Page 274 - Perdana Menteri RI Final
P. 274

Sukiman    dan    Suryopranoto,   sekaligus    Hal ini dapat dilihat dari jumlah cabang yang                           diizinkan tetap hidup, ketika partai-partai Islam   gedung Madrasah Mualimin Muhammadiyah
                           menyatakan bahwa PPPH adalah ilegal. Situasi   kemudian didirikan pada 1939 sejumlah 41                                dilarang, pada awal masa pemerintahan militer   di Yogyakarta dengan M. Natsir sebagai ketua

                           bertambah panas ketika Sukiman membalas        cabang, dan bertambah dengan cepat hanya                                Jepang hingga Oktober 1943. Dalam kurun itu    panitianya. Konggres yang dihadiri sekitar 500
                           dengan menyebut Tjokroaminoto melindungi       dalam jangka setahun menjadi 125 cabang,                                MIAI tidak hanya berada di bawah pengawasan    delegasi dari seluruh Indonesia tersebut —yang
                           orang-orang yang bersalah, yang pada akhirnya   lebih dari seratus cabang hadir pada kongres                           yang sangat ketat, bahkan kepengurusan         mengkonfirmasi besarnya antusiasme dan arti
                           membuat  para  pimpinan  PSII  mengambil       pertama PII yang diadakan di Yogyakarta pada                            organisasi ini juga ditentukan oleh Dai Nipon.   penting penyelenggaraan konggres ini mengingat
                           tindakan lebih keras dengan mengeluarkan       tahun 1940. Meskipun berperan penting dalam                             Kepengurusan  dalam  MIAI  waktu  itu  banyak   perhubungan antar wilayah Indonesia waktu itu
                           Sukiman dan Suryopranoto dari keanggotaan      PII, Sukiman tidak lagi menjabat sebagai ketua                          didominasi oleh elit islam perkotaan, mayoritas   masih sangat sulit—menghasilkan kesepakatan,
                           partai. Inilah akhir dari kiprah Sukiman dalam   yang dipegang oleh seorang aristokrat yang                            dari PSII. Hanya saja, Jepang melihat bahwa    salah satunya dan yang terpenting, untuk
                           PSII, termasuk dalam beberapa hal, akhir dari   juga anggota Volskraad, Raden Wiwoho yang                              kapasitas  para  elit  Islam  politik  seperti  mereka   menjadikan Masyumi sebagai partai politik satu-

                           hubungan keduanya dengan Agus Salim dan        dipilih karena ia tidak pernah menjadi bagian                           dalam memobilisasi massa masih kurang kuat     satunya  bagi  umat  Islam.  Keputusan  tersebut
                           Tjokroaminoto—yang  pada  sisi  lain  dengan   dari konflik sebelumnya. Dalam hal azas politik,                        bila dibanding dengan para ulama non-politik   memperoleh dukungan luas dari organisasi-
                           sangat jelas menunjukan haluan politik Sukiman.  PII memiliki banyak kesamaan prinsip dengan                           seperti kyai NU dan tokoh Muhammadiyah.
                                                                                                                                                                                                 organisasi Islam yang ada di Indonesia, kecuali
                                                                          organisasi nasionalis-sekuler lainnya yang
                                                                                                                                                                                                 Perti  di  Sumatera  Barat.  Kepengurusan
                           Tanpa  disadari  keluarnya  Sukiman  dari  PSII   sedang berusaha untuk mewujudkan Indonesa                            MIAI  dibubarkan  pada  Oktober 1943,  dan
                                                                                                                                                                                                 Masyumi terdiri dari Dewan Partai (Madjlis
                           membuatnya dapat bergerak secara lebih leluasa,   berparlemen penuh. Oleh karena itulah,                               sebagai gantinya dibentuklah Masyumi (Majlis
                                                                                                                                                                                                 Syuro) dan Pengurus Besar yang keanggotaannya
                           yang sekaligus membuka jalan baginya untuk     PII  terlibat  dalam  kampanye  GAPI  untuk                             Syuro Muslimin Indonesia), yang diharapkan
                                                                                                                                                                                                 diambil dari organisasi Islam yang ada. Dewan
                           membangun karier politik tanpa perlu berada    mewujudkan Indonesia Berparlemen menjelang                              pemerintah militer Jepang dapat menjadi alat
                                                                                                                                                                                                 Partai dipercayakan kepada KH. Hasyim Asy’ari
                           di bawah bayang-bayang para tokoh senior.      pecahnya Perang Pasifik. Dalam kesempatan                               kontrol pemerintah atas umat Islam. Selain
                                                                                                                                                                                                 yang dibantu oleh tiga ketua muda dimana salah
                           Pemecatan Sukiman dari PSII mengundang         itu, Sukiman menjadi salah satu tokoh penting                           itu, Masyumi juga diharapkan dapat turut
                                                                                                                                                                                                 satunya adalah putranya, KH. Wahid Hasyim.
                           reaksi penolakan dari para pengurus cabang yang   yang dihadirkan dalam rapat-rapat akbar untuk                        berperan dalam menggerakan umat Islam untuk
                                                                                                                                                                                                 Adapun untuk Pengurus Besar, jabatan ketua
                           berhimpun dalam Persatuan Islam Indonesia.     menyampaikan pidatonya. Salah satunya adalah                            mendukung program mereka, sehingga, di setiap
                                                                                                                                                                                                 dipegang oleh Sukiman.
                           Mereka kemudian bekerjasama dengan PSII        Kongres Rakyat Indonesia di Yogyakarta pada                             daerah di Jawa dibentuk pula cabang Masyumi.
                           Merdeka—cabang PSII Yogyakarta yang            September 1941.                                                         Komposisi kepengurusan Masyumi menunjukan
                                                                                         20
                                                                                                                                                                                                 Jenis keanggotaan dalam Masyumi terdiri dari
                           menyatakan putus hubungan dengan PSII                                                                                  bahwa  Jepang  benar-benar menyingkirkan
                                                                                                                                                                                                 anggota  perseorangan,  dan  anggota  istimewa
                                                                          Sukiman juga turut berkiprah dalam MIAI
                           Tjokroaminoto—dan      sejumlah     anggota                                                                            politisi modernis perkotaan yang sebelumnya
                                                                                                                                                                                                 yang terdiri dari organisasi-organisasi Islam.
                                                                          (Majelis Islam A’laa Indonesia)—suatu federasi
                           Muhammadiyah untuk mendukung Sukiman                                                                                   sangat dominan dalam MIAI dan menggantinya
                                                                                                                                                                                                 Dengan cara ini Masyumi dapat menampung
                                                                          bagi organisasi Muslim yang dibentuk pada
                           dalam mendirikan PARII, partai baru yang                                                                               dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU.
                                                                                                                                                                                                 sebanyak-banyaknya umat, tanpa ada yang merasa
                                                                          bulan September 1937—sebagai delegasi dari
                           bertujuan  mencapai  kemerdekaan  berdasarkan                                                                          Posisi ketua Masyumi dipercayakan kepada KH.
                                                                                                                                                                                                 tidak terwakili. Dalam konteks ini, Masyumi di
                                                                          PII.  Meskipun  tidak  dimaksudkan  sebagai
                                                        19
                           Agama Islam, yang pada 1934.  Hanya saja,                                                                              Hasyim Asy’ari yang dibantu oleh tiga ketua
                                                                          partai politik melainkan sebagai forum                                                                                 bawah kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari dan
                           PARII namun kurang dapat berkembang.                                                                                   muda dimana salah satunya adalah putranya,
                                                                          diskusi organisasi-organisasi Islam, MIAI                                                                              Sukiman hadir sebagai konvergensi kepentingan
                           Hingga pada akhir 1938, wadah politik baru                                                                             KH. Wahid Hasyim yang membuat ayahnya
                                                                          yang mendukung kampanye GAPI Indonesia                                                                                 dan kehendak umat yang terwakilkan melalui
                           dibentuk dengan nama PII (Partai Islam                                                                                 tetap dapat berada di pesantrennya di Jombang.
                                                                          Berparlemen, juga memiliki tuntutan politik                                                                            organisasi-organisasi Islam yang sejak lama telah
                           Indonesia) oleh Sukiman dan lingkarannya yang
                                                                          yang menghendaki pembentukan kabinet                                    Pasca dikeluarannya maklumat wakil presiden    mengemuka  namun  sulit  disatukan,  walaupun
                           semula menginisiasi pembentukan PARII.
                                                                          dengan komposisi duapertiga anggotanya harus                            No. X pada 3 November 1945 yang berisi         memang pada kenyataannya titik temu ini
                                                                                                             21
                           Ternyata pembentukan PII memperoleh lebih      diisi oleh wakil-wakil bergama Islam.  MIAI                             tentang anjuran pembentukan partai-partai      berangsur-angsur  memudar seiring dengan
                           banyak dukungan dari pada partai sebelumnya.   ini  kemudian  menjadi  organisasi  Islam  yang                         politik, diadakan konferensi umat Islam di     berjalannya waktu.

                           262   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  263
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279