Page 289 - Perdana Menteri RI Final
P. 289

pemerintah tidak memberikan izin perayaan hari   negosiasi selanjutnya antara Indonesia dengan
 ulang tahun Republik Rakyat Tiongkok, setelah   Jepang. Di sisi lain, para penentang menganggap
 sebelumnya politisi Tiongkok juga menyerang   keterlibatan Indonesia dalam perundingan

 Sukarno dan Hatta melalu tulisannya. Puncak   tersebut  dapat  mengarah  pada  hilangnya
 eskalasi, pemerintah Indonesia dengan dukungan   netralitas Indonesia. Bagaimanapun juga, isi dari
 suara populer bahkan mengupayakan larangan   perjanjian itu adalah produk dari Amerika dan
 bepergian tanpa izin bagi representasi Tiongkok   Inggris. Terkait dengan netralitas politik luar
 di Indonesia dari otoritas berwenang.   negeri, banyak pihak mengkhawatirkan bahwa
 Indonesia akan terseret—atau paling tidak akan
 Terlepas dari persoalan dengan Tiongkok, dua
 memperoleh tekanan—untuk masuk dalam blok
 kabinet Masyumi—Sukiman dan demikian
 Amerika. Selain itu, apabila delegasi Indonesia
 halnya dengan Natsir—menempatkan kebijakan
 turut meneken perjanjian San Fransico,
 luar negeri bebas aktif dalam bentuk yang
 dikhawatirkan akan memperburuk hubungan
 pragmatis dimana kebijakan diekspresikan secara                                             Sidang Kabinet mengenai Perjanjian San Francisco
 politik regional dengan negara-negara sahabat                                               pada tanggal 4 Oktober 1951
 moderat dengan menjalankan sikap politik ‘tidak
 yang dahulunya sangat mendukung kemerdekaan
 anti-Barat’. Walaupun dalam sejarah kabinet di                                              Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 Indonesia, seperti India yang memilih tidak
 era pemerintahan Indonesia Merdeka, Sukiman
 mengirimkan wakil ke San Fransisco.
 bukanlah yang pertama dalam menjalankan
               petinggi partai yang mendukung Indonesia        besar Indonesia di Amerika, arah politik PNI
 kebijakan yang oleh sejumlah kalangan dilihat
 Menjawab tudingan bahwa Indonesia akan
 34
 sebagai ‘pro-West neutralist’,  namun menerima   mendandatangani  Perjanjian  San  Fransisco,   cenderung mudah diperkirakan sejak sebelum
 kehilangan netralitas, para supporter Perundingan
 reaksi  yang  jauh  lebih  keras  atas  kebijakan   tentu saja, adalah Sukiman dan Jusuf   pembicaraan  internal  ini  di  mulai.  Namun,
 San Fransico berargumen bahwa Indonesia tetap
 luar negerinya bila dibandingkan pada masa   Wibisono—keduanya merupakan bagian dari   keputusan musyawarah partai menunjukan
 dapat bertindak secara independen. Kelompok ini
 Natsir, yang sekaligus mengakhiri kiprah   pemerintahan.  Sedangkan  Natsir,  M.  Roem   hasil yang berlainan, sehingga secara resmi PNI
 membedakan antara ‘netral’ dan ‘independen’—                                                         36
 pemerintahannya.  dan  Sjafruddin  Prawiranegara  menjadi  kubu   mengumumkan bahwa partainya menolak.
 terma yang menekankan bahwa Indonesia bebas
               yang menentang. Setelah melakukan seri
 menentukan langkah politiknya secara dinamis,                 Perbedaan pandangan diantara kedua partai
 Masalah luar negeri Indonesia menjadi isu
               pertemuan selama dua hari di awal September,
 politik yang mulai mencuat sejak bulan Juli 1951.   yang mana dalam beberapa hal terdengar   utama pendukung pemerintah itu sempat
               kelompok Sukiman memenangkan pemungutan
 Persoalan pertama terkait dengan hal ini adalah   membenarkan sikap “pro-West neutralist”. Lebih   menimbulkan dugaan akan terjadinya perpecahan
               suara dengan jumlah 17 berbanding 14, dan 2
 rencana Indonesia untuk mengirimkan delegasi   lanjut, pihak ini juga melihat perlunya Indonesia   di kabinet yang diperkirakan merupakan akhir
                      35
               abstain.  PNI yang melakukan pembicaraan
 guna menghadiri perjanjian San Fransisco yang   mereposisi sikap politiknya dalam menghadapi   dari kabinet Sukiman. Hanya saja, persoalan ini
               beberapa hari kemudian, hanya berselang         tidak lantas membesar dan berujung pada kondisi
 merupakan perundingan perdamaian pihak   geo-politik dunia yang berubah pasca Perang
               beberapa jam sebelum naskah perjanjian          seperti yang banyak dispekulasikan. Selain faktor
 Sekutu dengan Jepang sebagai akhir dari Perang   Dunia II. Dukungan negara super-power seperti
               disahkan di San Fransisco, mengambil            jumlah partai yang menolak ratifikasi sangat
 Dunia  II,  pada  awal  minggu  kedua  di  bulan   Amerika akan berguna bagi diplomasi luar negeri
               keputusan untuk menolak keterlibatan delegasi   kecil—terdiri dari PNI yang terpecah, dan Partai
 September.   Indonesia terutama untuk menghadapi Belanda.
               Indonesia ikut meratifikasi perjanjian tersebut.   Buruh—kemampuan para  elit  poltik partai
 Kalangan yang mendukung menganggap   Perdebatan lebih lanjut juga terjadi pada tingkat   Hal  ini  cukup  mengejutkan  karena  dengan   berbeda paham tersebut yang sangat berhati-hati
 Indonesia perlu mengirimkan wakil ke   kabinet dimana dua partai utama pendukung   sejumlah  tokoh senior menjadi  pendukung   dalam mengeluarkan pernyataan ke hadapan
 perundingan  itu  karena  konswekensi  politik   Kabinet Sukiman terpecah baik secara internal   perundingan ini: Suwiryo, Sartono, dan Ali   publik cukup membantu meredam suasana.
 yang dihasilkan akan berkaitan langsung dengan   maupun di dalam kabinet. Di Masyumi, para   Sastroamidjojo yang saat itu menjabat duta   Seperti kasus yang menimpa salah satu tokoh PNI,





 276  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  277
   284   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294