Page 266 - Perdana Menteri RI Final
P. 266

Vickers, kota itu telah memiliki komposisi     Setelah menempuh kurang lebih separuh dari masa                         melanjutkan pendidikan di negeri Belanda.      saja, atmosfer pergerakan di Belanda membuat
                           yang tepat bagi bersemainya gagasan kesadaran   pendidikannya di STOVIA, sekolah Sukiman                               Jumlah mahasiswapun meningkat tajam, terlebih   Sukiman tidak sekedar belajar soal medis, ia

                           nasional. 4                                    nyaris terhenti. Hal ini bukan disebabkan oleh                          lagi jalur yang menghubungkan Asia-Eropa telah   ternyata banyak mencurahkan waktunya juga
                                                                                                                                                                                            7
                                                                          karena aktivitas politiknya dalam perkumpulan,                          pulih sepenuhnya seusai perang dunia I berakhir.    untuk aktivitas perjuangan.
                           Sama seperti kakaknya, Sukiman tidak
                                                                          maupun masalah biaya sebagaimana yang lumrah                            Dalam sebuah passagierslijst (daftar penumpang)
                           hanya menjadikan STOVIA sebagai jalan                                                                                                                                 Seperti halnya ketika Sukiman mulai menetap
                                                                          dialami oleh kebanyakan orang. Sukiman saat itu                         yang dimuat De Indische courant pada pertengahan
                           memperoleh ijazah indische art semata, Ia juga                                                                                                                        di Batavia yang membuatnya berkiprah dalam
                                                                          tergiur dengan tawaran untuk bekerja di suatu                           tahun 1923, nama Sukiman Wirjosandjojo
                           menjadikan STOVIA sebagai sarana untuk                                                                                                                                organisasi pergerakan, saat ia memulai tinggal
                                                                          perusahaan kereta api. Tampaknya, upah sebagai                          tercatat sebagai satu-satunya orang  Indonesia
                           memajukan bangsa melalui organisasi yang ada.   pegawai jawatan kereta api yang terasa sangat                          yang menumpang kapal uap Johan de Witt.        di Belanda, perjuangan pergerakan juga sedang
                           Tanpa disadarinya, kiprahnya dalam Jong Java   besar bagi Sukiman muda sangat menggodanya,                             Kapal dengan J. Albert sebagai kapten berangkat   marak di negeri penjajah itu. Hadirnya para
                           menjadi  awal pembuka  bagi karirnya di  masa   sehingga keputusan penting untuk berhenti                              dari Batavia pada bulan Juli menuju Amsterdam,   mahasiswa baru yang membawa hasrat besar untuk
                           depan, bukan sebagai dokter melainkan politisi.   dari STOVIA nyaris ia ambil. Hanya saja niat                         dengan rute pelayaran melewati Singapore,      perbaikan nasib tanah kelahirannya, ditambah

                           Organisasi pertama yang diikuti Sukiman        ini tidak memperoleh restu dari Wirjosandjojo                           Belawan-Deli, Sabang, Suez, Port- Said, Genua,   lagi para orang buangan yang sudah sejak dekade
                                                                                                                                                                        8
                           di mana kakaknya menjadi tokoh penting di      yang menginginkan Sukiman dapat menjadi                                 Mesir dan Southampton.  Tidak ada lagi sumber   pertama abad keduapuluh telah berdatangan,
                           dalamnya terbilang unik. Gagasan awal dari     dokter  seperti  kakaknya.  Setelah cukup lama                          lain yang dapat dikonfirmasi, namun tampaknya   menambah banyak jumlah orang Indonesia
                           Jong Java tidaklah berorientasi politik melainkan   bernegosiasi dengan ayahnya, juga bergulat                         inilah awal keberangkatan Sukiman ke Belanda.   di negeri Belanda, yang sekaligus membuat
                           untuk memajukan pendidikan, kebudayaan,        dengan keinginan pribadi dan harapan orang                              Saat itu, Sukiman telah lulus dari STOVIA dan   perkumpulan-perkumpulan dengan lebih mudah
                           dan kesenian. Bahkan hingga kongresnya         tua, Sukiman akhirnya mengambil keputusan                               telah menikah dengan putri kelima Dr Kermat    dibentuk dan digerakkan. Tatkala Sukiman tiba
                           yang ke-5, Jong Java masih bersifat apolitis.   untuk melanjutkan studinya di STOVIA. Di                               bernama Kustami, seorang perempuan dengan      di Belanda,  Indonesische Vereeniging—organisasi

                           Meskipun demikian, Jong Java telah menyadari   balik luluhnya hati Sukiman untuk menuruti                              pribadi menarik yang ia jumpai pada acara      yang sebelumnya bernama Indische Vereneging—
                                                                                                                                                                            9
                           pentingnya persatuan dalam konteks Jawa Raya   kehendak ayahnya, terdapat suatu perjanjian                             kongres Jong  Java  di Bogor.  Ketika Sukiman   tengah memformulasikan arah perjuangan baru.
                                                                                                                                                  melanjutkan studi ke Amsterdam, Kustami tidak
                                                                 5
                           terutama sejak kongresnya yang pertama,  dan   antara keduanya. Sukiman meminta ayahnya                                                                               Pada  1923,  organisasi  ini  mulai  mengakhiri
                                                                                                                                                  turut serta, ia dengan setia menunggu di tanah
                           bermaksud menjadi wadah bagi para pemuda       untuk memfasilitasinya pergi ke Belanda guna                                                                           tradisi dan semangat lama yang menjadikan
                                                                                                                                                  air, merawat buah hati pertama mereka bernama
                           dari Sunda, Madura, dan Bali. Pernah pula      melanjutkan studinya. Di usianya yang baru                                                                             perkumpulan ini hanya sekedar ajang bersenang-
                                                                                                                                                  Sakri—yang kelahirannya tidak ditunggui oleh
                           dilakukan  usaha   untuk    menggabungkan      menginjak duapuluhan tahun, Sukiman telah                                                                              senang,  ke arah  yang  lebih  progresif  bahkan
                                                                                                                                                  ayahnya.
                           organisasi ini dengan Jong Sumatra Bond        bercita-cita besar bahwa ia tidak hanya ingin                                                                          radikal. Untuk kali pertama asas non-kooperasi
                           namun tidak berhasil. Adapun pengaruh yang     menjadi dokter Jawa biasa, melainkan seorang                                                                           dan bertujuan untuk perjuangan menuju
                                                                                                                                                  Di Belanda Sukiman memperdalam ilmunya
                           menyebabkan organisasi ini berubah menjadi     dokter penuh yang unggul di bidangnya. Untuk                                                                           persatuan diterapkan, dan nasionalisme radikal
                                                                                                                                                  untuk menjadi spesialis paru-paru, yang
                           lebih politis tampaknya muncul dari tokoh SI   itu, ia berniat meneruskan studinya di Fakultas                                                                        perhimpunan bangsa sawo matang mengemuka
                                                                                                                                                  banyak menjangkit penduduk pribumi sejak
                           dari Sumatra, K.H. Agus Salim, hanya saja      Kedokteran Universitas Amsterdam.                                                                                      di Belanda. Melalui Majalah  Hindia  Poetra—
                                                                                                                                                  lama, dan masih minim penanganan karena
                           ketika itu Sukiman sudah tidak lagi terlibat                                                                           kurangnya dokter pribumi yang ahli penyakit    organ penerbitan milik perhimpunan—gagasan-
                                                                          NEGERI BELANDA DAN PERHIMPUNAN
                           secara langsung dalam perkumpulan. Oleh                                                                                paru-paru. Dikarenakan penyakit ini tidak      gagasan radikal yang menuntut kemerdekaan
                                                                          INDONESIA
                           karena pengaruh K.H. Agus Salim, banyak                                                                                menjadi wabah yang besar dan mematikan—        disuarakan. Setahun kemudian,  Hindia  Putra
                           anggota perkumpulan yang kemudian ikut aktif   Memasuki paruh kedua abad ke-20, terobosan                              berbeda dengan penyakit Pes atau Sampar;       mengubah namanya menjadi Indonesia Merdeka
                                                           6
                           dalam Jong Islamineten Bond (JIB).  Nantinya,   penting dalam bidang pendidikan terjadi, berupa                        Kolera    maupun      Malaria—pemerintah       yang lebih tegas dalam menyampaikan ide-ide
                           tokoh  ini  akan  cukup  banyak  terlibat  dalam   kemudahan yang diberikan kepada para lulusan                        kolonial baru melakukan usaha serius untuk     keras melaui artikel yang umumnya sengaja
                           kisah hidup Sukiman.                           STOVIA dan Rechtsschool di Hindia untuk                                 menanggulanginya pada sekitar 1917. Hanya      dibuat anonim.





                           254   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  255
   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271