyak dispekulasikan. Selain faktor
                          Sekutu dengan Jepang sebagai akhir dari Perang   Dunia II. Dukungan negara super-power seperti
                                                                                                                                                  disahkan di San Fransisco, mengambil           jumlah partai yang menolak ratifikasi sangat
                          Dunia  II,  pada  awal  minggu  kedua  di  bulan   Amerika akan berguna bagi diplomasi luar negeri
                                                                                                                                                  keputusan untuk menolak keterlibatan delegasi   kecil—terdiri dari PNI yang terpecah, dan Partai
                          September.                                      Indonesia terutama untuk menghadapi Belanda.
                                                                                                                                                  Indonesia ikut meratifikasi perjanjian tersebut.   Buruh—kemampuan para  elit  poltik partai
                          Kalangan yang mendukung menganggap              Perdebatan lebih lanjut juga terjadi pada tingkat                       Hal  ini  cukup  mengejutkan  karena  dengan   berbeda paham tersebut yang sangat berhati-hati
                          Indonesia perlu mengirimkan wakil ke            kabinet dimana dua partai utama pendukung                               sejumlah  tokoh senior menjadi  pendukung      dalam mengeluarkan pernyataan ke hadapan
                          perundingan  itu  karena  konswekensi  politik   Kabinet Sukiman terpecah baik secara internal                          perundingan ini: Suwiryo, Sartono, dan Ali     publik cukup membantu meredam suasana.
                          yang dihasilkan akan berkaitan langsung dengan   maupun di dalam kabinet. Di Masyumi, para                              Sastroamidjojo yang saat itu menjabat duta     Seperti kasus yang menimpa salah satu tokoh PNI,





                           276   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  277
   283   284   285   286   287   288   289   290   291   292   293