Page 93 - BKSN 2021 (1)
P. 93

kekayaan adalah godaan paling  berat  bagi  Gereja  maupun  masyarakat
            secara keseluruhan. Semuanya itu membuat orang terjebak dalam men-
            talitas “sudah tercukupi”  (self-sufficient) karena harta, sehingga Tuhan
            bisa saja bukan lagi prioritas dalam hidupnya. Orang juga dapat terjatuh
            dalam mentalitas egoistis dan materialistis. Lebih buruk lagi, keserakah-
            an akan harta dapat melumpuhkan hidup rohaninya.
                    Dalam arti tertentu, pandemi telah menyadarkan kita untuk ti-
            dak lagi membanggakan harta dan kekayaan. Apakah pandemi ini meru-
            pakan cara ilahi untuk mempertobatkan kita dari kelekatan terhadap ma-
            teri? Apakah pandemi ini adalah cara alternatif negatif dari Tuhan untuk
            memaksa orang berpaling kepada-Nya? Tidak ada jawaban pasti akan hal
            itu. Namun, sekurang-kurangnya dengan pandemi ini, kita diajar Tuhan
            untuk  menjadi  lebih  rendah  hati  dan  berserah  kepada-Nya.  Pandemi
            telah menempatkan kembali posisi Tuhan sebagai prioritas utama dalam
            hidup kita. Hidup rohani yang mungkin selama ini telah dikaburkan oleh
            harta dan kekayaan kembali memperoleh kesegarannya.
                    Peringatan kepada jemaat Laodikia untuk menjauhkan diri dari
            mentalitas suam-suam kuku juga bergema untuk kita sekarang ini. Kon-
            disi yang tidak memungkinkan untuk pergi ke gereja, bisa saja membuat
            semangat sebagian umat dalam menjalani hidup rohani semakin luntur.
            Penyebabnya, gedung dan perayaan di gereja, yang mungkin telah men-
            jadi satu-satunya sarana untuk membangun dan mengembangkan hidup
            rohani umat, tidak befungsi dan berperan penting sebagaimana mesti-
            nya. Sekali lagi, fakta ini justru dapat menjadi kesempatan dan tantangan
            bagaimana kita menciptakan alternatif baru agar identitas kita sebagai
            murid Kristus tetap terpelihara.
                    Menciptakan suatu alternatif baru dalam beribadah merupakan
            reaksi positif ketika kita mendengar Tuhan “mengetuk” pintu hati kita.
            Alternatif cara beribadah yang baru ini kiranya dapat menjamin kita ke
            depan agar terus dapat mendengar Tuhan yang selalu mengetuk setiap
            hari dan mengajak kita bertobat. Berkaitan dengan hal ini, kita dapat be-
            lajar dari pengalaman bangsa Israel dan jemaat Kristen perdana di masa
            lampau.
                    Setelah kerajaan Yehuda diruntuhkan oleh kerajaan Babel (586
            SM) dan Bait Allah di Yerusalem hancur, orang Yehuda di pembuangan
            Babel mencari alternatif baru agar tetap dapat beribadah kepada Tuhan
            ketika tidak ada lagi Bait Allah. Mereka kemudian menciptakan sistem
            peribadatan baru yang berpusat pada sabda Allah, dan bukan pada kur-

                                                     Pertemuan Keempat   91
   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98