Page 157 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 157
“Bapak jalan lurus, nanti ada belokan ke kanan. Ada
sebuah rumah dicat hijau muda, Nah, Itu rumah Bu Ratna,”
jelas salah seorang di kedai itu.
‘Terima kasih, Pak. Permisi,” jawab Mardi izin sambil
masuk ke mobil.
Mardi membuka pintu pagar rumah yang berwarna hijau
itu. Rumah asri yang tertata rapi. Dengan ketukan ragu‐ragu
di pintu depan, Mardi berdiri gugup menunggu tuan rumah
membukakan pintu untuknya.
“Cari siapa, ya?” Seorang perempuan berhijab menyapa
Mardi.
“Eh, nggak. Assalamualaikum. Selamat sore, Bu,” jawab
Mardi gagap.
Dia menatap perempuan itu dan mencoba mengingat
tentang Ratna. Mardi jadi yakin setelah melihat tahi lalat di
wajah adiknya.
“Waalaikumsalam. Sore, Pak. Maaf, Bapak cari siapa?”
sapa perempuan itu sopan.
“Ratna. Ya, Ratna, Ibu Ratna,” jawab Mardi semakin
salah tingkah.
“Ya, saya sendiri. Ada keperluan apa Bapak menemui
saya?” tanya Ratna.
“Saya Mardi,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Kedua kakak adik itu berjabat tangan. Setelah
dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu, Mardi bercerita
panjang lebar tentang dirinya. Ratna menghambur ke
pangkuan Mardi. Setelah itu, Ratna menarik tangan kakaknya
itu ke sebuah kamar. Di sana ibu mereka terbaring lemah dan
sakit‐sakitan.
“Mardi pulang, Bu,” ujar Mardi terisak di pelukan ibunya.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 145

