Page 267 - Perdana Menteri RI Final
P. 267

Vickers, kota itu telah memiliki komposisi   Setelah menempuh kurang lebih separuh dari masa   melanjutkan pendidikan di negeri Belanda.   saja, atmosfer pergerakan di Belanda membuat
 yang tepat bagi bersemainya gagasan kesadaran   pendidikannya di STOVIA, sekolah Sukiman   Jumlah mahasiswapun meningkat tajam, terlebih   Sukiman tidak sekedar belajar soal medis, ia

 nasional. 4  nyaris terhenti. Hal ini bukan disebabkan oleh   lagi jalur yang menghubungkan Asia-Eropa telah   ternyata banyak mencurahkan waktunya juga
                                                          7
 karena aktivitas politiknya dalam perkumpulan,   pulih sepenuhnya seusai perang dunia I berakhir.    untuk aktivitas perjuangan.
 Sama seperti kakaknya, Sukiman tidak
 maupun masalah biaya sebagaimana yang lumrah   Dalam sebuah passagierslijst (daftar penumpang)
 hanya menjadikan STOVIA sebagai jalan                         Seperti halnya ketika Sukiman mulai menetap
 dialami oleh kebanyakan orang. Sukiman saat itu   yang dimuat De Indische courant pada pertengahan
 memperoleh ijazah indische art semata, Ia juga                di Batavia yang membuatnya berkiprah dalam
 tergiur dengan tawaran untuk bekerja di suatu   tahun 1923, nama Sukiman Wirjosandjojo
 menjadikan STOVIA sebagai sarana untuk                        organisasi pergerakan, saat ia memulai tinggal
 perusahaan kereta api. Tampaknya, upah sebagai   tercatat sebagai satu-satunya orang  Indonesia
 memajukan bangsa melalui organisasi yang ada.   pegawai jawatan kereta api yang terasa sangat   yang menumpang kapal uap Johan de Witt.   di Belanda, perjuangan pergerakan juga sedang
 Tanpa disadarinya, kiprahnya dalam Jong Java   besar bagi Sukiman muda sangat menggodanya,   Kapal dengan J. Albert sebagai kapten berangkat   marak di negeri penjajah itu. Hadirnya para
 menjadi  awal pembuka  bagi karirnya di  masa   sehingga keputusan penting untuk berhenti   dari Batavia pada bulan Juli menuju Amsterdam,   mahasiswa baru yang membawa hasrat besar untuk
 depan, bukan sebagai dokter melainkan politisi.   dari STOVIA nyaris ia ambil. Hanya saja niat   dengan rute pelayaran melewati Singapore,   perbaikan nasib tanah kelahirannya, ditambah

 Organisasi pertama yang diikuti Sukiman   ini tidak memperoleh restu dari Wirjosandjojo   Belawan-Deli, Sabang, Suez, Port- Said, Genua,   lagi para orang buangan yang sudah sejak dekade
                                     8
 di mana kakaknya menjadi tokoh penting di   yang menginginkan Sukiman dapat menjadi   Mesir dan Southampton.  Tidak ada lagi sumber   pertama abad keduapuluh telah berdatangan,
 dalamnya terbilang unik. Gagasan awal dari   dokter  seperti  kakaknya.  Setelah cukup lama   lain yang dapat dikonfirmasi, namun tampaknya   menambah banyak jumlah orang Indonesia
 Jong Java tidaklah berorientasi politik melainkan   bernegosiasi dengan ayahnya, juga bergulat   inilah awal keberangkatan Sukiman ke Belanda.   di negeri Belanda, yang sekaligus membuat
 untuk memajukan pendidikan, kebudayaan,   dengan keinginan pribadi dan harapan orang   Saat itu, Sukiman telah lulus dari STOVIA dan   perkumpulan-perkumpulan dengan lebih mudah
 dan kesenian. Bahkan hingga kongresnya   tua, Sukiman akhirnya mengambil keputusan   telah menikah dengan putri kelima Dr Kermat   dibentuk dan digerakkan. Tatkala Sukiman tiba
 yang ke-5, Jong Java masih bersifat apolitis.   untuk melanjutkan studinya di STOVIA. Di   bernama Kustami, seorang perempuan dengan   di Belanda,  Indonesische Vereeniging—organisasi

 Meskipun demikian, Jong Java telah menyadari   balik luluhnya hati Sukiman untuk menuruti   pribadi menarik yang ia jumpai pada acara   yang sebelumnya bernama Indische Vereneging—
                                         9
 pentingnya persatuan dalam konteks Jawa Raya   kehendak ayahnya, terdapat suatu perjanjian   kongres Jong  Java  di Bogor.  Ketika Sukiman   tengah memformulasikan arah perjuangan baru.
               melanjutkan studi ke Amsterdam, Kustami tidak
 5
 terutama sejak kongresnya yang pertama,  dan   antara keduanya. Sukiman meminta ayahnya   Pada  1923,  organisasi  ini  mulai  mengakhiri
               turut serta, ia dengan setia menunggu di tanah
 bermaksud menjadi wadah bagi para pemuda   untuk memfasilitasinya pergi ke Belanda guna   tradisi dan semangat lama yang menjadikan
               air, merawat buah hati pertama mereka bernama
 dari Sunda, Madura, dan Bali. Pernah pula   melanjutkan studinya. Di usianya yang baru   perkumpulan ini hanya sekedar ajang bersenang-
               Sakri—yang kelahirannya tidak ditunggui oleh
 dilakukan  usaha  untuk  menggabungkan  menginjak duapuluhan tahun, Sukiman telah   senang,  ke arah  yang  lebih  progresif  bahkan
               ayahnya.
 organisasi ini dengan Jong Sumatra Bond   bercita-cita besar bahwa ia tidak hanya ingin   radikal. Untuk kali pertama asas non-kooperasi
 namun tidak berhasil. Adapun pengaruh yang   menjadi dokter Jawa biasa, melainkan seorang   dan bertujuan untuk perjuangan menuju
               Di Belanda Sukiman memperdalam ilmunya
 menyebabkan organisasi ini berubah menjadi   dokter penuh yang unggul di bidangnya. Untuk   persatuan diterapkan, dan nasionalisme radikal
               untuk menjadi spesialis paru-paru, yang
 lebih politis tampaknya muncul dari tokoh SI   itu, ia berniat meneruskan studinya di Fakultas   perhimpunan bangsa sawo matang mengemuka
               banyak menjangkit penduduk pribumi sejak
 dari Sumatra, K.H. Agus Salim, hanya saja   Kedokteran Universitas Amsterdam.  di Belanda. Melalui Majalah  Hindia  Poetra—
               lama, dan masih minim penanganan karena
 ketika itu Sukiman sudah tidak lagi terlibat   kurangnya dokter pribumi yang ahli penyakit   organ penerbitan milik perhimpunan—gagasan-
 NEGERI BELANDA DAN PERHIMPUNAN
 secara langsung dalam perkumpulan. Oleh   paru-paru. Dikarenakan penyakit ini tidak   gagasan radikal yang menuntut kemerdekaan
 INDONESIA
 karena pengaruh K.H. Agus Salim, banyak   menjadi wabah yang besar dan mematikan—  disuarakan. Setahun kemudian,  Hindia  Putra
 anggota perkumpulan yang kemudian ikut aktif   Memasuki paruh kedua abad ke-20, terobosan   berbeda dengan penyakit Pes atau Sampar;   mengubah namanya menjadi Indonesia Merdeka
 6
 dalam Jong Islamineten Bond (JIB).  Nantinya,   penting dalam bidang pendidikan terjadi, berupa   Kolera  maupun  Malaria—pemerintah  yang lebih tegas dalam menyampaikan ide-ide
 tokoh  ini  akan  cukup  banyak  terlibat  dalam   kemudahan yang diberikan kepada para lulusan   kolonial baru melakukan usaha serius untuk   keras melaui artikel yang umumnya sengaja
 kisah hidup Sukiman.  STOVIA dan Rechtsschool di Hindia untuk   menanggulanginya pada sekitar 1917. Hanya   dibuat anonim.





 254  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  255
   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272