Page 276 - Perdana Menteri RI Final
P. 276

Pada sisi lain, kehadiran Masyumi dalam        pengalaman hidup, dan pergumulan politik, di                            umat Islam yang  menjadi mayoritas penduduk    PEMBENTUKAN KABINET
                           kancah politik Indonesia masa itu—ketika       mana Sukiman yang berasal dari latar belakang                           Indonesia, Sukiman adalah tokoh dengan
                                                                                                                                                                                                 Pada April 1951, Natsir yang memimpin kabinet
                           persoalan bentuk dan dasar negara menjadi      keluarga Jawa, menempuh pendidikan modern,                              jejaring yang sangat luas. Ia memiliki kedekatan
                                                                                                                                                                                                 kerja (zaken cabinet) selama tujuh bulan lebih,
                           sedang pertentangan serius—menjadi penting     terlibat dalam perhimpunan nasionalis-sekuler,                          personal dan pernah bekerjasama dengan para
                                                                                                                                                                                                 mengembalikan mandatnya kepada presiden.
                           untuk mengartikulasikan aspirasi umat yang     kemudian  mengadopsi Islam dalam langkah                                tokoh lainnya, seperti kelompok alumni Belanda   Beberapa hari kemudian, Sukarno menunjuk
                           dapat disalurkan untuk membangun pondasi       politiknya—bahkan menjadi ketua Masyumi                                 seperti Hatta, Ahmad Subarjo, maupun Ali       Mr. Sartono untuk menjadi formatur guna
                           negara-bangsa yang baru saja merdeka.          di awal kemunculan partai ini. Remy Madinier                            Sastroamidjojo (PNI) yang pernah bekerjasama   membentuk kabinet baru. Munculnya nama
                           Dalam hal ini, kedua pimpinan Masyumi,         menambahkan, paling tidak pada kurun 1945                               dengan Sukiman saat keduanya menerbitkan       Sartono sebagai formatur tidak lepas dari usaha
                           K.H. Hasyim Asy’ari dan Sukiman termasuk       hingga 1947, hubungan interpersonal para
                                                                                                                                                  majalah ‘Djanger’.                             PNI yang berkeinginan untuk memimpin
                           kelompok yang moderat. Ketika para pemimpin    tokoh Masyumi dengan para tokoh nasional
                                                                                                                                                                                                 pemeritahan setelah sebelumnya dipegang oleh
                           bangsa mempersiapkan rancangan undang-         lainnya turut menentukan posisi mereka                                  Kiprah Sukiman bagi persiapan kemerdekaan
                                                                                                                                                                                                 Masyumi.  Dalam  hal  ini,  Sartono  merupakan
                           undang, di mana persoalan bentuk negara        ketika menghadapi ujian atas pilihan-pilihan                            Indonesia dapat dilihat dari keikutsertaannya
                                                                                                                                                                                                 tokoh PNI yang dikenal memiliki hubungan baik
                           menjadi salah satu isu paling sensitif, posisi   politik yang diambil. Dalam hal ini, Sukiman                          dalam PPKI. Nama Sukiman juga sempat           dengan Masyumi. Waktu itu, sudah lumrah jika
                           politik dan pandangan Sukiman sangat jelas.    berada dalam satu spectrum dengan Sukarno                               muncul sebagai kandidat Wakil Presiden         seorang  formatur  membentuk  susunan  kabinet
                           Sukiman yang hadir sebagai wakil Jawa Tengah   dan Tan Malaka, sedangkan pada pihak lain                               bersama dengan Hatta, Ki Hadjar Dewantara,     yang akan ia pimpin sendiri. Akan tetapi, Sartono
                                                                                                            23
                           dengan sangat yakin mendukung gagasan yang     berdiri Hatta, Natsir dan Salim.  Dalam                                 Iwa Kusuma Sumantri dan tokoh lainnya, hanya   tidak menginginkan hal yang sama, bila ia
                           menyatakan bahwa bentuk negara Indonesia       tubuh Masyumi sendiri, Sukiman adalah sosok                             saja pada bulan Oktober 1945, Sukarno memilih   berhasil membentuk kabinet maka ia akan berada
                           adalah republik, bukan kerajaan maupun negara   pengemong yang selalu terbuka untuk bekerja                            untuk mengangkat Hatta sebagai wakilnya.       di luar pemerintahan. Seperti dalam mandat
                           agama. Demikian pula, dalam kesempatan         sama dengan siapa saja, kecuali PKI tentunya,                           Dalam pemerintahan, Sukiman berkontribusi      yang diterimanya, Sartono berusaha membentuk
                           lain, ketika para pemimpin sedang bergulat     dan yang lebih mampu menjembatani perbedaan-                            melalui KNIP, menjadi anggota DPA dan          kabinet parlementer, di mana kabinet tersebut
                           untuk memposisikan kedudukan agama dalam       perbedaan dalam partai, terutama yang berporos                          DPRS-RIS, dan menjabat sebagai Menteri         memperoleh dukungan luas dari partai-partai
                           praktek bernegara, Sukiman yang memperoleh     pada perbedaan antara kalangan modernis dan                             Negara  pada  era  Hatta  I.  Ketika  Yogyakarta   dalam DPR. Oleh karenanya, formatur sangat
                           dukungan dari Wahid Hasyim menekankan          tradisionalis, maupun elit Islam perkotaan dan                          mengalami Agresi Militer, Sukiman merupakan    memperhitungkan besarnya dukungan yang

                           bahwa agama adalah elemen penting dalam        tokoh Islam pesantren.                                                  salah satu menteri yang berhasil keluar dari   akan diperoleh kabinet bentukannya dengan
                           bernegara, namun menolak usulan yang                                                                                                                                  mempertimbangkan konfigurasi politik di
                                                                                                                                                  Yogyakarta dan terlibat dalam gerilya. Sukiman
                                                                          PERDANA MENTERI                                                         juga  memiliki  pengalaman  sebagai delegasi   parlemen. Untuk itu, Sartono memulai tugasnya
                           mewajibkan presiden dan wakil Indonesia
                                                  22
                           haruslah beragama Islam.                                                                                                                                              dengan melakukan pembicaraan terhdap sejumlah
                                                                          Ketika Indonesia yang baru diproklamirkan                               dalam berbagai perundingan diantaranya adalah
                                                                                                                                                                                                 elit  partai, hanya saja usaha ini tidak berjalan
                                                                                                                                                  Linggardjati (era Sjahrir) dan Konferensi Meja
                           Pandangan-pandangan     politik    Sukiman     kemerdekaannya    memanggil    peran   serta
                                                                                                                                                                                                 baik, terutama dikarenakan perbedaan tajam dua
                                                                                                                                                  Bundar. Mundurnya Perdana Menteri Natsir—
                           yang ia tunjukan pada saat negara bangsa       seluruh  anak  bangsa,  Sukiman  tengah  berada
                                                                                                                                                                                                 partai besar yakni Masyumi dan PNI terutama
                           sedang diformulasikan di awal kemerdekaan      pada  kematangan  dalam  usianya  yang  hampir                          kolega Sukiman di Masyumi—menciptakan
                                                                                                                                                                                                 menyangkut pimpinan kabinet dan keikutsertaan
                           menunjukan secara jelas afirmasi politiknya    memasuki setengah abad. Pada usianya itu ia                             kekosongan kekuasaan yang meskipun tidak
                                                                                                                                                                                                 anggota  mereka  dalam  pemerintahan. Setelah
                           sekaligus posisi politiknya di dalam partai.   dapat menjadi penyambung antara generasi                                terlalu lama namun menimbulkan kegaduhan
                                                                                                                                                                                                 satu bulan berusaha, pada 18 April,  Sartono
                           Dalam hal ini Sukiman adalah seorang Islam-    senior seangkatan Agus Salim, dengan para                               politik yang cukup dasyat. Pada saat itu,
                                                                                                                                                                                                 mengembalikan mandatnya kepada presiden
                           Nasionalis yang tidak melihat negara sekuler   pemimpin nasional semisal Sukarno, Hatta,                               Sukiman yang memperoleh kepercayaan
                                                                                                                                                                                                 tanpa berhasil membuat susunan kabinet baru.
                           terhadap Islam, maupun bahaya dari kelompok    Amir Sjarifuddin, yang dilahirkan pada awal                             presiden sebagai formatur berhasil menyusun
                           sekuler terhadap negara dan Islam. Pendirian   abad ke-20 dan semuanya lebih muda dari                                 suatu kabinet baru yang kemudian ia pimpin     Meskipun banyak yang mencoba mentafsirkan
                           politik Sukiman ini merupakan akumulasi        Sukiman. Terlebih lagi, sebagai representasi dari                       bersama Suwiryo.                               sebab-sebab dari kegagalan Sartono untuk





                           264   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  265
   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281